Lewati ke konten

Program Citizen Science Tourism Wonosalam Dorong Riset Partisipatif dan Pelestarian Sungai Brantas Lewat Wisata Edukasi

| 5 menit baca |Advertisement | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Program Citizen Science Tourism di Wonosalam menawarkan pengalaman wisata berbasis penelitian lingkungan, mengajak warga dan pelajar memantau kesehatan Sungai Brantas sekaligus belajar keanekaragaman hayati dan pelestarian hutan.

Wonosalam di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kini menjadi salah satu kawasan yang memadukan wisata dan riset partisipatif melalui program Citizen Science Tourism.

Inisiatif yang dikembangkan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), sejak 15 Juli 2023 ini menawarkan pendekatan baru dalam kegiatan ekowisata.

Wisatawan diajak menyusuri hutan Wonosalam untuk mengenal flora, fauna, dan fungsi hutan sebagai penyangga air serta pelindung ekosistem. Pengalaman ini membuka kesadaran bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan di hilir. | Foto: Dok Ecoton

Bukan hanya menikmati alam, tetapi juga mengajak masyarakat dan pelajar melakukan penelitian langsung tentang kesehatan sungai, keanekaragaman hayati, serta pelestarian mata air di kawasan hulu Sungai Brantas.

Melalui pemantauan kualitas air, pengenalan biodiversitas, hingga kolaborasi dengan komunitas lokal, program ini dirancang untuk mendorong keterlibatan publik dalam menjaga lingkungan.

#Riset Partisipatif untuk Memantau Kesehatan Sungai Brantas

Salah satu kegiatan utama dalam program ini adalah uji kualitas air sungai menggunakan metode biomonitoring dan parameter fisika-kimia seperti TDS, DO, suhu, klorin, fosfat, serta amonia. Peserta juga diajak mengamati mikroplastik sebagai indikator pencemaran yang semakin mengkhawatirkan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Menurut Amiruddin Muttaqin, peneliti senior Ecoton dan pengelola program, pendekatan ini memberi pengalaman langsung bagi masyarakat untuk memahami kondisi sungai secara ilmiah.

Menanam pohon menjadi cara sederhana namun penting untuk menjaga masa depan lingkungan. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami peran hutan dalam menyimpan air, mencegah bencana, dan menjaga keseimbangan alam sejak usia dini. | Foto: Dok Ecoton

“Kami ingin warga melihat sendiri bukti-bukti kesehatan sungai, bukan hanya mendengar narasi. Ketika mereka memegang data, kepedulian itu tumbuh karena mereka tahu apa yang sedang terjadi,” ujarnya.

Pendekatan ini memungkinkan warga dan pelajar memahami langsung kondisi sungai serta penyebab degradasi lingkungan.

Ecoton menilai keterlibatan publik penting untuk mengisi celah pengawasan pemerintah yang terbatas. “Dengan edukasi berbasis riset, warga diharapkan mampu mendeteksi gejala pencemaran lebih cepat dan mendorong akuntabilitas pemangku kebijakan. “ jelasnya.

Amiruddin menambahkan bahwa akses terbuka bagi warga adalah kunci penguatan literasi ekologis. “Program ini kami buka setiap hari agar sekolah, komunitas, maupun wisatawan bisa terlibat kapan saja. Semakin banyak orang yang memantau sungai, semakin besar tekanan agar sungai kita tidak lagi diabaikan,” katanya.

Program ini berlangsung setiap hari, Senin – Minggu, sehingga dapat diikuti oleh sekolah maupun wisatawan umum sepanjang pekan.

Suasana Taman Kehati Wonosalam menghadirkan ketenangan di tengah rimbun tanaman endemik. Siswa dan pengunjung belajar langsung mengenali flora langka sambil menikmati udara sejuk hutan hulu yang menjadi rumah bagi kekayaan biodiversitas Jawa Timur. | Foto: Dok Ecoton

#Belajar Keanekaragaman Hayati di Hutan Wonosalam

Selain memantau kualitas air, peserta diajak mengenal keanekaragaman hayati di kawasan hutan, Taman Kehati Wonosalam dan Sungai Gogor yang merupakan DAS Brantas.

Lokasi ini menjadi pusat edukasi tanaman endemik sekaligus ruang belajar untuk memahami proses herbarium sebagai salah satu metode perlindungan tanaman langka.

Wonosalam juga dikenal sebagai daerah hulu dengan kekayaan flora dan fauna khas yang terbentuk dari bentang alam sejuk di kaki Gunung Anjasmoro.

Peserta mengikuti kegiatan pengamatan burung serta penelusuran jejak sejarah naturalis dunia, Alfred Russel Wallace, yang pernah singgah di kawasan ini pada abad ke-19.

Jofanny Ahmad, salah satu pendamping program, mengatakan bahwa aspek sejarah ini sering luput dari pengetahuan publik.

Siswa belajar dengan antusias membuka buku panduan, mengenali berbagai jenis tanaman dan hewan di Taman Kehati. Metode belajar langsung dari alam ini membuat mereka lebih mudah memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. | Foto: Dok Ecoton

“Banyak orang tidak menyadari bahwa Alfred Russel Wallace menulis tentang Wonosalam. Jika membaca bukunya, The Malay Archipelago, nama Wonosalam muncul dalam catatan perjalanannya di Nusantara,” jelasnya.

Jofanny menambahkan bahwa interaksi masyarakat dengan alam telah lama membentuk sistem konservasi tradisional yang berjalan tanpa perlu instruksi formal. “Warga di sini punya cara-cara lama yang mereka pegang erat, dari menandai pohon tertentu agar tidak ditebang, sampai aturan adat untuk menjaga mata air,” katanya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Praktik semacam itu, lanjutnya, merupakan bagian dari kearifan ekologis yang diwariskan lintas generasi dan masih bertahan hingga hari ini.

Melalui kegiatan lapangan tersebut, program Citizen Science Tourism tidak hanya mengajarkan peserta mengidentifikasi spesies, tetapi juga memperkenalkan pemahaman ekologi yang lebih dalam dan terhubung dengan praktik lokal.

“Ketika peserta melihat sendiri bagaimana hutan dipelihara oleh warga, mereka memahami bahwa konservasi bukan konsep abstrak, tapi kerja kolektif yang menjaga kehidupan,” ujar Jofanny.

Pendekatan berbasis pengalaman langsung ini diharapkan mampu membangun kesadaran baru mengenai pentingnya hutan hulu sebagai penyangga kehidupan sekaligus benteng terakhir keanekaragaman hayati di Jawa Timur.

Jofanny menutup dengan penegasan, “Kalau hutan hulu rusak, semua yang ada di bawahnya ikut terancam. Karena itu, memahami Wonosalam berarti memahami masa depan lingkungan kita,” tuturnya.

Siswa diperkenalkan metode biomonitoring dan pengukuran parameter fisika-kimia seperti TDS, DO, suhu, klorin, fosfat, dan amonia. Dengan memahami data kualitas air, mereka belajar membaca tanda-tanda kesehatan sungai secara ilmiah dan langsung dari lapangan. | Foto: Dok Ecoton

#Kolaborasi dengan Komunitas Lokal untuk Menjaga Hutan dan Mata Air

Keunikan lain dari program ini adalah keterlibatan langsung komunitas lokal, terutama kelompok pelestari hutan dan penjaga mata air.

Peserta dapat belajar bagaimana warga menjaga hutan melalui pemanfaatan hasil hutan non-kayu seperti madu, kremir, dan teh rumahan yang dikelola secara berkelanjutan.

Model ekonomi ekologis seperti ini dianggap penting untuk memastikan pelestarian lingkungan tetap sejalan dengan kesejahteraan masyarakat desa.

Program ini juga mencakup kegiatan menanam pohon di kawasan hulu, yang bertujuan memulihkan tutupan vegetasi dan menjaga debit mata air. Wisatawan tidak hanya diundang untuk menanam, tetapi juga memahami hubungan antara tutupan hutan, kualitas air, dan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim.

Dengan menggabungkan aktivitas wisata, edukasi, dan riset, Citizen Science Tourism di Wonosalam muncul sebagai contoh bagaimana ekowisata dapat menjadi gerakan pelestarian yang inklusif.

Ecoton berharap program ini menjadi model yang dapat diterapkan di daerah aliran sungai lainnya di Indonesia.***

Informasi
udineecoton@gmail.com

Lokasi Wonosalam
Kedai Tanah Senja, Wonosalam Jombang
Jawa Timur

Kontak kami
+62 813 3180 2002
+62 821 4149 4449

Instagram
@brantasecotourism
@kedaitanahsenja

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *