Lewati ke konten

Planet Sampah: Ke Mana Kita Harus Lari saat Ujung Bumi Sudah Berplastik? Ke Surga?

| 7 menit baca |Opini | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Plastik telah mencapai titik terdalam dan tertinggi Bumi. Dari Palung Mariana hingga Gunung Everest, mikroplastik menunjukkan bahwa tak ada lagi tempat yang benar-benar aman dari jejak pencemaran manusia.
  • Gunung Everest bukan lagi sekadar simbol keagungan alam. Mikroplastik ditemukan di salju, tanah, bahkan kotoran yak. Jejak manusia ternyata telah mencapai atap dunia dan memasuki rantai makanan.
  • Antartika seharusnya menjadi benteng terakhir Bumi. Namun mikroplastik dan nanoplastik telah ditemukan di salju dan tanahnya. Bahkan wilayah paling terisolasi pun tak luput dari pencemaran plastik.
  • Dua puluh tahun lalu, krisis mikroplastik telah diprediksi. Hari ini, plastik ditemukan dari dasar samudra hingga puncak gunung. Pertanyaannya bukan lagi kapan krisis datang, melainkan kapan manusia bertindak.
  • Kita terus menunggu bukti yang sempurna untuk bertindak, sementara plastik terus terfragmentasi menjadi mikroplastik dan nanoplastik. Jika menunggu terlalu lama, mungkinkah Bumi kehilangan tempat aman untuk dihuni?

Penulis: Arief Maulana Sabilillah merupakan pemerhati sungai dan lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Ia memiliki perhatian pada isu pencemaran antropogenik, khususnya plastic debris, mikroplastik, dan senyawa kimia aditif yang mengancam kesehatan ekosistem sungai.

Di Mana Lagi Tempat Teraman di Bumi?

SEBAGAI komunitas yang hidup di era industri serba berpolusi, manusia modern pasti selalu membayangkan alam liar, pegunungan, pulau terpencil, atau bahkan samudra sebagai tempat pelarian yang murni dari kotornya lingkungan perkotaan. Tapi, apakah tempat impian itu benar-benar bersih? Sayangnya, TIDAK!

Komunitas ilmiah telah menunjukkan bahwa tidak ada satu sentimeterpun sudut Bumi yang benar-benar bebas dari polusi plastik.

Jika kita mengira dasar Samudra Pasifik adalah zona abadi yang murni dari racun manusia, sains baru saja membatalkan hipotesis tersebut. Awal tahun 2018, di kedalaman 10.975 meter Palung Mariana—titik paling dalam di muka Bumi—tim riset Chinese Academy of Science menemukan 2.000 partikel mikroplastik hanya dalam satu liter air.

Bagaimana plastik yang ringan bisa tenggelam ke dasar laut?

Alina Wieczorek, seorang marine biologist dari National University of Ireland, berpendapat bahwa partikel sintetis ini termakan oleh zooplankton dan tenggelam bersama kotorannya. Selain itu, permukaan mikroplastik dapat “ditumpangi” oleh bakteri, plankton, dan organisme kecil lainnya yang memang akan selalu tenggelam ke dasar laut sebagai mekanisme siklus energi dalam ekosistem laut.

BACA JUGA:  Busa Penuhi Kali Surabaya Pascakebakaran Wings, PJT I Naikkan Debit Air

Mungkin hanya kebetulan? TIDAK!

Serena M. Abel dari Senckenberg Research Institute and Natural History Museum, Senckenberganlage, Frankfurt am Main, Jerman, menemukan plastik sekali pakai, kemasan, dan peralatan yang terkait dengan industri perikanan berjenis polietilena (PE) dan polipropilena (PP) di dasar palung Kuril Kamchatka, perbatasan Rusia-Jepang. Sampah tersebut ditemukan pada kedalaman 5.120 hingga 9.582 meter. Sebagian dari sampah tersebut sudah terfragmentasi. Menandakan keberadaan mikroplastik di ekosistem yang sama. Planet Sampah

 

Gambar 1. Sampah-sampah plastik yang ditemukan Abel di kedalaman laut Kuril Kamchatka. Beberapa ditemukan dalam keadaan sudah terkoyak. | Dokumentasi: Serena M. Abel, Fangzhu Wu, Sebastian Primpke, Gunnar Gerdts, Angelika Brandt (2016)

Jejak Racun Manusia di Tempat yang Paling Terisolasi

Berpindah dari dasar samudra ke atap dunia, Gunung Everest yang diagungkan sebagai simbol keagungan alam rupanya tak lebih dari tempat sampah berelevasi tinggi. Pada tahun 2020, Imogen E. Napper, seorang peneliti dari International Marine Litter Research Unit, University of Plymouth, Britania Raya, mempublikasikan temuan mikroplastik di salju Everest untuk pertama kali.

Dalam eksplorasinya, jumlah partikel yang ditemukan Napper berkisar antara 3–119 partikel per liter salju. Area basecamp menjadi yang paling kotor dengan ditemukannya 79 partikel mikroplastik dalam satu liter salju.

Bentuk partikel paling banyak adalah fiber, yang tersusun dari polimer-polimer seperti poliester (56%), akrilik (31%), nilon (9%), dan polipropilena (5%), sehingga Napper berasumsi bahwa fiber-fiber pencemar Everest tersebut berasal dari rontokan pakaian, tali, serta tenda para turis. Meski begitu, Napper tidak menutup kemungkinan terkait input pasokan partikel halus yang diterbangkan angin atmosfer jarak jauh (Long-Range Atmospheric Transport).

Apakah temuan ini sebuah kebetulan? TIDAK JUGA!

Di tahun 2023, Wang Yanhua (School of Geography and Tourism, Shaanxi Normal University, Xi’an, Cina), tidak hanya menemukan mikroplastik, melainkan juga nanoplastik, di tanah, salju, air hingga kotoran yak (sejenis lembu atau sapi berambut panjang yang hidup di Pegunungan Himalaya).

Area basecamp konsisten menjadi tempat yang terkotor. Jika Napper menemukan 79 partikel dalam satu liter salju, Wang menemukan 218 partikel dalam satu kilo tanah. Fiber masih menjadi bentuk yang mendominasi.

Polietilena (PE), polietilena tereftalat (PET), poliamida (PA), dan politetrafluoroetilena (PTFE) adalah lima polimer utama penyusun partikel tersebut. Artinya, turis masih menjadi aktor utama dalam isu pencemaran ini.

BACA JUGA:  Tradisi Reresik Kali Koreksi Kegagalan Pendekatan Teknokratis Pengelolaan Sungai di Jawa Timur

Ironisnya, tidak hanya mengendap di salju atau tanah. Wang menemukan 31,2 hingga 46,9 partikel mikroplastik berukuran 2–80 μm dalam satu kilo kotoran yak. Partikel plastik ini dicurigai berasal dari produk-produk biodegradable seperti tas pasar, kemasan pupuk, dan film mulsa yang kerap digunakan dalam area peternakan.

Dengan hadirnya bukti empiris potensi bioakumulasi mikroplastik dalam tubuh yak, maka rantai makanan lokal Everest tidak lagi aman.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kini kita mengetahui bahwa titik tertinggi dan titik terdalam planet ini sudah terjajah oleh plastik. Kita boleh saja mengatakan bahwa, jarak relatif antara titik tertinggi dan titik terendah itu tidak ada apa-apanya bagi diameter Bumi. Lantas, seberapa jauh jangkauan mikroplastik dalam mencemari Bumi?

Gambar 2. Fiber yang ditemukan oleh Napper di ketinggian 8.440 mdpl. Karakteristiknya mirip dengan pakaian pendaki. | Dokumentasi: Imogen E. Napper (2020)

Sebagai benteng terakhir yang dilindungi Perjanjian Internasional, Antartika, benua es raksasa di penghujung selatan Bumi ini seharusnya menjadi tempat paling terisolasi.

Alex R. Aves (University of Canterbury, Selandia Baru) adalah peneliti pertama yang menemukan mikroplastik di Antartika. Melalui publikasinya di The Cryosphere yang berjudul “First evidence of microplastics in Antarctic snow” tahun 2022, melaporkan temuan 29 partikel mikroplastik per liter salju.

