Lewati ke konten

Menjaga Denyut Sejarah: Pesona Sepeda Onthel di Jantung Kota Surabaya

| 5 menit baca |Rekreatif | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis:  Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Komunitas sepeda lawas Surabaya rutin meramaikan Car Free Day di Jalan Darmo. Onthel tua yang mereka kayuh menjadi pengingat sejarah transportasi kota.

Kawasan Taman Bungkul, Surabaya, minggu pagi selalu memiliki suasana yang berbeda dari hari-hari biasa. Jalan Raya Darmo yang biasanya dipadati kendaraan bermotor berubah menjadi ruang publik bagi warga untuk berolahraga dan bersantai.

Sejak diberlakukannya program Car Free Day (CFD), kawasan itu menjadi salah satu titik berkumpul masyarakat untuk menikmati udara pagi tanpa hiruk-pikuk kendaraan.

Sejak pukul enam pagi, berbagai aktivitas mulai terlihat. Warga berjalan santai bersama keluarga, pelari menyusuri trotoar, sementara pesepeda memanfaatkan jalur jalan yang terbuka luas. Berbagai komunitas juga ikut meramaikan suasana, mulai dari komunitas lari, yoga, hingga pesepeda modern dengan sepeda lipat dan sepeda balap.

Kendati di tengah keramaian itu, sesekali terlihat pemandangan yang berbeda. Beberapa pesepeda melintas dengan sepeda tua yang bentuknya mencolok dibanding sepeda masa kini. Rangka besinya besar dan kokoh, dengan cat yang mulai pudar dimakan usia.

Lampu bulat di bagian depan, bel logam yang khas, serta stang melengkung menjadi ciri sepeda onthel yang mereka gunakan. Sepeda-sepeda itu dikayuh dengan ritme pelan menyusuri Jalan Darmo, seolah mengikuti irama santai pagi di Surabaya.

Kehadiran sepeda klasik tersebut kerap menarik perhatian pengunjung CFD. Beberapa orang berhenti sejenak untuk melihat lebih dekat atau mengambil foto menggunakan ponsel. Tidak sedikit pula yang tersenyum ketika melihatnya, seolah teringat pada masa lalu ketika sepeda menjadi alat transportasi utama.

Bagi sebagian warga, sepeda-sepeda tersebut menghadirkan nostalgia tentang kehidupan kota pada puluhan tahun silam.

#Komunitas Pecinta Sepeda Lawas

Sepeda-sepeda klasik itu dikayuh anggota komunitas pecinta sepeda lawas di Surabaya. Mereka terdiri dari para penggemar sepeda tua yang memiliki ketertarikan pada sepeda onthel dari berbagai era.

Tidak semua anggota berasal dari satu paguyuban yang sama. Menariknya mereka sering bertemu dan bersepeda bersama setiap Minggu pagi di kawasan Car Free Day Surabaya.

Bagi para anggota komunitas ini, sepeda tua bukan sekadar kendaraan. Sepeda-sepeda tersebut memiliki cerita panjang dan nilai sejarah yang membuatnya istimewa.

Budi Santoso, 45 tahun, salah satu anggota komunitas, mengatakan ketertarikannya terhadap sepeda lawas berawal dari kenangan masa kecil. Ia masih ingat bagaimana ayahnya dahulu menggunakan sepeda onthel untuk pergi bekerja.

“Dulu waktu kecil saya sering dibonceng ayah naik sepeda seperti ini. Jadi ketika sekarang saya punya sepeda onthel sendiri, rasanya seperti menghidupkan kembali kenangan itu,” kata Budi saat ditemui di sela kegiatan CFD pada Ahadm (8/3/2026).

Sepeda yang ia gunakan diperkirakan berusia lebih dari lima dekade. Meski sudah tua, sepeda tersebut masih dapat digunakan dengan baik karena dirawat secara rutin.

Pesepeda dengan sepeda onthel melintas di jalur Car Free Day Surabaya di kawasan Taman Bungkul, Minggu pagi. Sepeda lawas tersebut masih dirawat oleh komunitas pecinta sepeda klasik sebagai bagian dari upaya menjaga warisan transportasi masa lalu. | Foto: Shella

Menurut Budi, sensasi mengendarai sepeda klasik berbeda dengan sepeda modern yang banyak digunakan saat ini.

