Lewati ke konten

Studi Global Ungkap Plastik Makanan Minuman Dominasi Pesisir Dunia, Ancam Ekosistem Laut dan Ketahanan Pangan

| 7 menit baca |Ekologis | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Plastik makanan dan minuman ditemukan sebagai pencemar pesisir paling dominan di dunia, muncul dalam tiga besar sampah di 93 persen negara yang diteliti.
  • Analisis terhadap lebih dari 5.300 survei pesisir di 112 negara menunjukkan kemasan makanan, tutup botol, dan botol plastik menjadi sampah yang paling sering ditemukan.
  • Peneliti menyimpulkan pengelolaan sampah saja tidak cukup mengatasi krisis plastik global tanpa pengurangan produksi plastik sekali pakai.
  • Temuan ini memberi dasar ilmiah baru bagi pemerintah dan perunding Perjanjian Plastik Global untuk memprioritaskan produk yang paling banyak mencemari lingkungan.

Plastik yang digunakan untuk makanan dan minuman, menjadi jenis sampah paling dominan di garis pantai dunia. Temuan ini muncul dari sebuah penelitian global yang menganalisis lebih dari 5.300 survei, sampah pesisir di 112 negara yang mewakili sekitar 86 persen populasi dunia.

Hasil penelitian menunjukkan plastik makanan dan minuman masuk dalam tiga kategori. Sampah terbanyak di 93 persen negara yang diteliti. Temuan menjadikan sektor makanan dan minuman, sebagai sumber pencemaran paling konsisten di berbagai kawasan dunia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah One Earth pada 19 Juni 2026 itu, memberikan penegasan rinci mengenai jenis produk. Paling banyak berakhir di lingkungan pesisir. Selama ini di mana persoalan sampah plastic, telah diakui sebagai masalah global. Tetapi yang terjadi, informasi mengenai produk apa paling dominan mencemari lingkungan masih relatif terbatas.

Tim peneliti yang dipimpin Max Richard Kelly ini menyatakan, dunia menghadapi krisis yang terus membesar seiring akumulasi sampah plastik di hampir seluruh wilayah laut. Pencemaran ini tidak hanya merusak ekosistem laut, tetapi juga mengancam ketahanan pangan dan membebani ekonomi masyarakat pesisir.

Dalam publikasinya, para peneliti menegaskan bahwa identifikasi produk yang paling banyak mencemari lingkungan, menjadi langkah penting untuk menghasilkan kebijakan yang lebih efektif.

Menurut mereka, pendekatan yang berlaku selama ini masih terlalu umum, sehingga berbagai intervensi sering berjalan terpisah dan tidak terarah.

Penelitian yang menggabungkan data dari 355 studi ini, dilakukan antara 1992 hingga 2024. Kemudian dianalisis menggunakan pendekatan pemeringkatan, serta simulasi Monte Carlo. Sehingga menghasilkan gambaran global yang lebih konsisten mengenai sampah pesisir.


Lebih dari 5.300 survei di 112 negara membuktikan: kemasan makanan-minuman mendominasi pesisir dunia. Antartika menjadi pengecualian langka.| Desain AI

#Kemasan Makanan dan Botol Plastik Dominasi di Berbagai Negara

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah dominasi produk makanan dan minuman sekali pakai. Hal ini terjadi di hampir seluruh kawasan dunia. Ketika para peneliti mengelompokkan sampah berdasarkan fungsi penggunaannya. Sektor makanan dan minuman, muncul sebagai sumber pencemaran yang paling menonjol.

Kemasan makanan menjadi item yang paling sering ditemukan. Jenis sampah ini masuk dalam tiga besar temuan di 53 persen negara yang dianalisis.

Posisi berikutnya, ditempati tutup botol dan tutup wadah plastik. Benda ini  muncul sebagai sampah dominan di 51 persen negara. Angka yang sama juga ditemukan pada botol plastik.

Setelah itu, kantong plastik muncul sebagai salah satu pencemar utama di 40 persen negara. Puntung rokok ditemukan dalam 38 persen negara, sementara sampah yang berasal dari sektor perikanan dan pelayaran muncul pada 34 persen negara.

Temuan ini menunjukkan, sebagian besar sampah yang ditemukan di garis pantai. Rata-rata berasal dari produk yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Produk-produk umumnya memiliki masa pakai yang sangat singkat, tetapi dapat bertahan di lingkungan selama bertahun-tahun.

Peneliti menemukan pola yang relatif seragam di berbagai kawasan. Baik di Asia, Eropa, Amerika, Afrika maupun kawasan Pasifik, plastik makanan dan minuman tetap menjadi kategori yang paling dominan.

Di Asia, kantong plastik tercatat sebagai salah satu jenis sampah yang paling sering ditemukan. Sementara itu, di wilayah kutub dan kawasan laut yang jauh dari pusat permukiman, sampah dari aktivitas perikanan dan pelayaran memiliki kontribusi yang lebih besar.

Meski demikian, sektor makanan dan minuman tetap muncul sebagai sumber pencemaran utama di sebagian besar wilayah yang diteliti. Hal itu menunjukkan bahwa persoalan plastik sekali pakai telah menjadi fenomena lintas negara dan lintas kawasan.

Penelitian ini juga memperlihatkan, kemasan makanan dan minuman memiliki kontribusi yang jauh lebih besar dibanding berbagai produk plastik lainnya. Fakta ini memperkuat argumentasi bahwa pengurangan sampah, perlu diarahkan pada produk yang paling dominan ditemukan di lingkungan.

