LEBIH dari 30 mahasiswa dan komunitas lingkungan ikut pelatihan analisis mikroplastik di Universitas Jember (UNEJ). Peserta belajar cara mendeteksi partikel plastik dalam air hujan, termasuk sampel dari Sumbersari, Koncer, dan Badean, serta air galon isi ulang.
Hasil uji mengejutkan, air hujan di Bondowoso dan Jember mengandung puluhan partikel mikroplastik per liter. Fiber mendominasi, sementara fragmen dan filamen ikut terdeteksi. Temuan ini jadi bukti bahwa mikroplastik kini masuk ke siklus hidrologi lokal.
#Pelatihan Uji Mikroplastik, Mahasiswa dan Komunitas Lingkungan

UKM Mahasiswa Pecinta Alam Semesta (MAPENSA) Universitas Jember menyelenggarakan pelatihan analisis mikroplastik dengan tema “Uji Lapang Kontaminasi Mikroplastik Pada Air Hujan Kabupaten Jember”. Lebih dari 30 mahasiswa dan komunitas lingkungan dari Jember dan Bondowoso ikut serta.
Ketua Mapensa Fakultas Pertanian Universitas Jember, Adian Fahresi, menjelaskan, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa dan komunitas dalam menguji mikroplastik. “Saat ini isu mikroplastik sedang ramai diperbincangkan media nasional, jadi penting bagi kami untuk memberi bekal pengetahuan dan teknik analisis yang benar, ” kata Adian, Senin (17/11/2025).
Peserta dibekali pengetahuan mengenai jenis mikroplastik, dampak kesehatan, dan cara analisis laboratorium.
Pelatihan yang digelar di Hall P. S. Agribisnis Fakultas Pertanian dengan menghadirkan pelatih dari Founder Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON), Prigi Arisandi.
Dalam pelatihan, Prigi menjelaskan, mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran di bawah 5 mm. Ada lima jenis utama, yaitu fiber, fragmen, filamen, granula, dan foam. “Mikroplastik ini berasal dari pecahan botol, kresek, gelas, popok, dan plastik sekali pakai. Partikel ini bisa masuk ke lingkungan dan tubuh manusia jika tidak dikelola dengan baik, ” jelas Prigi.
#Air Hujan Jember dan Bondowoso Tercemar Mikroplastik

Dalam pelatihan ini peserta membawa sampel air hujan dari berbagai wilayah. Siswa dari SMPN 3 Bondowoso yang merupakan komunitas di lingkungan, membawa air dari wilayah Koncer dan Badean. Sementara Mapensa Unej sendiri membawa sampel air hujan dari kawasan Sumbersari.
Dari sampel air hujan yang dibawa masing-masing peserta, menghasilkan uji mikroplastik menunjukkan terkontaminasi mikroplastik cukup signifikan.
Dari Badean, Bondowoso: 52 partikel/liter (50 fiber, 2 fragmen), Sumbersari, Jember: 48 partikel/liter (semua fiber), Koncer, Bondowoso: 34 partikel/liter (semua fiber), serta Air galon isi ulang: 5 partikel/liter (3 fiber, 2 filamen)
“Hasil ini membuktikan bahwa mikroplastik telah masuk ke siklus hidrologi lokal,” ungkap Prigi. Temuan ini menunjukkan partikel plastik tidak hanya ada di sungai atau laut, tetapi juga di udara dan presipitasi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Keterangan:
-
PM = Partikel Mikroplastik
-
Fiber = Serat plastik
-
Fragmen = Potongan plastik kecil
-
Filamen = Benang plastik tipis
#Ancaman Mikroplastik, Perlunya Kebijakan dan Riset Lanjutan
Sementara itu, Alaika Rahmatullah dari Divisi Kampanye dan Edukasi ECOTON menambahkan, keberadaan mikroplastik di air hujan menunjukkan kontaminasi plastik yang kompleks dan menyebar melalui atmospheric fallout. Sumbernya bisa dari pembakaran sampah, emisi industri, dan degradasi plastik di lingkungan.
“Pengujian ini masih tahap awal. Perlu riset lebih mendalam yang melibatkan perguruan tinggi dan pemerintah daerah untuk analisis sumber, karakterisasi polimer, dan penilaian risiko terhadap ekosistem dan kesehatan manusia,” jelasnya.
Alaika juga menekankan, perlunya intervensi cepat berbasis data, seperti pelarangan pembakaran sampah plastik, pembatasan plastik sekali pakai, integrasi pemantauan mikroplastik di program lingkungan daerah,
“Dari semua itu perlu kolaborasi riset lintas institusi. Tanpa itu dan respons serius dari berbagai pihak, mikroplastik bisa memperburuk kualitas lingkungan, mengganggu pertanian, dan meningkatkan paparan risiko kesehatan masyarakat Jember dan Bondowoso, “ ungkapnya.***