Ecoton melaporkan temuan nano dan mikroplastik dalam darah perempuan Jawa Timur serta indikasi pada sperma, memicu kekhawatiran serius terhadap kesehatan reproduksi manusia.
Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) mengungkap temuan terbaru mengenai keberadaan partikel nano dan mikroplastik (NMPs) dalam tubuh manusia. Paparan ini disampaikan dalam Pesta Media 2026 yang berlangsung di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu-Ahad, 11–12 April 2026.
Penelitian melibatkan 30 perempuan dari Jawa Timur yang berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan, dan Malang. Komposisi subjek terdiri atas 20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa. Hasil uji laboratorium menunjukkan rata-rata sembilan partikel mikroplastik ditemukan dalam setiap satu mililiter darah.
Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, menyatakan temuan ini mencerminkan paparan plastik yang telah mencapai sistem biologis manusia. “Seluruh sampel menunjukkan keberadaan mikroplastik dalam darah. Angka ini memperlihatkan paparan yang berlangsung terus-menerus dari lingkungan sehari-hari,” kata Rafika dalam keterangannya, Ahad, (12/4/2026).
Analisis komposisi menunjukkan polyester mendominasi sebesar 28 persen. Selain itu, ditemukan polyisobutylene sebesar 24 persen, polyethylene (LDPE dan HDPE) dengan total 32 persen, serta PET sebesar 16 persen. Keberadaan polimer ini berkaitan erat dengan penggunaan bahan sintetis dalam industri tekstil, kemasan, dan produk rumah tangga.
Ukuran partikel yang sangat kecil memungkinkan mikroplastik masuk melalui udara, makanan, dan air. Dalam bentuk nano, partikel dapat menembus membran biologis dan beredar melalui aliran darah menuju berbagai organ. Kelompok pekerja sampah menunjukkan tingkat paparan lebih tinggi, mencerminkan hubungan antara intensitas kontak dengan limbah plastik dan akumulasi dalam tubuh.

#Ancaman Serius bagi Sistem Reproduksi dan Kesehatan
Ecoton juga menyoroti indikasi keberadaan nanoplastik dalam sistem reproduksi, termasuk sperma. Temuan ini memperkuat kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang pada kesuburan manusia.
Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini menjelaskan, nanoplastik memiliki kemampuan melintasi berbagai penghalang biologis. “Nanoplastik berpotensi mencapai organ reproduksi dan memengaruhi kualitas sperma maupun sel telur. Ini menjadi perhatian serius bagi kesehatan reproduksi,” ujar Sofi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Keberadaan partikel sintetis dalam darah memicu berbagai reaksi biologis. Mikroplastik dapat berinteraksi dengan sel darah merah dan meningkatkan risiko hemolisis, yaitu pecahnya sel yang melepaskan hemoglobin ke plasma. Kondisi ini berpotensi memicu penggumpalan darah yang dapat menyumbat pembuluh, meningkatkan risiko stroke dan penyakit kardiovaskular.
Sistem imun juga terdampak. Sel darah putih berusaha menghancurkan partikel plastik, tetapi tidak berhasil. Respons ini memicu pelepasan sinyal inflamasi seperti TNF-alpha dan interleukin secara terus-menerus. Paparan kronis dapat menurunkan jumlah sel imun dan melemahkan daya tahan tubuh.
Interaksi dengan trombosit memicu pembentukan trombus atau gumpalan darah. Risiko penyumbatan pembuluh koroner meningkat, yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner. Selain itu, sel tubuh harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengatasi partikel asing, mempercepat penuaan sel dan mengganggu proses pembentukan sel darah baru.
Rafika menekankan pentingnya langkah pencegahan berbasis kebijakan. “Temuan ini menunjukkan urgensi pengendalian plastik dari hulu hingga hilir, termasuk pembatasan bahan sintetis yang berpotensi menjadi sumber mikroplastik,” kata Rafika.
Temuan nanoplastik dalam sperma dan mikroplastik dalam darah perempuan Jawa Timur menandai perluasan krisis plastik ke ranah kesehatan manusia. Paparan tidak lagi terbatas pada lingkungan, melainkan telah masuk ke sistem tubuh dan berpotensi memengaruhi generasi mendatang.***