Bangunan bekas sekolah menyimpan sejarah panjang pendidikan Surabaya. Koleksi sederhana membuka cerita ketimpangan, perubahan, dan perjuangan akses belajar lintas generasi hingga hari ini.
Suasana halaman Museum Pendidikan Surabaya di Jalan Genteng Kali itu tampak tenang, seolah terlepas dari ritme cepat Surabaya. Bangunan bergaya kolonial berdiri tanpa banyak gangguan suara kendaraan. Langkah kaki yang masuk ke area museum terasa melambat, seperti diajak menyesuaikan diri dengan waktu yang berbeda.
Bangunan yang dahulu merupakan bagian dari jaringan sekolah Taman Siswa, gerakan pendidikan yang dirintis Ki Hajar Dewantara ini. Fungsi ruang sudah mulai berubah, dari tempat belajar menjadi tempat menyimpan ingatan tentang belajar.
Jejak masa lalu masih terjaga melalui struktur ruang yang tidak banyak diubah. Dinding, jendela, dan susunan kelas menghadirkan nuansa lama yang tetap terasa. Koleksi yang tersimpan berjumlah ratusan, terdiri dari bangku kayu, buku pelajaran lama, hingga foto-foto generasi terdahulu.
Tidak ada teknologi interaktif yang mencolok. Benda-benda sederhana justru menjadi pusat perhatian. Setiap objek menghadirkan narasi yang mengendap, menunggu dibaca oleh pengunjung.
Bella, warga Kota Surabaya yang berkunjung, berdiri cukup lama di salah satu ruang pamer.
“Awalnya saya kira hanya melihat barang lama,” katanya. “Setelah berkeliling, rasanya seperti masuk ke kehidupan orang-orang pada masa itu, ” katanya melanjutkan, berkunjung ke museum itu mengaku hanya sekadar ingin tahu.
Bangku kayu yang terlihat biasa menjadi titik perhatian. Permukaan yang sudah aus menyimpan tanda penggunaan bertahun-tahun. “Dari bangku itu saja sudah terasa bagaimana suasana belajar dulu,” ujar Bella.
Perubahan fungsi bangunan menghadirkan lapisan makna. Ruang yang dulu pernah dipenuhi suara pelajaran kini menyimpan jejak perjalanan pendidikan yang tidak selalu mudah.

#Empat Zaman, Satu Perjalanan Panjang
Museum membagi perjalanan pendidikan ke dalam empat periode, yaitu pra-aksara, klasik, kolonial, dan kemerdekaan. Setiap periode disusun sebagai rangkaian yang saling terhubung, memperlihatkan perkembangan cara manusia memahami dan menyampaikan pengetahuan.
Masa pra-aksara menghadirkan gambaran ketika tulisan belum dikenal. Pengetahuan berpindah melalui lisan, melalui cerita, serta praktik kehidupan sehari-hari. Belajar berarti hidup bersama pengalaman.
Memasuki masa klasik, pendidikan mulai terhubung dengan kekuasaan dan agama. Kerajaan dan lembaga keagamaan menjadi pusat pembelajaran. Akses tetap terbatas, hanya menjangkau kelompok tertentu.
Perubahan signifikan muncul pada masa kolonial. Sistem pendidikan mulai terstruktur dengan kurikulum, ruang kelas, dan metode pengajaran yang lebih formal. Keteraturan tersebut tidak berjalan beriringan dengan keadilan.
Replika ruang kelas era Hindia Belanda memperlihatkan suasana yang kaku. Bangku disusun berderet, papan tulis berdiri di depan, tanpa ruang banyak untuk interaksi. Atmosfer tersebut menggambarkan pendekatan pendidikan yang disiplin sekaligus membatasi.
“Terasa sekali ada jarak,” kata Bella. “Bukan hanya antara guru dan murid, tapi juga antara siapa yang boleh sekolah dan siapa yang tidak.”
Pendidikan pada masa tersebut dipisahkan berdasarkan kelas sosial. Sekolah untuk orang Eropa memiliki fasilitas lebih baik, sementara masyarakat pribumi menghadapi keterbatasan akses. Perbedaan itu terlihat jelas melalui koleksi yang dipamerkan.
