RISET pertama Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) mengenai mikroplastik punya cerita yang akarnya tidak dimulai dari laboratorium, melainkan dari bau anyir sungai, popok-popok menggembung, dan suara garuk yang mengais di tepian Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
Tahun itu, 2017, para peneliti muda ECOTON menginisiasi aksi memungut limbah popok sekali pakai melalui Brigade Evakuasi Popok—BEP atau akrab disebut Brigade Kuapok—sebuah kelompok relawan yang mereka bentuk untuk menandai darurat sampah domestik di DAS Brantas.
Aksi pemungutan popok itu dilakukan di Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, hingga Surabaya pada Senin, 26 Juli 2017—hari yang kini kerap dikenang sebagai titik mula kesadaran besar bahwa sesuatu di perut di sepanjang DAS Brantas tak lagi baik-baik saja.
Berbekal garuk, jaring, tongkat pengait, dan tempat sampah, tim BEP menelusuri bantaran sungai sambil memungut popok-popok bayi yang tersangkut pada ranting, akar, maupun yang mengambang mengikuti arus.
Mereka bukan sekadar memunguti sampah, tapi sedang membaca gejala. Setiap popok yang terangkat menjadi semacam petunjuk, serpihan kecil dari cerita besar tentang kebiasaan masyarakat – sanitasi yang rapuh, dan manajemen sampah yang tidak mengalami inovasi, juga perbaikan yang signifikan.

Koordinator Aksi BEP Azis kala itu menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah berjalan sejak Juli, berdasar keprihatinan terhadap sungai-sungai Jawa Timur yang kian sesak oleh limbah domestik.
“Popok bayi persentasenya 37% dari keseluruhan sampah yang mencemari sungai. Sudah di tujuh kota-kabupaten yang kita sisir. Ada Mojokerto, Gresik, Surabaya terutama yang bagian hilir. Bagian hulu ada Batu, Kota Malang. Kemudian di tengah ada Jombang, selanjutnya Sidoarjo,” terang Aziz kepada wartawan BBC Indonesia, Rony Fauzan.
Pernyataan itu kemudian menjadi rambu, air yang tercemar popok bukan hanya soal bau dan estetika, tapi tentang bahan baku mikroplastik yang suatu hari akan masuk ke makhluk hidup.

#Jejak Mikroplastik Terbaca dari Perut Ikan
Setahun berselang, pada Juli 2018, di tepian Sungai Brantas yang mengalir malas namun memanggul sejarah panjang Jawa Timur, sebuah temuan lain membelah ketenangan. Kali ini para peneliti ECOTON datang bukan dengan karung sampah, tetapi dengan kamera, pisau bedah kecil, dan protokol riset.
Mereka awalnya hanya berniat memetakan polusi limbah industri—pekerjaan yang tidak asing bagi mereka. Namun, ketika perut ikan dibelah, serpihan plastik, potongan film bening, hingga fiber tipis muncul seperti puzzle masa depan yang sesungguhnya tak ingin kita lihat.
Pada titik itulah riset mikroplastik di Indonesia menemukan pijakan ilmiahnya. ECOTON membedah lambung berbagai spesies ikan Sungai Brantas, Bader, Nila, Keting, Rengkik, Jendil, hingga Dukang. Hasilnya mengejutkan. Serpihan dan fiber plastik bukan lagi dugaan—ia benar-benar menetap dalam tubuh ikan-ikan itu.
Dengan metode mikroskopik, para peneliti menemukan konsentrasi serpihan paling banyak pada ikan rengkik dan keting, dua jenis ikan favorit warga karena tidak berduri dan masih banyak ditemukan di Brantas.
“Dua ikan ini sering dikonsumsi masyarakat,” kata Andreas Agus, peneliti perilaku makan ikan ECOTON, dalam laporan Suara Surabaya. “Dan di lambung keduanya, kami temukan fiber dan serpihan plastik yang cukup signifikan.”
Serpihan-serpihan itu mengguncang batas pikiran para peneliti. Mereka mulai menyadari bahwa plastik memiliki kehidupan kedua – dan ketiga. Ia tidak berhenti di tong sampah, tidak berhenti tersangkut di tepian sungai. Ia terus berkelana, masuk ke tubuh ikan, kemudian ke tubuh manusia yang memakan ikan itu. Dari popok yang hanyut hingga partikel tak kasat mata di perut ikan, semua itu merupakan satu alur yang sebelumnya tak terlihat.
“Itu momen pertama kami sadar,” ujar Prigi Arisandi, pendiri ECOTON, kepada Greeners.co. “Bahwa plastik melanjutkan hidupnya di sungai, di tubuh ikan, dan pada akhirnya di tubuh manusia.”

Dari aksi memunguti popok hingga bedah lambung ikan, rangkaian peristiwa itu membentuk satu narasi yang kini menjadi fondasi riset mikroplastik di Indonesia, bahwa sungai mengingat segala yang kita buang, dan suatu hari, ia mengembalikannya – dalam bentuk paling halus dan paling sulit kita tolak.
#2018: Tahun Ketika Ikan Jadi Saksi
Riset lapangan itu berlangsung Juli hingga November 2018, di beberapa titik Sungai Brantas yang mengalir melewati Malang, Jombang, Gresik, Sidoarjo, hingga Surabaya. ECOTON menemukan bahwa ikan-ikan air tawar lokal, terutama famili Cyprinidae, sudah menelan partikel mikroplastik dari fragmen popok sekali pakai dan limbah rumah tangga.
Data yang kemudian dirangkum ECOTON menunjukkan bahwa setiap ikan mengandung 10–40 partikel mikroplastik di saluran pencernaannya. Tak hanya itu, air sungai di sekitar pembuangan limbah pabrik mengandung partikel plastik dalam jumlah mencengangkan—bahkan sebelum mencapai daerah padat penduduk.
“Sungai kita jadi tempat pembuangan akhir tanpa plang,” ujar Prigi. “Tapi ironisnya, dari sinilah PDAM mengambil air baku untuk jutaan orang.”
Dari temuan itu, Ecoton memperkenalkan istilah “from fish to faucet”—dari ikan ke keran air. Artinya, jika ikan di sungai mengandung plastik, begitu pula air yang kita minum.
#Dari Sungai ke Meja Makan
Setelah temuan di Sungai Brantas, ECOTON memperluas riset ke air minum isi ulang dan air ledeng di sekitar Surabaya dan Gresik. Hasilnya bikin miris, seluruh sampel air minum mengandung mikroplastik.
“Bahkan air galon isi ulang pun tak luput. Ini berarti kita menelan partikel plastik setiap hari,” kata Moh. Alaika Rahmatullah, Kepala Divisi Edukasi dan Kampanye ECOTON.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelMereka juga menemukan bahwa sumber utama mikroplastik berasal dari limbah pabrik daur ulang plastik, popok sekali pakai, dan pembakaran sampah terbuka.
Popok yang mengandung serat sintetis (polypropylene, polyester) terurai di air menjadi fiber mikroplastik yang kemudian dimakan plankton, lalu ikan, lalu manusia. Rantai makanan modern, rupanya, sudah mengandung plastik sejak di sungai.
“Kalau dulu slogan kita ‘dari petani ke meja makan’, sekarang ‘dari limbah ke meja makan’,” ujar Alex, sapaan Alaika Rahmatullah setengah getir.

#2021–2022: Mikroplastik di Udara dan Teh Celup
Tiga tahun setelah riset pertama itu, ECOTON memperluas fokus, mikroplastik di udara dan makanan. Pada 2021, mereka bersama Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) meneliti udara di 18 kota Indonesia. Hasilnya? Jakarta menempati peringkat pertama dalam paparan mikroplastik di udara: 37 partikel dalam dua jam pengambilan sampel.
Metodenya sederhana tapi efektif, cawan petri diletakkan setinggi 1,5 meter, sejajar dengan tinggi hidung manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa udara kota membawa partikel plastik dari pembakaran sampah, debu jalanan, dan serat pakaian sintetis. Udara yang kita hirup, rupanya, juga “berplastik”.
Tak berhenti di situ, ECOTON menguji lima merek teh celup populer Indonesia pada tahun 2022. Hasilnya? Semua mengandung mikroplastik. Ketika diseduh dengan air panas, kantong teh berbahan nilon dan polietilen melepaskan ribuan partikel mikroplastik ke dalam air seduhan.
“Kamu kira lagi minum teh chamomile, tapi ternyata lagi minum plastik versi herbal,” canda Prigi dalam sebuah wawancara publik. Tapi di balik humornya, ada ironi, bahkan kebiasaan sederhana seperti minum teh kini menjadi jalur mikroplastik masuk ke tubuh manusia.
#Dari Citizen Science ke Advokasi Kebijakan
Riset-riset ECOTON bukan sekadar publikasi ilmiah. Sejak awal, mereka memosisikan temuan-temuan itu sebagai alat advokasi. Kampanye #TolakPlastikSekaliPakai dan #SelamatkanBrantas digelar besar-besaran. Warga diajak menjadi “citizen scientist”: mengumpulkan sampel air, mengidentifikasi mikroplastik, lalu melaporkannya secara daring. Sains tidak lagi eksklusif di laboratorium—ia dibawa ke tepi sungai dan ruang-ruang warga.
Bersama universitas seperti UNAIR Surabaya, ITS Surabaya, UWG Malang, serta beberapa perguruan tinggi lain di Jawa Timur, ECOTON menyusun draf baku mutu mikroplastik nasional, sebuah dokumen kebijakan yang kini tengah dibahas oleh KLHK dan BRIN.
“Kita perlu standar, supaya pemerintah tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu,” kata Alex. “Selama ini plastik dianggap masalah ‘sampah’, padahal ini sudah masuk kategori masalah kesehatan publik.”
Namun kampanye dan edukasi yang dilakukan ECOTON tidak berhenti di perguruan tinggi. Mereka masuk ke sekolah-sekolah menengah atas, mengajak siswa memeriksa mikroplastik dari air di rumah mereka sendiri. Masyarakat umum—dari ibu rumah tangga, nelayan sungai, sampai kelompok pemuda desa—juga menjadi sasaran utama. Bagi ECOTON, advokasi yang kuat harus dibangun dari pengetahuan publik.
“Ini yang perlu kami lakukan,” tambah Prigi Arisandi. “Karena kalau kita hanya terus mendesak pemerintah, selalu muncul alasan. Lihat saja, di satu sisi mereka bicara pengurangan plastik, tapi di sisi lain memberi contoh dengan mendukung proyek besar seperti Chandra Asri yang siap bangun pabrik Rp 15 triliun dan masuk PSN Prabowo. Publik harus paham kontradiksi ini.”
#2025: Dari Brantas ke Dunia
Kini, tujuh tahun setelah riset pertama di Brantas, ECOTON sudah menjadi rujukan nasional soal mikroplastik. Laporan mereka dibawa ke World Water Forum, menjadi masukan dalam Perundingan Traktat Global Plastik (INC-5) di Korea Selatan, November–Desember 2024.
Mikroplastik Indonesia kini jadi perhatian global—bagaimana negara dengan konsumsi plastik tinggi, tapi sistem pengelolaan sampah rapuh, menghadapi krisis yang tak kasat mata.
“Ini bukan hanya tentang Brantas,” kata Prigi. “Ini tentang setiap napas, setiap teguk air, setiap sendok nasi yang kita makan.”
Perhatian internasional juga mendorong ECOTON memperbarui metodologi risetnya. Mereka kini mengombinasikan analisis spektroskopi dengan pelibatan warga sebagai ilmuwan akar rumput. “Data kami bukan hanya angka,” ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON. “Ini potret nyata bagaimana plastik menyusup ke ruang paling intim kehidupan.”
Rafika menegaskan bahwa ancaman terbesar justru datang dari partikel mikro yang tak terlihat mata. Ia menyebut banyak orang belum menyadari bahwa paparan terjadi setiap hari, bahkan di dalam rumah. “Kami menemukan mikroplastik di udara ruang tamu warga,” kata Rafika. “Begitu kecil, tapi dampaknya bisa raksasa.”
#Sungai Itu Cermin Diri Kita
Di ujung cerita ini, sungai kembali jadi metafora kehidupan. Ia menerima semua, limbah, air mata, dan plastik. Tapi seperti manusia, ia juga punya batas.
Kalau sungai kita sudah penuh mikroplastik, berarti kita pun sudah setengah jalan ke sana.
“Masalahnya bukan sekadar plastik,” tutup Alaika. “Masalahnya: kita sudah terlalu lama menganggap plastik itu enteng. Padahal dia yang paling berat meninggalkan jejak.”
Dan mungkin, saat kita minum teh pagi ini, kita meneguk sedikit bagian dari Sungai Brantas—dalam bentuk partikel plastik yang tak pernah benar-benar pergi.***
Referensi Sumber
- BBC Indonesia – Tiga juta popok bayi’ setiap hari cemari Sungai Brantas di Jawa Timur (2017)
- Suara Surabaya – Ecoton Temukan Ikan Kali Brantas Mengkonsumsi Sampah Plastik (2018)
- Greeners.co – Plastic Waste Found in the Stomach of Fish of Brantas River (2018)
- Wilson Center – Insight Out Report (2021)
- ECOTON Journal – Analisis Kelimpahan Mikroplastik pada Limbah Pabrik (2022)
- Detik.com – Riset ECOTON Ungkap Mikroplastik di Udara (2024)
- ECOTON – 5 Indonesian Tea Bags Contain Microplastics (2022)
- ECOTON – Dokumen Kajian Baku Mutu Mikroplastik (2024)
- ECOTON – Global Plastic Treaty, Korea Selatan (2025)