KEHIDUPAN modern yang serba cepat, ternyata ada hal lain yang lebih cepat, yaitu mikroplastik masuk ke tubuh kita. ECOTON menemukan bahwa PET, si plastik botol minuman. Kini menjadi pendatang yang paling rajin numpang hidup di organ-organ manusia.
Bukan cuma nyangkut di sungai, mikroplastik PET dan PE kini sudah menyelinap sampai ke darah, paru-paru, plasenta, bahkan otak. Laporan terbaru ECOTON membuat kita harus bertanya, berapa banyak plastik yang sudah kita telan tanpa sadar selama ini?
#PET Polimer Mikroplastik yang Paling Banyak Mengkontaminasi?

Dunia sedang sibuk membahas AI, kendaraan listrik, dan energi terbarukan. Tapi ada satu topik yang lebih dekat dengan tubuh kita, secara harfiah. ECOTON mengungkap bahwa PET, plastik yang biasa kita temui di botol air minum dan serat polyester, kini menjadi polimer paling dominan yang masuk ke tubuh manusia. Bukan cuma jadi sampah di TPA, tapi juga jadi tamu gelap di dalam organ vital kita.
Dalam dua tahun terakhir, tim ECOTON membongkar fakta bahwa PET bersama PE telah menyebar jauh melampaui lingkungan. Mereka muncul di darah, paru-paru, saluran pencernaan, plasenta, dan bahkan jaringan otak. Kalau tubuh manusia dianalogikan sebagai rumah, mikroplastik ini sudah bukan tamu lagi, mereka kontrakan permanen.
“Paparan ini tidak berhenti di saluran pencernaan, tetapi bisa mencapai jaringan tubuh dalam,” kata Alaika Rahmatullah, Koordinator Kampanye ECOTON. Menurutnya, temuan ini adalah sirene darurat yang menandakan bahwa paparan mikroplastik telah masuk kategori serius.
Yang membuat situasinya makin runyam, PET bukan hanya hadir sebagai serpihan, tapi juga membawa ‘penumpang gelap’ berupa bahan kimia toksik yang bisa memperparah gangguan sel. Mikroplastik ini bekerja seperti kurir tak diundang, menghantarkan polutan langsung ke jaringan tubuh yang paling sensitif.
“Kalau kita tidak mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sekarang, tubuh manusia akan kalah cepat. Lingkungan sudah terkontaminasi, dan kini organ-organ kita ikut menyusul,” tambah Alaika.