“Melihat langsung perbedaannya membuat saya sadar bahwa sekolah dulu adalah privilese,” ujar Bella.
Bagi banyak orang pada masa itu, pendidikan bukan hanya soal belajar membaca dan menulis. Kesempatan untuk masuk sekolah sendiri sudah menjadi hal yang sulit diperoleh.

#Dari Keterbatasan Menuju Akses Lebih Luas
Periode kemerdekaan menjadi titik perubahan yang penting. Pendidikan mulai diarahkan untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Bahasa Indonesia digunakan dalam buku pelajaran, menggantikan dominasi bahasa asing.
Koleksi pada periode ini menunjukkan perubahan yang lebih inklusif. Buku pelajaran dicetak dalam jumlah lebih besar, seragam sekolah menjadi lebih umum, dan suasana belajar tampak lebih terbuka.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelTransformasi tersebut tidak terjadi dalam satu waktu. Proses berjalan perlahan, mengikuti dinamika sosial yang terus berubah. Pendidikan mulai dipandang sebagai kebutuhan masyarakat, bukan lagi milik kelompok tertentu.
“Setelah melihat bagian ini, terasa sekali perubahan cara pandang terhadap pendidikan,” kata Bella. “Sekolah mulai menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.”
Perbandingan antarperiode memberikan perspektif yang tajam. Bangku kayu sederhana berdampingan dengan buku pelajaran yang lebih modern. Perbedaan tersebut memperlihatkan bagaimana sistem pendidikan berkembang seiring waktu.
Fasilitas belajar saat ini terlihat jauh lebih lengkap. Teknologi hadir dalam ruang kelas, metode pengajaran lebih variatif. Perjalanan panjang menuju kondisi tersebut terekam melalui koleksi yang ada.
“Kalau dibandingkan sekarang, perbedaannya jauh sekali,” ujar Bella. “Justru dari situ terlihat bagaimana kuatnya keinginan belajar pada masa lalu.”
Keberadaan museum menghadirkan ruang refleksi yang jarang ditemukan. Keheningan menjadi bagian penting dari pengalaman berkunjung. Tidak ada distraksi berlebihan, hanya rangkaian cerita yang tersusun dalam benda-benda sederhana.
Pengunjung tidak hanya melihat sejarah sebagai peristiwa besar. Fokus diarahkan pada hal-hal kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: bangku, buku, ruang kelas.
“Kadang kita merasa sekolah itu biasa saja,” kata Bella. “Setelah melihat ini, rasanya seperti diingatkan bahwa dulu tidak semua orang punya kesempatan yang sama.”
Museum tersebut menghadirkan pengalaman yang personal. Setiap pengunjung membawa interpretasi masing-masing, tergantung pada pengalaman hidup yang dimiliki.
Perjalanan pendidikan yang ditampilkan menunjukkan bahwa perubahan selalu melalui proses panjang. Tidak ada fase yang berdiri sendiri. Setiap periode saling berkaitan dan membentuk kondisi yang ada saat ini.
Kesadaran terhadap sejarah pendidikan menjadi penting dalam melihat masa depan. Pemahaman terhadap keterbatasan di masa lalu dapat menjadi dasar untuk menjaga akses yang lebih adil.
Langkah keluar dari museum terasa berbeda dibanding saat masuk. Ada jeda yang tertinggal, seolah membawa potongan cerita yang tidak sepenuhnya selesai.
“Rasanya jadi lebih menghargai kesempatan belajar,” ujar Bella. “Ada banyak perjuangan sebelum sampai ke kondisi sekarang.”
Bangunan tua tersebut tetap berdiri di tengah kota yang terus bergerak. Perubahan terus berlangsung di luar, sementara di dalam, waktu seperti disimpan dalam bentuk yang lebih tenang.
Jejak pendidikan tersusun rapi, menunggu untuk terus dibaca ulang oleh generasi berikutnya.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.