“Sepeda lama memang lebih berat, tapi justru itu yang membuat kita lebih menikmati perjalanan. Kayuhannya pelan, jadi kita bisa melihat suasana kota,” ujarnya.

Selain Budi, Ahmad Fauzi, 52 tahun, juga rutin mengikuti kegiatan bersepeda bersama komunitas sepeda lawas setiap Minggu pagi. Baginya, kegiatan ini bukan hanya tentang hobi, tetapi juga tentang kebersamaan.

“Biasanya kami kumpul di sini setiap Minggu. Kadang ngobrol, kadang berbagi cerita soal sepeda. Kalau ada yang rusak juga biasanya dibantu bareng-bareng,” kata Fauzi.

Menurutnya, komunitas sepeda lawas di Surabaya terbentuk dari kesamaan minat terhadap sepeda klasik yang kini semakin jarang ditemui di jalanan kota.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Sekarang orang lebih banyak pakai sepeda modern. Jadi ketika masih ada yang merawat sepeda tua seperti ini, rasanya ada kebanggaan tersendiri,” ujarnya.

#Merawat Warisan Sepeda Klasik

Kehadiran sepeda onthel di kawasan Car Free Day memberikan warna tersendiri bagi suasana pagi di Surabaya. Sepeda-sepeda itu kerap diparkir di tepi jalan sehingga pengunjung dapat melihat lebih dekat desain klasiknya.

Beberapa sepeda masih menggunakan komponen asli seperti lampu dinamo, bel logam, hingga jok kulit. Bagi para kolektor, menjaga keaslian komponen menjadi bagian penting dalam merawat sepeda klasik.

Tidak jarang anak-anak yang lewat terlihat penasaran dengan bentuk sepeda yang berbeda dari sepeda masa kini. Para anggota komunitas biasanya dengan senang hati menjelaskan sejarah sepeda tersebut kepada siapa saja yang bertanya.

“Kadang ada anak muda yang bilang baru pertama kali lihat sepeda seperti ini. Dari situ kita cerita sedikit tentang sejarahnya,” kata Budi.

Selain berkumpul di CFD, komunitas sepeda lawas Surabaya juga sesekali mengikuti kegiatan lain seperti touring atau jambore sepeda kuno yang diadakan di berbagai daerah. Dalam kegiatan tersebut mereka dapat bertemu dengan komunitas serupa dari kota lain dan saling berbagi pengalaman tentang merawat sepeda klasik.

Namun merawat sepeda tua bukan perkara mudah. Banyak suku cadang yang sudah sulit ditemukan di pasaran.

Beberapa anggota bahkan harus mencari spare part hingga ke pasar barang antik atau toko sepeda lama. Tidak jarang mereka berburu komponen hingga ke kota lain.

Meski demikian, proses tersebut justru menjadi bagian dari kesenangan bagi para pecinta sepeda lawas.

“Kadang harus mencari lama kalau ada bagian yang rusak. Tapi kalau akhirnya ketemu spare part yang cocok, rasanya puas sekali,” kata Fauzi.

Bagi mereka, merawat sepeda tua bukan hanya soal menjaga barang lama tetap berfungsi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi cara sederhana untuk menjaga sejarah transportasi tetap hidup.

Di tengah perkembangan teknologi dan kendaraan modern yang semakin pesat, sepeda-sepeda tua yang masih berkeliling di CFD menjadi pengingat tentang perjalanan waktu.

Setiap Minggu pagi, roda-roda sepeda klasik itu kembali berputar pelan menyusuri Jalan Darmo. Di antara keramaian warga yang menikmati udara segar di sekitar Taman Bungkul, sepeda-sepeda tua tersebut membawa cerita masa lalu yang tetap hidup di tengah kota yang terus bergerak maju.

Bagi komunitas pecinta sepeda lawas Surabaya, mengayuh sepeda onthel bukan sekadar aktivitas olahraga. Ia juga menjadi cara sederhana merawat nostalgia—bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di museum, tetapi kadang masih dapat ditemukan di jalanan kota. ***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *