Lewati ke konten

Seni Menempel Daun Kering di Desa Bangun Mojokerto

| 3 menit baca |Rekreatif | 42 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Siti Zumaro Editor: Supriyadi

Di tangan siswa MI Nailul Ulum, sampah daun bukan lagi limbah. Mahasiswa KKN Universitas Uluwiyah mengubahnya menjadi medium kreasi visual sekaligus pesan kuat menjaga kelestarian alam.

Suara riuh rendah memenuhi ruang kelas 4 dan 5 MI Nailul Ulum, Desa Bangun, Pungging, Mojokerto, Jawa Timur pada Selasa, 24 Februari 2026. Di atas meja kayu yang biasanya penuh dengan buku cetak, kini berserakan berbagai jenis daun kering, mulai dari cokelat tua yang rapuh hingga kuning keemasan yang masih liat.

Jemari mungil para siswa tampak sibuk memilih, menggunting, dan mengoleskan lem dengan penuh ketelitian.

Ini bukan pelajaran seni biasa. Para mahasiswa KKN dari Universitas Uluwiyah Mojokerto sedang menyulap ruang kelas menjadi bengkel kreativitas. Mengusung konsep edukasi berbasis lingkungan, mereka menantang imajinasi anak-anak melalui lomba kolase daun kering.

Di tangan mereka, dedaunan yang gugur di halaman sekolah tak lagi berakhir di tempat sampah atau tungku pembakaran, melainkan menjelma menjadi siluet pemandangan, hewan, hingga pola abstrak yang estetik.

#Melatih Sabar Lewat Tekstur Alam

Membuat kolase dari bahan alami memerlukan ketelatenan ekstra. Tidak seperti kertas warna yang seragam, daun kering memiliki tekstur yang tidak rata dan tingkat kerapuhan yang berbeda.

Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Para peserta dilatih untuk memahami karakter bahan; kapan harus menekan dengan lembut agar daun tidak hancur, dan bagaimana menyusun gradasi warna alami agar karya terlihat hidup.

“Kami ingin mereka paham bahwa dari bahan sederhana yang sering dianggap sampah, bisa lahir karya yang indah dan bernilai,” ujar Muh. Mahdum Ja’far, Ketua KKN Universitas Uluwiyah, Mojokerto ini.

Baginya, kegiatan ini adalah jembatan pendidikan kontekstual. Siswa tidak hanya belajar teori estetika, tetapi langsung bersentuhan dengan elemen lingkungan mereka sendiri. Motorik halus, kesabaran, dan kemampuan berpikir kritis diasah secara bersamaan dalam satu bidang karton.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Antusiasme yang meluap dari para siswa menunjukkan bahwa metode pembelajaran luar ruang atau berbasis proyek seperti ini sangat dirindukan. Imajinasi mereka liar melampaui batas garis sketsa, membuktikan bahwa kreativitas tidak membutuhkan bahan-bahan mahal.

Mahasiswa KKN Universitas Uluwiyah Mojokerto mendampingi siswa MI Nailul Ulum, Desa Bangun, saat lomba kolase daun kering, 24 Februari 2026. Melalui kegiatan ini, siswa dilatih mengasah kreativitas, ketelitian, serta belajar memanfaatkan bahan alam sederhana menjadi karya seni. | Dok KKN

#Menanam Karakter di Tanah Bangun

Inisiatif ini mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah. Kepala MI Nailul Ulum, Siti Mahmudah, melihat ada pesan moral yang lebih dalam dari sekadar perlombaan.

Menurutnya, karakter peduli lingkungan harus ditanamkan sejak dini, namun dengan cara yang menyenangkan agar tidak terasa seperti doktrin yang membosankan.

“Kegiatan ini sangat baik untuk membangun karakter. Anak-anak belajar menghargai alam melalui karya seni,” tuturnya.

Sinergi antara mahasiswa dan guru di Desa Bangun ini menciptakan preseden penting: bahwa pendidikan karakter bisa dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kaki kita—seperti selembar daun kering.

Kegiatan ini diakhiri dengan pameran kecil di dalam kelas. Deretan karya yang telah selesai tertempel rapi, menampilkan keberagaman perspektif anak-anak Desa Bangun terhadap alamnya. Lewat kolase ini, mahasiswa KKN Universitas Uluwiyah Mojokerto sukses meninggalkan jejak edukasi yang tidak hanya membekas di atas kertas, tapi juga di memori hijau para generasi penerus.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *