PEMANASAN global bukan lagi sekadar grafik naik-turun di catatan pejabat konferensi iklim. Menurut laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change 2025, kini satu orang meninggal setiap menit akibat suhu ekstrem di seluruh dunia.
Selama 2012–2021, angka kematian akibat panas melonjak 23 persen dibanding era 1990-an, mencapai rata-rata 546 ribu jiwa per tahun.
Ollie Jay, peneliti dari University of Sydney, sampai geleng-geleng kepala, “Setiap kematian akibat panas itu bisa dicegah. Tapi kita justru memperlakukan panas ekstrem seperti keringat biasa.”
#Subsidi BBM Jalan Terus, Tapi Petani Malah Kalah Panas
Yang bikin makin ironis, pemerintah di berbagai negara masih menggelontorkan subsidi US$2,5 miliar per hari untuk industri bahan bakar fosil—sementara masyarakat kehilangan jumlah yang sama karena tak sanggup bekerja di bawah terik ekstrem.
Bayangkan, petani gagal panen, pekerja konstruksi tumbang, tapi perusahaan minyak tetap dibayar.
Padahal, laporan itu juga mencatat bahwa pengurangan batu bara dalam satu dekade terakhir telah menyelamatkan sekitar 400 nyawa per hari. Tapi entah kenapa, “selamatkan nyawa” masih kalah menarik dibanding “selamatkan saham”.
#Polusi, Nyamuk, dan Kebakaran: Trio Maut Dunia Fosil
Dampak bahan bakar fosil bukan cuma soal panas. Laporan tersebut juga menyoroti lonjakan polusi udara beracun, penyebaran penyakit seperti demam berdarah, serta kebakaran hutan yang kini jadi langganan tiap musim kemarau.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelAsap pekat dari kebakaran di Santa Juana, Chili, misalnya, jadi simbol dunia yang terlalu santai menonton planetnya terbakar.
“Dunia masih kecanduan minyak, batu bara, dan gas,” ujar Marina Romanello dari UCL. “Dan kecanduan itu sedang membunuh kita—pelan tapi pasti.”
#Dunia Panas, Pemimpin Dingin
Lancet Countdown tahun ini dibuat oleh 128 ahli dari lebih 70 lembaga dan badan PBB, termasuk WHO. Mereka sepakat: kalau kebijakan iklim terus diutak-atik seenaknya—seperti yang dikhawatirkan jika para pemimpin populis kembali berkuasa—masa depan yang sehat cuma akan jadi ilusi.
Setiap tahun, manusia kehilangan 639 miliar jam kerja karena suhu ekstrem. Di negara berkembang, itu setara dengan 6 persen PDB yang lenyap begitu saja.
Sayangnya, para pemimpin dunia masih berdebat soal “kapan tepatnya” mau serius bertindak. Padahal, seperti kata laporan itu: bencana iklim tidak menunggu rapat kabinet selesai.