Hanya 20% produksi plastik global, tetapi menghasilkan 50% limbah dunia. Kemasan makanan-minuman kini mendominasi pesisir di 93% negara. | Desain AI

#Produksi Plastik Terus Meningkat, Dampak Ekologis Kian Meluas

Selanjutnya dalam penelitian ini, para peneliti menempatkan temuannya jika produksi plastik global terus meningkat. Saat ini dunia menghasilkan, sekitar 460 juta ton plastik setiap tahun.

Jika tren produksi tidak berubah, akumulasi produksi plastik secara global diperkirakan dapat mencapai sekitar 20 miliar ton pada 2040. Pada saat yang sama, sekitar 20 juta ton plastik masuk ke lingkungan setiap tahun.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Akibatnya, jumlah plastik yang terakumulasi di lautan diproyeksikan, mencapai 145 juta ton pada 2060. Angka tersebut menunjukkan, laju pencemaran masih bergerak lebih cepat dibanding berbagai upaya pengendalian yang telah dilakukan.

Dampak pencemaran plastik tidak hanya terlihat pada menumpuknya sampah di pantai. Penelitian ini menegaskan bahwa plastik memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan lingkungan hingga kesejahteraan manusia.

Ekosistem laut menjadi salah satu pihak yang paling terdampak. Sampah plastik dapat mengganggu proses ekologis, merusak habitat, serta meningkatkan risiko cedera maupun kematian pada berbagai spesies satwa laut.

Selain itu, pencemaran plastik juga berkaitan dengan isu ketahanan pangan. Laut merupakan sumber pangan penting bagi miliaran penduduk dunia, terutama masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan.

Ketika kualitas ekosistem laut menurun, produktivitas sumber daya perikanan berpotensi ikut terdampak. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi ketersediaan pangan dan pendapatan masyarakat pesisir.

Peneliti juga menyoal, meningkatnya perhatian terhadap mikroplastik yang berasal dari fragmentasi sampah plastik berukuran besar. Meski penelitian ini berfokus pada sampah makroplastik, para ilmuwan menilai produk-produk yang ditemukan di pantai saat ini berpotensi menjadi sumber mikroplastik di masa mendatang.

Beban ekonomi akibat pencemaran juga tidak kecil. Biaya pembersihan pantai, hilangnya nilai wisata, serta kerusakan lingkungan menjadi tanggungan masyarakat dan pemerintah daerah.

Dampak tersebut cenderung lebih berat dirasakan negara-negara berpendapatan rendah yang memiliki kapasitas terbatas dalam mengelola sampah. Karena itu, peneliti menyebut pencemaran plastik sebagai persoalan lingkungan sekaligus persoalan pembangunan.

Dunia memproduksi 460 juta ton plastik per tahun. Tanpa perubahan, lautan terancam menampung 145 juta ton sampah pada 2060.| Desain AI

#Pengurangan Produksi Dinilai Lebih Efektif Dibanding Sekadar Mengelola Sampah

Salah satu pesan utama dari penelitian ini adalah perlunya mengubah fokus kebijakan. Selama bertahun-tahun, banyak negara menitikberatkan upaya pada pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan sampah setelah produk digunakan.

Menurut peneliti, pendekatan tersebut tetap penting, tetapi tidak cukup untuk menghentikan laju pencemaran plastik global. Model-model terbaru menunjukkan bahwa perbaikan sistem pengelolaan sampah saja tidak mampu mengimbangi peningkatan produksi plastik.

Karena itu, penelitian ini mendorong intervensi di tingkat hulu. Fokusnya adalah mengurangi jumlah produk yang berpotensi menjadi sampah sebelum memasuki pasar dan lingkungan.

Langkah tersebut dapat dilakukan melalui berbagai instrumen kebijakan. Di antaranya adalah pembatasan produk tertentu, desain ulang kemasan, penerapan tanggung jawab produsen, serta pengembangan sistem penggunaan ulang.

Peneliti menilai pendekatan berbasis produk akan lebih efektif dibanding kebijakan yang bersifat umum. Dengan mengetahui jenis sampah yang paling dominan, pemerintah dapat memusatkan sumber daya pada target yang memiliki dampak terbesar.

Temuan ini juga dinilai relevan dengan proses perundingan Perjanjian Plastik Global yang sedang berlangsung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Data yang lebih rinci mengenai sumber pencemaran dapat membantu negara-negara menyusun target pengurangan yang lebih terukur.

Para peneliti menyebut masyarakat kini memiliki dasar ilmiah yang lebih kuat untuk bergerak melampaui pendekatan “satu solusi untuk semua”. Fokus dapat diarahkan pada produk yang terbukti menjadi penyumbang utama pencemaran di tingkat nasional maupun global.

Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa sumber utama sampah pesisir dunia bukan lagi misteri. Di berbagai benua dan sistem laut, pola yang muncul relatif sama: kemasan makanan, tutup botol, botol plastik, kantong plastik, dan produk sekali pakai lainnya menjadi kontributor terbesar pencemaran.

Temuan tersebut memberikan arah yang lebih jelas bagi pembuat kebijakan, industri, dan masyarakat. Jika produk-produk yang paling banyak mencemari lingkungan dapat dikurangi secara signifikan, peluang untuk melindungi kesehatan ekosistem laut, ketahanan pangan, dan kesehatan manusia akan menjadi lebih besar. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *