Ratusan pohon buah ditanam di bantaran Kali Surabaya, menyatukan perusahaan, desa, dan sekolah dalam upaya memulihkan ekosistem sungai yang tertekan.
Bantaran Kali Surabaya di wilayah Kabupaten Gresik tampak lebih ramai dari biasanya dalam dua bulan ini. Sejumlah warga desa, pelajar, dan mahasiswa, serta perwakilan perusahaan berkumpul sambil memegang cangkul dan bibit pohon.

Mereka tidak sekadar menanam tanaman, tetapi juga menanam harapan baru bagi sungai yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan sekaligus saksi tekanan lingkungan.
Petrokimia Gresik, melalui program JAPRI (Jaga Pohon Rawat Indonesia), bekerjasama dengan Ecological Conservation and Wetlands Observationa (Ecoton) menginisiasi penanaman pohon di sepanjang bantaran Kali Surabaya.
Program ini menjangkau enam desa, yakni Driyorejo, Krikilan, Cangkir, Bambe, Lebaniwaras, dan Wringinanom. Total 710 bibit pohon buah ditanam, terdiri dari mangga, sukun, nangka, dan jambu.
Pemilihan jenis pohon tidak dilakukan secara acak. Pohon buah dinilai memiliki fungsi ganda: memperkuat struktur tanah bantaran sungai sekaligus memberi manfaat ekonomi dan pangan bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Dengan pendekatan ini, pemulihan lingkungan diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga.
Kali Surabaya sendiri selama bertahun-tahun menghadapi tekanan berat. Aktivitas permukiman, alih fungsi lahan, hingga pencemaran membuat kawasan bantaran kehilangan vegetasi alaminya. Kondisi ini meningkatkan risiko erosi, menurunkan kualitas air, dan mengurangi daya dukung ekosistem sungai.

#Menjaga Sungai Lewat Gerakan Bersama
Penanaman pohon di kawasan riparian menjadi salah satu langkah penting untuk memulihkan fungsi alami sungai. Akar pohon membantu menahan tanah, menyaring limpasan air, serta menciptakan mikrohabitat bagi berbagai makhluk hidup.
Namun, upaya ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar tidak berhenti pada kegiatan simbolik semata.
Distribusi bibit dalam program JAPRI dilakukan secara bertahap sesuai kondisi desa. Desa Cangkir, Bambe, Krikilan, dan Driyorejo masing-masing menerima 100 bibit pohon. Desa Lebaniwaras mendapatkan 35 bibit, sementara Desa Wringinanom turut menjadi lokasi penanaman dengan penyesuaian kebutuhan lahan.
Lebih dari sekadar menanam, warga desa diajak untuk ikut merawat dan menjaga pohon yang telah ditanam. Program ini dirancang agar masyarakat memiliki rasa kepemilikan terhadap bantaran sungai di wilayahnya masing-masing.
Edwyk Sony Udaebi dari Divisi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Petrokimia Gresik mengatakan, JAPRI merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan lingkungan di sekitar wilayah operasional.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan harapan baru bagi bantaran Kali Surabaya. Penanaman pohon bukan hanya soal jumlah bibit, tetapi tentang membangun kesadaran kolektif untuk merawat sungai sebagai sumber kehidupan,” ujar Edwyk.
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program. Tanpa perawatan bersama, pohon-pohon yang ditanam tidak akan mampu memberikan manfaat optimal bagi lingkungan maupun warga.
#Dari Sekolah ke Bantaran Sungai
Suara tawa dan obrolan pelajar terdengar di antara barisan pohon muda yang baru ditanam. Dalam program ini, Petrokimia Gresik juga melibatkan tiga sekolah, yakni SMP Negeri 33 Gresik, SMA Negeri 1 Driyorejo, dan SMK Negeri 1 Driyorejo. Sebanyak 55 pihak dari institusi pendidikan berperan sebagai mitra kegiatan.
Bagi para pelajar, kegiatan ini menjadi ruang belajar di luar kelas. Mereka tidak hanya menerima materi tentang lingkungan, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung.

Menanam pohon di bantaran sungai memberi pengalaman nyata tentang pentingnya menjaga alam dan dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem.
Direktur ECOTON, Dr. Daru Setyorini, turut mendampingi jalannya kegiatan. Ia menilai kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan sekolah merupakan model yang efektif dalam upaya pemulihan sungai.
Menurut Daru, bantaran sungai yang ditanami vegetasi beragam akan berfungsi sebagai penyangga alami. Vegetasi ini mampu menyaring limpasan air sebelum masuk ke sungai, menurunkan suhu mikro di sekitar bantaran, serta menyediakan habitat bagi serangga, burung, dan organisme lain.
“Pemulihan sungai tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Perlu gerakan bersama dan konsistensi agar hasilnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” kata Daru.
Warga desa yang terlibat menyambut baik kegiatan tersebut. Selain memperbaiki kualitas lingkungan, pohon buah yang ditanam membuka peluang manfaat ekonomi di masa depan. Jika dirawat dengan baik, hasil panen dapat dimanfaatkan bersama atau menjadi sumber tambahan bagi warga.***
Ke depan, Petrokimia Gresik menyatakan akan terus memantau perkembangan pohon-pohon yang telah ditanam. Perusahaan juga membuka peluang kolaborasi lanjutan dengan pemerintah desa dan komunitas lokal agar upaya pemulihan bantaran Kali Surabaya dapat berjalan berkelanjutan.
Di bantaran sungai itu, bibit-bibit muda kini berdiri sebagai simbol harapan. Harapan bahwa sungai dapat kembali pulih, dan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa tumbuh dari kerja bersama, setahap demi setahap.***