Dari 19 sampel, seluruhnya mengandung mikroplastik. Lagi-lagi, fiber yang paling banyak ditemukan. Aves mencurigai penggunaan bendera penunjuk jalan (wayfinding flags) sebagai salah satu sumber pencemaran. Meski begitu, kemungkinan input mikroplastik dari wilayah Australia dan Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere), masih sangat terbuka.

Temuan Aves bukanlah satu-satunya bukti jejak pencemaran manusia di Antartika. Quynh Nhu Phan Le (Lancaster Environment Centre, Lancaster University, Britania Raya) bahkan menemukan kandungan nanoplastik di sampel tanah Antartika.

Tidak hanya di permukaan tanah, partikel super kecil ini (20 nm–1 μm) juga ditemukan mengendap di kedalaman 40 cm. Dengan menggunakan instrument Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR), Le mendeteksi enam polimer, seperti PE, PP, PET, polistirena (PS), polyvinyl chloride (PVC), dan tire wear particles (TWP).

BACA JUGA:  Eksploitasi Lingkungan: Pelanggaran Nyata Maqashid Syariah

Hasil ini memvalidasi hipotesis Le, yaitu aktivitas penelitian dan turisme, yang intensitasnya meningkat saat musim panas, menjadi kontributor utama kontaminasi mikro-nanoplastik di Antartika.

Gambar 3. Partikel mikroplastik tanah Antartika yang diidentifikasi melalui mikroskop fluoresensi. | Dokumentasi: Quynh Nhu Phan Le (2026)

Sudah Diprediksi, Apakah akan Terus Dibiarkan?

Dua puluh tahun lalu, Profesor Richard C. Thompson menjadi sosok pertama yang memperkenalkan istilah “mikroplastik” ke dalam jurnal ilmiah dunia.

Sejak 2004, ia telah memprediksi alur krisis ini secara presisi: ledakan populasi manusia secara eksponensial akan berbanding lurus dengan lonjakan konsumsi plastik. Ketika komoditas sintetis ini dilepas masif tanpa sistem pengelolaan sampah yang memadai, plastik-plastik tersebut tidak akan pernah lenyap dari muka Bumi.

Seiring berjalannya waktu, mereka terfragmentasi menjadi triliunan racun mikroskopis yang menyusup ke seluruh sudut planet—dari dasar samudra, puncak gunung, hingga ke dalam saluran pernapasan kita.

Lalu, bagaimana kita menghentikan bencana abadi ini?

Thompson menekankan bahwa penentu arah krisis ini tidak lagi berada di meja laboratorium, melainkan pada ketegasan kebijakan. Pembuatan peraturan tidak boleh terus-menerus disandera oleh dalih “menunggu hasil uji laboratorium lanjutan” atau “menanti bukti statistik yang sempurna”.

Menunda tindakan tegas hingga kerusakan ekosistem melampaui ambang batas adalah bentuk kelalaian regulator yang disengaja. Planet Sampah

Di sinilah pentingnya precautionary principle (prinsip kehati-hatian): pemerintah wajib mengambil langkah hukum dan regulasi radikal berdasarkan data eksperimental, riset eksploratif, serta laporan gugatan yang sudah tersedia saat ini.

Bagi Indonesia, penerapan prinsip kehati-hatian ini terasa kian mendesak sekaligus tragis. Di tengah realitas domestik di mana riset lingkungan dan ekologi kerap dianaktirikan—bahkan tidak masuk dalam jajaran program prioritas pemerintah—berdalih “menunggu riset yang lebih komprehensif” sebelum menindak industri plastik adalah bentuk cuci tangan.

Kita tidak perlu menunggu penelitian bernilai miliaran rupiah hanya untuk mengamini fakta bahwa lingkungan kita sudah keruh oleh limbah plastik. Data eksplorasi sudah melimpah, laporan masyarakat sudah mengunung, dan gugatan hukum telah berkali-kali dilayangkan.

Berharap pada hadirnya penelitian yang “sempurna” sebelum menindak produsen plastik adalah ilusi yang mematikan. Sebab, jika kita baru sudi bertindak setelah data sains dianggap 100% sempurna, kita mungkin baru akan membenahi regulasi ketika Bumi sudah sepenuhnya tak layak lagi dihuni. ***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *