Lewati ke konten

Refilin Kampanyekan Isi Ulang di Muskerwil PKB Jawa Timur

| 4 menit baca |Mikroplastik | 23 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Supriyadi

Refilin membuka booth pengurangan plastik sekali pakai di Muskerwil PKB Jawa Timur. Edukasi mikroplastik dan instalasi seni menjadi cara baru menyuarakan krisis lingkungan di ruang politik.

Forum politik biasanya identik dengan pembahasan strategi organisasi dan arah kebijakan. Suasana berbeda tampak dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Timur di Surabaya, Sabtu, 14 Februari 2026. Di antara peserta yang datang mengenakan atribut partai, berdiri sebuah booth bertema pengurangan sampah plastik sekali pakai milik Refillin.

Inisiatif ekonomi sirkular itu menghadirkan layanan isi ulang produk kebutuhan harian sekaligus ruang edukasi lingkungan. Peserta Muskerwil diajak membawa wadah sendiri untuk mengisi ulang sabun, cairan pembersih, maupun produk rumah tangga lainnya.

Konsep sederhana itu menjadi pesan utama, kegiatan besar pun dapat berlangsung tanpa bergantung pada kemasan sekali pakai.

Manager Operasional Refil Keling, Jofany Ahmad mengatakan, kehadiran Refillin di forum politik bukan untuk partisipasi acara, tetapi upaya memperluas kampanye keberlanjutan. Perubahan perilaku konsumsi, menurut Jofan, perlu menyasar berbagai ruang sosial, termasuk arena pengambilan keputusan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa konsep isi ulang bisa diterapkan di mana saja, termasuk kegiatan politik berskala besar,” ujarnya di lokasi acara, Sabtu, (14/2/2026).

Peneliti mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, berbincang dengan peserta Muskerwil PKB Jawa Timur saat mengunjungi booth Refillin di Surabaya, Sabtu (14/2/2026). Kampanye belanja isi ulang ini menjadi upaya menekan timbulan sampah plastik dari kegiatan berskala besar. | Dok. Refillin

#Instalasi Seni yang Mengusik

Selain layanan isi ulang, perhatian peserta tertuju pada sebuah instalasi seni di dekat booth. Sebuah replika bayi ditempatkan dalam akuarium transparan yang dipenuhi botol plastik bekas. Visual itu menghadirkan kesan ganjil sekaligus reflektif bagi pengunjung MUskerwil PKB yang melintas.

Dibuatnya instalasi dimaksudkan sebagai simbol ancaman bahaya sampah plastik terhadap generasi mendatang. Bagi pengunjung, karya itu menjadi pengingat bahwa pencemaran lingkungan tidak berhenti pada persoalan estetika kota, melainkan berkaitan erat dengan kesehatan manusia.

Wakil Tanfidziyah PKB Jawa Timur, Thoriqul Haq, mengatakan partainya telah mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Jawa Timur. Ia menilai inisiatif seperti Refillin dapat menjadi langkah konkret perubahan kebiasaan di lingkungan organisasi.

“Kami di DPW sudah mulai mengurangi plastik sekali pakai, dan konsep seperti Refillin ini menarik untuk diterapkan di kantor. Ini bisa menjadi contoh praktik ramah lingkungan yang sederhana tapi berdampak,” ujar Thoriq  yang pernah menjabat sebagai Bupati Lumajang 2018–2023.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Beberapa peserta Muskerwil lainnya pun terlihat berhenti cukup lama di depan instalasi tersebut, membaca penjelasan karya, lalu berdiskusi. Pendekatan artistik ini dipilih untuk menyampaikan pesan lingkungan secara emosional, sekaligus memperkuat data dan kampanye yang selama ini lebih banyak disampaikan secara verbal.

Refillin menilai pendekatan kreatif diperlukan agar isu lingkungan tidak terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Melalui seni, pesan tentang krisis plastik diharapkan mampu membuka ruang dialog yang lebih personal sekaligus mendorong perubahan perilaku.

Pengunjung mengamati sampel mikroplastik melalui mikroskop stereo di booth edukasi Refillin dalam Muskerwil PKB Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026), sebagai bagian kampanye pengurangan plastik. | Dok Refillin

#Melihat Mikroplastik dari Dekat

Di sisi lain booth, pengunjung diajak melihat ancaman yang lebih kecil namun tak kalah serius, yaitu mikroplastik. Dua mikroskop stereo disediakan untuk memperlihatkan partikel plastik dalam sampel air secara langsung.

Peneliti Mikroplastik, Rafika Aprilianti, yang mendampingi sesi edukasi, menjelaskan, banyak orang belum menyadari keberadaan mikroplastik karena ukurannya yang nyaris tak terlihat. Melalui pengamatan langsung, peserta dapat memahami bahwa pencemaran plastik hadir dalam skala yang sangat dekat dengan kehidupan manusia.

Pendekatan visual ini, kata Rafika, membuat isu mikroplastik terasa nyata. “Ketika orang melihat sendiri partikel plastik di air, mereka lebih mudah memahami dampaknya,” ujarnya.

Refillin berharap keterlibatan dalam Muskerwil dapat membuka peluang kolaborasi lintas sektor. Dukungan aktor politik dinilai penting untuk mendorong kebijakan pengurangan plastik sekali pakai sekaligus memperluas praktik konsumsi berkelanjutan.

Bagi Refillin, perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang ia hadir dari kebiasaan kecil—membawa wadah sendiri, mengisi ulang, dan memilih untuk tidak sekali pakai.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *