Lewati ke konten

Mikroplastik Mengusir Penghuni Asli Tanah Kita

| 6 menit baca |Opini | 34 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Regita Sari Dewi Editor: Supriyadi

Tanah lebih dari pijakan; tanah adalah ekosistem hidup yang kini terancam mikroplastik -mengganggu organisme tanah, merusak struktur, dan diam-diam melemahkan fondasi ketahanan pangan kita.

Tanah sering kali kita bayangkan sebagai lapisan debu yang diam dan pasif. Padahal, tanah merupakan ekosistem hidup yang kompleks dan dinamis. Di dalamnya berlangsung proses-proses penting yang menopang kehidupan: menyimpan karbon, mendaur ulang unsur hara, hingga menjaga keseimbangan air. Tanah tidak hanya bisa dikatakan sebagai  media tanam semata. Tetapi fondasi keberlanjutan ekosistem.

Di dalam tanah, terdapat jutaan organisme yang bekerja tanpa henti. Salah satu kelompok penting adalah makrofauna tanah – cacing, rayap, semut, dan kumbang – yang berperan sebagai “insinyur ekosistem”. Mereka merombak bahan organik, memperbaiki struktur tanah, menciptakan rongga udara, serta meningkatkan kesuburan lahan (Wibowo & Slamet, 2017). Tanpa mereka, tanah kehilangan daya hidupnya.

Namun kini, keseimbangan itu terganggu. Mikroplastik, partikel plastik berukuran sangat kecil tak mampu menembus penglihatan, telah menjadi “tamu tak diundang” yang masuk ke dalam tanah dan mulai mengokupasi ruang-ruang vital. Kehadirannya  telah berdampak nyata nyata. Remahan bukan hanya mencemari, melainkan juga mengubah cara tanah bekerja sebagai sistem hidup.

Masalahnya, mikroplastik tidak datang sendiri. Pecahan plastic itu membawa ancaman yang lebih dalam, yaitu perubahan struktur tanah, gangguan aktivitas mikroba, hingga efek jangka panjang terhadap organisme yang selama ini menjaga kesuburan tanah. Tanah yang hidup kini perlahan terdesak oleh material yang tidak pernah menjadi bagian dari siklus alaminya.

#Invasi Senyap Mikroplastik

Jejak mikroplastik di tanah tidak muncul dalam semalam. Akar persoalannya dapat ditelusuri sejak pasca Perang Dunia II, ketika industri plastik berkembang pesat dan produksi meningkat tanpa kendali. Plastik yang awalnya dianggap solusi praktis, kini menjadi sumber masalah global.

Selama puluhan tahun, serpihan plastik perlahan masuk ke tanah melalui berbagai jalur: dari mulsa pertanian, kompos yang tercampur limbah plastik, sedimen sungai yang tercemar, hingga serat sintetis dari pakaian yang terbawa angin dan hujan (Machado et al., 2018). Bahkan, mikroplastik kini ditemukan di tanah yang tampak “bersih”, termasuk di kawasan perkotaan.

Data menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Mikroplastik telah ditemukan di ladang pertanian, kompos, aliran sungai, hingga hujan atmosfer (Machado et al., 2018). Dalam kondisi pencemaran berat, konsentrasinya bisa mencapai 7% dari berat kering tanah—angka yang jauh dari kata aman.

Indonesia sendiri menghadapi tekanan besar. Dengan produksi polusi plastik mencapai sekitar 3,5 juta metrik ton per tahun, Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbesar di dunia (ECOTON, 2024). Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada manusia: masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi hingga 15 gram mikroplastik per bulan, tertinggi secara global (ECOTON, 2024).

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampaknya terhadap tanah. Penelitian menunjukkan bahwa semua jenis mikroplastik mampu mengubah kerapatan tanah secara signifikan (p<0.001) (Machado et al., 2018). Serat polyester, misalnya, terbukti menurunkan stabilitas agregat tanah (F=12.04, p<0.01) sekaligus meningkatkan kemampuan tanah menahan air (F=7.07, p<0.05). Sekilas terdengar positif, tetapi perubahan ini justru mengganggu distribusi air yang dibutuhkan organisme tanah.

Lebih jauh, mikroplastik juga mengganggu kehidupan mikroba. Serat polyacrylic dan polyester menurunkan aktivitas mikroba secara signifikan (F=5.20, p<0.05), sekaligus merusak hubungan fungsional antara mikroba dan agregasi tanah. Paparan polyethylene bahkan mengubah arah asosiasi tersebut secara drastis (F=22.42, p<0.001) (Machado et al., 2018).

Tidak semua mikroplastik memiliki dampak yang sama. Polyester menjadi yang paling merusak, diikuti polyacrylic, yang keduanya berbentuk serat. Ini menunjukkan bahwa jenis dan bentuk mikroplastik sangat menentukan tingkat bahayanya.

Dampak ini tidak berhenti pada struktur tanah. Organisme tanah juga ikut terdampak. Cacing (Eisenia andrei), springtail (Folsomia candida), kutu kayu (Porcellio scaber), hingga larva kumbang (Tenebrio molitor) terbukti terpapar mikroplastik (Kokalj, 2023). Dalam konsentrasi 0,005–5% selama 3–4 minggu, terjadi gangguan reproduksi, pertumbuhan terhambat, perubahan metabolisme, hingga aktivasi sistem imun yang tidak normal.

Yang membuat mikroplastik berbahaya adalah sifatnya yang tidak langsung mematikan. Benda itu bekerja secara subletal – perlahan, tersembunyi, tetapi berdampak jangka panjang. Ini adalah bentuk ancaman yang lebih sulit dideteksi, tetapi jauh lebih merusak.

#Regulasi Tertinggal, Harapan Terbuka

Idealnya, tanah yang sehat ditandai dengan keanekaragaman makrofauna yang tinggi. Indeks Shannon-Wiener (H’) di atas 2 menjadi indikator penting. Di Indonesia, hutan sekunder masih menunjukkan angka H’=2,09, sementara perkebunan intensif hanya H’=0,73 (Handayani & Winara, 2020). Ini menunjukkan bahwa praktik pengelolaan lahan sangat menentukan kesehatan tanah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Makrofauna tanah sendiri telah diakui sebagai bioindikator yang sahih, sensitif, dan mudah diamati. Mereka mencerminkan kondisi ekosistem secara jujur. Jika mereka hilang atau menurun, itu adalah tanda bahwa tanah sedang bermasalah.

Selain itu, kualitas input seperti kompos juga penting. Kompos yang ideal harus memiliki rasio C/N rendah, pH netral, dan bebas dari kontaminasi plastik (Fatmalia et al., 2022). Sayangnya, praktik di lapangan masih jauh dari standar ini.

Masalah lain terletak pada regulasi. Di Indonesia, perlindungan lingkungan memang sudah diatur dalam UU No. 32 Tahun 2009 dan PP No. 22 Tahun 2021. Namun, keduanya belum secara spesifik memasukkan mikroplastik sebagai parameter baku mutu tanah. Artinya, pencemaran ini belum memiliki standar pengendalian yang jelas.

Padahal, dorongan sudah muncul. Pada Oktober 2024, ECOTON mendesak pemerintah untuk menetapkan baku mutu mikroplastik nasional. Kemenko Marves menyatakan kesediaannya untuk menindaklanjuti bersama KLHK. Namun hingga kini, belum ada produk hukum konkret.

Sementara itu, negara lain sudah bergerak lebih cepat. Uni Eropa melarang produk plastik sekali pakai sejak 3 Juli 2021. Korea Selatan mengajukan regulasi komprehensif terkait mikroplastik. California bahkan berkomitmen mengurangi emisi mikroplastik melalui kebijakan ketat. Di Eropa, pemantauan kesehatan tanah berbasis bioindikator telah terintegrasi dalam kebijakan pertanian.

Harapan tetap ada. Praktik-praktik baik telah menunjukkan hasil. Pertanian organik tanpa mulsa plastik terbukti mampu mengurangi masukan mikroplastik ke tanah. Program monitoring berbasis makrofauna di Eropa membantu petani mengambil keputusan berbasis data. Pengomposan komunitas yang disiplin memisahkan plastik menghasilkan kompos bersih dan meningkatkan keragaman organisme tanah.

Akan tetapi, semua ini membutuhkan dorongan yang lebih sistemik. Pemerintah perlu segera menetapkan baku mutu mikroplastik untuk tanah. Tanpa standar, sulit mengukur dan mengendalikan pencemaran. Parameter mikroplastik juga harus masuk dalam sistem pemantauan nasional, dengan akses pengujian yang terjangkau bagi petani.

Industri juga tidak bisa lepas tangan. Sektor tekstil dan pertanian perlu beralih dari bahan sintetis yang menjadi sumber mikroplastik. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga daya saing di pasar global yang semakin menuntut produk berkelanjutan.

Di sisi lain, pendekatan berbasis bioindikator perlu diperluas. Makrofauna tanah adalah alat ukur yang murah dan efektif. Mengintegrasikannya dalam kebijakan nasional akan membantu memantau kesehatan tanah secara lebih akurat.

Terakhir, publik perlu disadarkan. Plastik yang digunakan hari ini tidak hilang begitu saja. Ia bisa berakhir di tanah, masuk ke rantai makanan, dan kembali ke tubuh manusia. Ini bukan lagi isu lingkungan semata, tetapi juga isu kesehatan dan masa depan pangan.

Mikroplastik mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata. Ia mengusir penghuni asli tanah – organisme yang selama ini menjaga kehidupan. Jika dibiarkan, kita bukan hanya kehilangan kesuburan tanah, tetapi juga kehilangan fondasi kehidupan itu sendiri.***

*) Regita Sari Dewi,  mahasiswa Biologi, Angkatan 2023, Universitas Negeri Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *