Peringatan Hari Satu Juta Pohon kembali membuka perdebatan lama soal masa depan hutan Indonesia. Para ahli menegaskan bahwa sawit tak bisa menggantikan fungsi ekologis hutan, meski kontribusi ekonominya tak terbantahkan.
#Pohon sebagai Penopang Kehidupan yang Tak Tergantikan
Indonesia dan dunia memperingati Hari Satu Juta Pohon setiap 10 Januari sebagai momentum refleksi tentang pentingnya vegetasi bagi keberlanjutan kehidupan. Di Indonesia, peringatan ini telah berlangsung sejak era pemerintahan Soeharto pada 1993.
Namun di tengah kampanye penghijauan, muncul kembali perdebatan mengenai apa yang sebenarnya layak disebut sebagai pohon, terutama setelah pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut kelapa sawit sebagai “pohon” yang tidak perlu ditakuti karena dianggap dapat mendukung reforestasi.

Untuk memahami isu ini lebih jauh, CNN Indonesia pernah menurunkan laporan lapangan yang menampilkan wawancara dengan dua ahli: Wi Hermanto, kurator koleksi hayati BRIN, dan Prof. Herry Purnomo, peneliti senior CIFOR-ICRAF. Keduanya memberikan penjelasan yang bertolak belakang dengan narasi bahwa kelapa sawit dapat diperlakukan sebagai pohon hutan.
Dalam video yang diunggah di kanal YouTube CNN Indonesia pada 10 Januari 2025, tidak disebutkan lokasi persis wawancara. Namun dalam laporan tersebut, Wi Hermanto tampak memperlihatkan bagaimana pepohonan, khususnya beringin putih (Ficus albipila), berfungsi sebagai “pohon kehidupan”.
Wi menunjukkan koloni semut, serangga, dan epifit yang hidup di bawah serta menumpang pada batang beringin. Buahnya menjadi makanan bagi burung, musang, hingga ikan ketika jatuh ke sungai. Ia juga memperlihatkan pasangan alami antara meranti dan beringin, dua jenis pohon yang sering tumbuh berdampingan di hutan Sumatera dan Kalimantan.
Menurut Wi, hubungan ekologis tersebut tidak dapat digantikan oleh satu jenis tanaman, apalagi oleh perkebunan monokultur. “Hutan itu bukan hanya pohon yang berdiri sendiri. Ia adalah rumah, sumber pakan, dan jaringan kehidupan yang lengkap,” ujarnya.
#Apakah Kelapa Sawit Bisa Disebut Pohon? Para Ilmuwan Menjawab
Pertanyaan tentang status sawit sebagai pohon menjadi sorotan ketika Presiden Prabowo menyinggung bahwa sawit juga “pohon”, lengkap dengan daun dan batang, sehingga tak perlu dikhawatirkan sebagai penyebab deforestasi. Namun para ilmuwan mengatakan hal sebaliknya.
“Sawit bukan pohon,” kata Prof. Herry Purnomo tegas. Ia menjelaskan bahwa secara botani, pohon sejati memiliki jaringan kayu, kambium, silem, dan floem, struktur yang memungkinkan pembentukan kayu dan pertumbuhan diameter batang. Kelapa sawit tidak memiliki struktur tersebut.
“Secara ilmiah, sawit adalah tanaman berbuah. Ia bukan pohon berkayu seperti jati atau mahoni,” ujarnya.
Meski demikian, Prof. Herry mengakui peran ekonomi sawit yang cukup besar. Indonesia merupakan eksportir minyak sawit terbesar di dunia, dengan nilai ekspor mencapai sekitar Rp400 triliun per tahun. Namun ia menekankan bahwa fungsi ekonomi sawit tidak bisa disamakan dengan fungsi ekologis pepohonan hutan.

#Sawit dan Hutan: Dua Ekosistem dengan Dampak yang Sangat Berbeda
Perdebatan publik semakin memanas ketika sebuah unggahan di platform X menyatakan bahwa “sawit tidak bisa menggantikan hutan” dan penyebarannya disebut sebagai bentuk deforestasi. Unggahan itu menjadi viral dan memicu diskusi baru tentang apakah sawit layak dianggap sebagai bagian dari upaya penghijauan.
Dari data Foreign Agricultural Service USDA tahun 2024–2025, produksi minyak sawit Indonesia mencapai 46 juta ton per tahun, jauh melampaui Malaysia. Selama satu dekade terakhir, produksi meningkat dari 28 juta ton menjadi 47 juta ton. Namun pertumbuhan pesat ini diiringi pembukaan lahan besar-besaran di sejumlah wilayah.
Hatma Suryatmojo, peneliti hidrologi hutan dari UGM, mengatakan bahwa “hijau sawit” sama sekali berbeda dengan “hijau hutan”.
Hutan tropis memiliki struktur vegetasi berlapis, dengan tajuk tinggi, tanaman bawah, dan serasah tebal di lantai hutan. Hal ini menciptakan kekasaran permukaan yang tinggi, sehingga hutan sangat efektif mengendalikan air hujan.
“Kebun sawit tidak bisa menggantikan fungsi hutan alam, baik secara hidrologi maupun ekologi,” kata Hatma kepada Kompas pada Sabtu, 6 Desember 2025.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Pada kebun sawit, lantai kebun biasanya dibersihkan untuk mempermudah panen. Tidak ada serasah tebal yang menahan pukulan air hujan. Tidak ada tajuk berlapis. Tidak ada keberagaman flora dan fauna yang dapat menjaga stabilitas ekosistem.
Akibatnya, kemampuan kebun sawit dalam mengendalikan limpasan air jauh lebih rendah. Risiko erosi meningkat. Sedimentasi sungai bertambah. Dan ketika hujan ekstrem datang, potensi banjir lebih tinggi dibandingkan wilayah berhutan.
#Dampak Hidrologi: Mengapa Sawit Tak Mampu Menggantikan Fungsi Hutan
Dalam penjelasan lebih mendalam, Hatma memaparkan perbedaan mendasar antara hutan alam dan perkebunan sawit dari sudut pandang hidrologi. Pada hutan alam, air hujan tertahan oleh lapisan-lapisan vegetasi sebelum menyentuh tanah. Serasah tebal dan struktur tanah yang kaya bahan organik membantu penyerapan air, sehingga limpasan permukaan sangat rendah.
Sebaliknya, kebun sawit hanya memiliki satu lapis tajuk dengan struktur tanah yang cenderung padat. Lantainya bersih, sehingga air hujan langsung memukul tanah. Hal ini memperbesar potensi aliran permukaan, meningkatkan erosi, dan mempercepat sedimentasi sungai.
“Keanekaragaman hayati sawit jelas jauh lebih rendah dibandingkan hutan. Kebun sawit tidak memiliki kompleksitas yang diperlukan untuk mengatur siklus air,” jelas Hatma.
Ia menekankan bahwa dampak hidrologi bukan sekadar isu teknis, tetapi berkaitan langsung dengan banjir, longsor, dan degradasi DAS yang kini sering terjadi di Indonesia.
Di banyak wilayah, alih fungsi hutan menjadi kebun sawit diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya banjir bandang dalam beberapa tahun terakhir.
#Mencegah Banjir dan Longsor: Mempertahankan Hutan Adalah Harga Mati
Ketika ditanya tentang cara terbaik mencegah banjir dan longsor di wilayah yang telah didominasi kebun sawit, Hatma menjawab tanpa ragu: mempertahankan hutan alam yang tersisa. “Hutan tersisa harus dipertahankan. Itu harga mati,” tegasnya.
Ia mengatakan bahwa wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) harus dipulihkan ke bentuk alaminya sebagai kawasan lindung. Reklamasi dan reforestasi perlu difokuskan pada pengembalian struktur hutan, bukan memperluas tanaman monokultur seperti sawit atau tanaman industri lainnya.
Menurutnya, pemulihan DAS harus berbasis ekologi, bukan sekadar estetika. Penghijauan tidak boleh dipahami sebagai menanam tanaman apa saja yang berwarna hijau, tetapi mengembalikan keanekaragaman dan struktur vegetasi yang memungkinkan fungsi pengendalian air kembali berjalan.
“Penggunaan lahan di hulu DAS harus dipulihkan. Ini satu-satunya jalan untuk melindungi wilayah di bawahnya,” kata Hatma.
#Bijak Menanam untuk Masa Depan Indonesia
Momentum Hari Satu Juta Pohon mengingatkan bahwa menanam pohon bukan sekadar menambah jumlah tanaman, tetapi memulihkan ekosistem yang menopang kehidupan jutaan makhluk. Kelapa sawit, meski menguntungkan ekonomi, tidak memiliki fungsi ekologis yang sama dengan pepohonan hutan.
Para ahli sepakat bahwa Indonesia membutuhkan strategi penanaman yang cermat, mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan keselamatan ekologis. Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya bencana hidrometeorologi, masa depan hutan Indonesia ditentukan oleh kemampuan negara ini menempatkan fungsi ekologi sebagai landasan utama.***