#Manusia Telan 39.000 sampai 52.000 Partikel Mikroplastik per Tahun
Temuan ECOTON ini semakin menguatkan peringatan global bahwa manusia modern tidak hanya makan nasi, ayam, dan snack, tapi juga makan plastik.
Cox et al. (2019) memperkirakan bahwa seseorang bisa menelan 39.000 hingga 52.000 partikel mikroplastik per tahun. Angka itu bisa melonjak bagi mereka yang rajin menenggak air minum dalam kemasan. Pendek kata, semakin sering beli AMDK, semakin besar peluang tubuh Anda menjadi kos-kosan partikel PET dan PE.
Menurut riset Cox dkk. tersebut, jumlah itu bahkan belum menghitung mikroplastik yang kita hirup setiap hari dari debu rumah, serat pakaian polyester, atau sedotan yang diam-diam melepaskan serpihan kecil ke udara. Manusia modern intinya bukan cuma makan plastik, tapi juga menghirupnya.
Kalau kamu termasuk tim “air mineral botol sekali jalan galon mini praktis”, mungkin bisa mendapat ucapaan selamat, dosis harianmu mungkin lebih tinggi dari rerata.
“PET dari botol sekali pakai mudah terfragmentasi dan larut ke dalam air yang kamu minum, “ kata Alaika. “Setelah masuk, partikel ini bisa menempel pada membran sel, mengacaukan metabolisme, memicu stres oksidatif, dan memperbesar risiko penyakit kardiovaskular, gangguan hormon, penurunan kesuburan, hingga kanker, “ jelasnya.
Alaika juga menegaskan, “Paparan mikroplastik ini bukan lagi isu jauh di luar sana. Angka 39 sampai 52 ribu partikel per tahun itu menggambarkan kenyataan yang sudah kita hadapi setiap hari. Kalau pola konsumsi kita tidak berubah, tubuh kita akan terus jadi tempat transit plastik tanpa kita sadari.”
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#PET dan PE: Dua Polimer dengan Penyebaran Tertinggi
ECOTON menemukan PET dan PE di hampir semua jenis sampel biologis manusia, mulai dari darah, plasenta, cairan amnion (ketuban), feses, paru-paru, hingga jaringan otak. “PET ini terfragmentasi menjadi partikel super kecil yang bahkan bisa melewati penghalang sistem pertahanan tubuh,” kata Jofany Ahmad Arianto dari ECOTON.
Menurut Jofany, temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik sudah jauh melampaui level polusi biasa. “Kita selama ini berpikir plastik hanya mencemari sungai atau pantai. Padahal yang paling berbahaya justru yang tidak terlihat, partikel kecil yang sudah masuk ke tubuh kita tanpa kita sadari,” ujarnya.
“Paparan panjang dari PET dan PE yang berasal dari botol AMDK, kresek, sedotan, dan plastik sekali pakai jelas berbahaya,” sambungnya. Jofany menekankan bahwa tubuh manusia tidak didesain untuk menghadapi partikel sintetis yang terus masuk setiap hari. “Kalau paparan ini berlangsung bertahun-tahun, efeknya bukan lagi soal iritasi atau gangguan ringan. Kita bicara risiko penyakit kronis yang bisa muncul diam-diam,” tambahnya.
Tidak berhenti di situ, mikroplastik berperan seperti ojek online bagi bahan kimia beracun seperti phthalates, BPA, dioxin, dan logam berat. Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON, menyebutnya sebagai “serangan ganda”, plastiknya merusak sel, sementara bahan kimianya memperparah kerusakan.
“Partikel kecil ini bukan hanya masuk ke jaringan tubuh, tetapi membawa muatan racun yang bisa memicu inflamasi dan gangguan fungsi sel dalam jangka panjang,” ujar peneliti muda ini.

#Dampak Plastik Polietilen, Potensi Picu Kanker
Temuan ilmiah dari berbagai penelitian menunjukkan efek biologis yang sangat meresahkan. Dalam peneltian itu ECOTON mengungkap, mikroplastik yang mereka ditemukan menyebabkan, penuaan sel dini, stres oksidatif, inflamasi, apoptosis, gangguan mitokondria, juga perubahan metabolisme sel.
Selain itu, rangkaian kerusakan biologis ini bukan hanya terjadi pada satu jenis sel, tetapi berlangsung secara sistemik. Akumulasi stres dan peradangan kronis membuat tubuh bekerja di bawah tekanan terus-menerus. “Mikroplastik itu ibarat ancaman kecil yang bekerja diam-diam, tapi dampaknya bisa merembet ke seluruh organ,” ujar Rafika
“Jika ini terjadi terus menerus, risiko panjangnya bukan main: kardiovaskular, penurunan imunitas, gangguan metabolik, masalah reproduksi, dan kanker, “ tambahnya.
#Desak Pengurangan PET Melalui Kebijakan yang Kuat
Dalam hal ini ECOTON menegaskan bahwa situasi ini bukan hanya masalah lingkungan tapi juga masalah kesehatan publik. Untuk itu, mereka mendorong pemerintah mengambil langkah konkret:
- Pembatasan produksi dan penggunaan PET sekali pakai.
- Implementasi EPR yang benar-benar berjalan.
- Target nasional pengurangan plastik primer, dengan fokus besar pada PET.
- Standar nasional deteksi mikroplastik pada air minum, pangan, dan lingkungan.
- Penguatan sistem isi ulang dan kemasan guna ulang yang higienis dan terjangkau.
Dengan bahasa lain, kalau kita masih mau paru-paru kita berfungsi sebagaimana mestinya, kita harus mulai mempersempit ruang gerak plastik sekali pakai.
Dengan semua temuan ini, satu kesimpulan terasa jelas, tubuh manusia bukan tempat sampah, tapi perlahan-lahan dijadikan tempat sampah.
PET, yang dulu dianggap solusi praktis untuk kemasan, kini berubah menjadi ancaman yang bersembunyi di balik keseharian kita. Dan kalau tidak segera dikendalikan, generasi mendatang akan mewarisi tubuh yang dipenuhi plastik jauh sebelum mereka tahu cara membaca.***