- Udara bersih belum tentu aman; mikroplastik diduga melayang dan terhirup manusia setiap hari tanpa disadari.
- Penelitian awal di Wringinanom menemukan dugaan partikel mikroplastik melayang di udara kawasan industri dan jalan raya.
- Mikroplastik tak hanya mencemari sungai, tetapi juga mengintai setiap tarikan napas manusia melalui udara sehari-hari.
- Sampel udara dari Wringinanom mengungkap dugaan keberadaan mikroplastik di kawasan industri, persawahan, jalan raya, hingga sungai.
- Ancaman mikroplastik kini melayang di udara, berpotensi memasuki paru-paru hingga organ tubuh manusia melalui sistem pernapasan.
Penulis: Maulidatul Ula Bahari merupakan mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember. Artikel disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON) selama periode 13 Juli-20 Agustus 2026.
UDARA yang tampak bersih belum tentu benar-benar aman. Di balik hembusan angin yang kita hirup sehari-hari, terdapat ancaman yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang: mikroplastik. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini tidak lagi hanya mencemari lautan dan sungai, tetapi telah melayang di udara—termasuk di kawasan jalan raya, area industri, hingga persawahan.
Pada Jumat, 17 Juli 2026, saya melakukan pengambilan sampel udara di beberapa lokasi di Kecamatan Wringinanom, yaitu Jalan Raya Wringinanom, PT Platinum Ceramics Industry, kawasan persawahan Kandangasin, serta tepi Kali Surabaya sebagai titik kontrol.
Proses sampling berlangsung selama kurang lebih empat jam (pukul 09.00–13.00 WIB). Cara itu untuk mengidentifikasi keberadaan mikroplastik yang berpotensi mencemari udara dari berbagai aktivitas lingkungan. Hasil pengamatan awal menggunakan mikroskop menunjukkan adanya partikel yang diduga berupa fiber (serat), fragment (pecahan), dan granule (granul).
- Kawasan Industri: Tercatat 72 fragmen, 2 fiber, dan 13 granula.
- Jalan Raya Wringinanom: Teridentifikasi 32 fragmen dan 38 granula.
- Persawahan Kandangasin: Ditemukan 7 fragmen.
- Tepi Kali Surabaya (Titik Kontrol): Terdeteksi 9 fragmen dan 2 fiber.
Temuan awal ini mengindikasikan bahwa partikel mikroplastik telah tersebar di berbagai tipe lingkungan, mulai dari kawasan industri dan jalan raya hingga area yang relatif asri.

#Bagaimana Mikroplastik Masuk ke Dalam Tubuh?
Keberadaan mikroplastik di udara bersumber dari beragam aktivitas manusia. Gesekan ban kendaraan dengan aspal, serat pakaian sintetis yang terlepas, emisi pabrik, pembakaran sampah plastik, hingga pelapukan material akibat paparan sinar matahari menjadi pemicu utama penyebaran partikel ini ke atmosfer. Tanpa kita sadari, setiap tarikan napas menjadi pintu masuk bagi mikroplastik ke dalam tubuh.
Partikel mikroplastik yang melayang dapat terhirup melalui hidung maupun mulut. Partikel berukuran lebih besar umumnya tertahan di rongga hidung atau saluran napas bagian atas. Namun, partikel yang lebih kecil mampu menembus hingga ke bronkus dan alveolus—kantung udara di paru-paru tempat pertukaran oksigen berlangsung.
Bahkan, sejumlah penelitian mengindikasikan, partikel berukuran nanometer (nanoplastik) berpotensi menembus jaringan paru-paru, masuk ke aliran darah, lalu menyebar ke organ tubuh lainnya. Sebagian partikel lain juga dapat tertelan bersama lendir saluran pernapasan hingga akhirnya masuk ke sistem pencernaan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
#Ancaman yang Tak Boleh Diabaikan
Para peneliti memberikan perhatian serius terhadap dampak paparan mikroplastik bagi kesehatan. Paparan jangka panjang diduga memicu iritasi saluran pernapasan, merangsang peradangan, meningkatkan stres oksidatif, hingga menurunkan fungsi paru-paru. Bagi penderita asma maupun Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), keberadaan partikel ini diperkirakan dapat memperburuk kondisi klinis mereka.

Lebih dari sekadar serpihan sintetis, mikroplastik juga berperan sebagai “vektor” atau pembawa zat berbahaya seperti bisphenol A (BPA), ftalat, logam berat, dan polutan organik persisten (POPs). Ketika masuk ke dalam tubuh, senyawa-senyawa ini berpotensi mengganggu sistem endokrin (hormon), memicu inflamasi kronis, hingga merusak sel.
Berbagai riset terbaru telah mendeteksi keberadaan mikroplastik pada sampel darah, paru-paru, plasenta, hati, ginjal, bahkan jaringan otak manusia. Temuan ini menjadi peringatan tegas bahwa polusi yang semula dianggap hanya merusak ekosistem luar kini telah merambah ke dalam tubuh manusia.
#Saatnya Lebih Peduli terhadap Udara yang Kita Hirup
Mikroplastik adalah ancaman tak terlihat dan tak berbau. Namun, sifatnya yang terlihat oleh mata, justru menyimpan risiko yang jauh lebih memprihatinkan.
Pengurangan konsumsi plastik sekali pakai, pembenahan sistem pengelolaan sampah, pengetatan emisi industri, serta pemantauan kualitas udara secara berkala merupakan langkah krusial untuk menekan laju penyebarannya. Di sisi lain, riset mengenai dinamika mikroplastik di udara perlu terus diperluas agar dampaknya terhadap kesehatan dapat dipahami secara komprehensif.
Udara yang tampak bersih belum tentu benar-benar aman. Di balik setiap tarikan napas, partikel mikroplastik dapat melayang tanpa kita sadari. Pertanyaannya, berapa banyak yang telah kita hirup hari ini?***