Penelitian Ecoton di Jombang menemukan seluruh sampel air hujan tercemar mikroplastik. Dari serat hingga fragmen plastik terdeteksi di atmosfer, temuan ini mengungkap krisis pencemaran plastik yang tak lagi kasat mata dan mengancam lingkungan serta kesehatan manusia.
Penelitian identifikasi mikroplastik pada air hujan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mengungkap fakta mengkhawatirkan. Seluruh sampel air hujan yang dikumpulkan dari sejumlah lokasi terdeteksi mengandung partikel mikroplastik dengan tingkat konsentrasi yang bervariasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik tidak lagi terbatas di darat dan perairan, melainkan telah masuk ke dalam siklus atmosfer.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Lembaga Kajian Lahan Basah (Ecoton) bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam kegiatan citizen science yang berlangsung di MTsN 16 Jombang, Selasa (23/12/2025).
Para peserta, yang terdiri atas pelajar dan masyarakat, dilibatkan langsung dalam proses pengambilan dan pengamatan sampel air hujan menggunakan mikroskop.

#Empat Lokasi, 185 Partikel Mikroplastik
Pengambilan sampel dilakukan di empat lokasi berbeda, yakni Kecamatan Tembelang, Karangmojo Plandaan, Perum Tambakrejo (Kecamatan Jombang), dan Genuk Watu Ngoro.
Dari seluruh lokasi tersebut, peneliti mengidentifikasi total 185 partikel mikroplastik per liter air hujan.
Peneliti senior Ecoton, Amirudin Muttaqin, mengatakan jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fiber atau serat plastik. “Totalnya mencapai 114 partikel. Serat plastik ini umumnya berasal dari degradasi tekstil sintetis, aktivitas pencucian pakaian, serta debu plastik yang terbawa angin,” ujarnya.
Selain fiber, dalam penelitian itu juga ditemukan mikroplastik jenis fragmen sebanyak 37 partikel, film atau filamen sebanyak 24 partikel, serta foam sebanyak 10 partikel.
Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, menjelaskan fragmen biasanya berasal dari pecahan plastik keras, sementara film dan foam berkaitan erat dengan kantong plastik, kemasan sekali pakai, dan styrofoam.
“Komposisi ini menunjukkan bahwa sumber mikroplastik sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari manusia,” kata Rafika.
Rafika juga menegaskan temuan ini menunjukkan kedekatan sumber pencemar dengan aktivitas manusia. “Fragmen berasal dari plastik keras, sementara film dan foam terkait kantong plastik, kemasan sekali pakai, serta styrofoam. Ini bukti mikroplastik lahir dari keseharian kita,” ujarnya.

#Genuk Watu Ngoro Tertinggi
Dari keempat lokasi, tingkat cemaran mikroplastik tertinggi tercatat di Genuk Watu Ngoro, dengan 70 partikel per liter air hujan. Disusul Perum Tambakrejo sebanyak 46 partikel per liter, Plandaan Karangmojo 41 partikel per liter, dan Kecamatan Tembelang 28 partikel per liter.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPerbedaan tingkat cemaran tersebut, menurut Rafika, diduga dipengaruhi oleh kepadatan permukiman, aktivitas industri, lalu lintas kendaraan, serta arah dan kecepatan angin.
Mikroplastik berukuran remahan memungkinkan partikel tersebut melayang di udara dalam waktu lama sebelum akhirnya turun bersama hujan.
Temuan ini juga diperkuat oleh pengakuan para peserta citizen science yang menyebut praktik pembakaran sampah masih umum dilakukan.
Selain dibakar, sebagian sampah plastik juga dikubur atau dibuang ke sungai. Aktivitas tersebut berkontribusi terhadap pelepasan partikel plastik ke udara dan lingkungan sekitar.

#Ancaman bagi Lingkungan dan Kesadaran Baru Pelajar
Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa temuan mikroplastik dalam air hujan menjadi bukti kuat bahwa pencemaran plastik bersifat lintas media.
“Selama ini kita menganggap air hujan relatif bersih. Faktanya, air hujan kini berpotensi menjadi medium paparan mikroplastik bagi manusia, tanah, dan sumber air permukaan,” ujarnya.
Menurut Prigi, hasil penelitian ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat pengelolaan sampah plastik serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Tanpa intervensi serius, mikroplastik berisiko terus terakumulasi dalam lingkungan dan rantai kehidupan manusia.
Bagi para pelajar yang terlibat, kegiatan ini memberi pengalaman dan kesadaran baru. Ananda Ayu Renia P, siswi kelas IX MTsN 16 Jombang, mengaku terkejut dengan hasil pengamatan tersebut.
“Untuk mengisi liburan, kegiatan ini menyenangkan sekaligus membuka wawasan bagi kami. Kami belajar mengamati air hujan menggunakan mikroskop dan menemukan mikroplastik jenis fiber, filamen, dan fragmen,” katanya.
Ia mengaku tidak menyangka air hujan mengandung partikel plastik. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk mulai menerapkan prinsip 3R, reduce, reuse, recycle dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang saya lebih sadar bahwa sampah plastik yang kita hasilkan bisa kembali ke kita dengan cara yang tidak terduga,” ujarnya.***