Lewati ke konten

SD Muhammadiyah 3 Ikrom Gandeng Ecoton Edukasi Warga Sidoarjo Kelola Sampah Organik di Bulan Ramadan

| 5 menit baca |Ekologis | 11 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Alaika Rahmatullah Editor: Supriyadi

Bulan Ramadan dimanfaatkan siswa dan warga Sidoarjo untuk belajar mengelola sampah dari sumbernya, memperkuat peran sekolah sebagai penggerak perubahan lingkungan berbasis masyarakat.

Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran sekaligus aksi nyata peduli lingkungan di Kabupaten Sidoarjo. SD Muhammadiyah 3 Ikrom, Wage, Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, bersama Lembaga Kajian Lahan Basah Ecoton menggelar kegiatan yang berbeda dari aktivitas yang biasa dilakukan kebanyakan lembaga pendidikan.

Kegiatan bertema “Isi Ramadan dengan Belajar Gaya Hidup Ramah Lingkungan” berlangsung di RT 5, RW 3, Desa Wage dengan melibatkan kader Adiwiyata sekolah serta warga sekitar.

Program dirancang dalam bentuk sosialisasi, diskusi, hingga praktik langsung pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 3 Ikrom, Nur Suciati, menegaskan kegiatan yang digelar para siswa bersama warga ini telah menjadi bagian dari komitmen sekolah untuk menghadirkan dampak nyata hingga ke lingkungan masyarakat.

Menurut dia, sekolah memiliki tanggungjawab sosial dalam membangun kesadaran lingkungan masyarakat.

“Kegiatan ini dalam rangka sekolah memberikan dampak kepada lingkungan sekitar, melibatkan kader Adiwiyata untuk diajak sosialisasi dan praktik pengelolaan sampah organik di RT 5, RW 3, Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Sekaligus mendorong kader Adiwiyata agar benar-benar berdampak di masyarakat,” ujar Nur Suciati di sela kegiatan, Sabtu (28/2/2026).

Suasana Ramadan dinilai menjadi momentum tepat karena masyarakat sedang berada dalam fase refleksi dan perubahan perilaku. Nilai pengendalian diri yang diajarkan selama puasa dianggap selaras dengan upaya mengurangi konsumsi berlebihan serta membangun kebiasaan ramah lingkungan.

Para siswa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga berperan sebagai fasilitator edukasi kepada warga. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak sebagai agen perubahan lingkungan sejak usia dini.

Ibu-ibu PKK Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, mempraktikkan pembuatan kompos dan fermentasi eco enzyme sebagai upaya mengelola sampah organik dari sumber rumah tangga. | Foto: Alaika

#Sampah Organik Jadi Fokus Utama

Dalam sesi edukasi, Koordinator Zero Waste Cities Ecoton, Firly Mas’ulatul Janah menjelaskan persoalan sampah di Indonesia masih didominasi oleh sampah organik. Komposisi sampah rumah tangga, menurut data yang disampaikan, mencapai 40–60 persen berupa sisa makanan dan limbah dapur.

“Sampah kita didominasi oleh sampah organik dengan komposisi 40–60 persen, sisanya residu dan daur ulang. Karena itu, pengelolaan yang tepat harus dimulai dari sumbernya,” kata Firly.

Pengolahan dari tingkat rumah tangga dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir. Warga diajak mempraktikkan pembuatan kompos serta eco enzyme dari sisa dapur, daun kering, dan limbah organik lainnya.

Metode ini dinilai memberikan manfaat ganda. Selain menekan volume sampah yang dibuang ke TPA, hasil pengolahan dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk maupun cairan pembersih alami.

Firly menambahkan, perubahan sistem pengelolaan sampah membutuhkan partisipasi langsung masyarakat. Kebijakan pemerintah dinilai tidak akan berjalan optimal tanpa perubahan perilaku di tingkat keluarga.

“Jika rumah tangga mulai memilah dan mengolah sampah organik sendiri, maka beban TPA bisa berkurang signifikan. Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil di rumah,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Edukasi berlangsung interaktif. Warga mengajukan pertanyaan seputar bau kompos, waktu fermentasi eco enzyme, hingga cara memilah sampah yang praktis dilakukan di rumah. Pendekatan praktik langsung membuat materi lebih mudah dipahami dibanding penyuluhan satu arah.

Para siswa mengikuti pembelajaran praktik pengelolaan sampah yang baik dan benar sebagai bagian dari edukasi gaya hidup ramah lingkungan di Desa Wage, Taman, Sidoarjo. | Foto: Alaika

#Peran Masyarakat dan Harapan Keberlanjutan

Selain sampah organik, persoalan plastik sekali pakai turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Manager Refilin, Jofanny Ahmad menyoroti meningkatnya volume sampah plastik, terutama kemasan saset yang sulit didaur ulang.

“Tidak hanya sampah organik, tapi sampah plastik juga menjadi masalah terutama jenis saset. Pengurangan dan sistem guna ulang menjadi jawaban terhadap melubernya sampah plastik di lingkungan,” tegas Jofanny.

Menurut dia, kebiasaan konsumsi praktis tanpa pengurangan dari sumber akan membuat persoalan sampah terus berulang. Ketergantungan pada plastik sekali pakai berpotensi menciptakan lingkaran masalah lingkungan yang sulit dihentikan.

Dukungan masyarakat terlihat dari keterlibatan aktif kelompok PKK setempat. Ketua PKK, Sutiani Suwito, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi warga.

“Memang penting menyelesaikan sampah sejak dari sumber. Kegiatan ini sangat positif, apalagi dilakukan di bulan Ramadan yang menjadi momentum refleksi dan perbaikan diri,” ujar Sutiani.

Menurut Sutiani, pelatihan pembuatan eco enzyme menarik minat warga karena hasilnya dapat digunakan sebagai cairan multiguna, mulai dari sabun pel, sabun cuci tangan, hingga pupuk tanaman.

Antusiasme warga menjadi sinyal bahwa pendekatan berbasis komunitas memiliki peluang besar untuk berkembang. Kegiatan tersebut juga diharapkan tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan berlanjut dalam bentuk pendampingan rutin.

Nur Suciati menambahkan, Ramadan menjadi titik awal untuk memperluas peran kader Adiwiyata. Para siswa diharapkan mampu menggerakkan perubahan perilaku lingkungan di rumah dan masyarakat.

Kesadaran ekologis, menurut dia, perlu ditanamkan sejak dini agar kepedulian terhadap bumi tumbuh bersama nilai sosial dan spiritual. Keterlibatan anak-anak dalam kegiatan lapangan memberikan harapan munculnya generasi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Yang membuat kami semangat adalah keterlibatan anak-anak yang sudah ditanamkan nilai kepedulian lingkungan. Harapannya, sekolah lain juga dapat menerapkan model seperti ini,” kata Nur Suciati.

Melalui kolaborasi sekolah, komunitas lingkungan, dan warga, Ramadan tahun ini menjadi ruang belajar bersama tentang perubahan gaya hidup. Dari halaman rumah hingga ruang komunitas, langkah kecil pengelolaan sampah mulai membangun kebiasaan baru menuju lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.***

*) Alaika Rahmatullah, Divisi Edukasi dan Kampanye Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton).

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *