Lewati ke konten

Limbah Dua Industri Mojokerto Lampaui Baku Mutu, Beban Pencemar Sungai Jadi Sorotan Serius

| 8 menit baca |Eksploratif | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Fio Atmadja
  • Laboratorium menemukan COD 1.714 mg/L dan 1.312 mg/L, melampaui baku mutu 250 mg/L hingga 6,9 kali di PT Mega Surya Eratama dan PT Mekabox International.
  • BOD limbah mencapai 615 mg/L dan 485 mg/L, melebihi baku mutu 100 mg/L hingga 6,15 kali di Kali Porong.
  • Konsentrasi TSS tercatat 482 mg/L dan 531,7 mg/L, melampaui baku mutu 200 mg/L hingga 2,7 kali pada sampel.
  • Ronda Sungai mencatat DO hanya 2,8 mg/L, sedangkan TDS mencapai 571 ppm di outlet limbah PT Mekabox International.
  • Hasil uji Sertifikat 21007 S/LL MJK/VI/2026 menunjukkan COD, BOD, dan TSS seluruhnya melampaui baku mutu di dua perusahaan.

Hasil pengujian laboratorium terhadap sampel limbah, dua perusahaan di Kabupaten Mojokerto, menunjukkan seluruh parameter utama pencemar melampaui baku mutu yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Tiga parameter yang diuji, yakni Chemical Oxygen Demand (COD), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Total Suspended Solid (TSS), seluruhnya tercatat berada beberapa kali lipat di atas ambang batas yang dipersyaratkan.

“Hal ini memperlihatkan tingginya beban pencemaran, yang terkandung dalam sampel limbah yang diuji, “ kata Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, Rabu, 1 Juli 2026

Hasil temuan berdasar Sertifikat Uji Nomor 21007 S/LL MJK/VI/2026, masih kata Rulli, berasal dari pengujian sampel limbah yang diambil di outlet PT Mega Surya Eratama di Kali Porong dan PT Mekabox International di Kali Sadar.

“Secara teknis, hasil laboratorium memang belum dapat langsung dijadikan dasar, jika telah terjadi pelanggaran lingkungan. Namun, data ini bukti menjadi indikasi kuat yang layak ditindaklanjuti, melalui verifikasi di lokasi maupun pengawasan oleh instansi berwenang, “ ujar Rulli.

Aliran air keluar dari pipa pembuangan yang bermuara ke Kali Porong di kawasan industri Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Selasa (9/6/2026). Tim ronda sungai menemukan aliran buangan disertai bau menyengat serta endapan residu di sekitar outlet dan melakukan pengukuran kualitas air untuk mendokumentasikan kondisi sungai di kawasan hilir DAS Brantas. | Foto: Fully Syafi

Rulli juga menyebutkan, parameter COD hasil laboratorium kadar limbah PT Mega Surya Eratama mencapai 1.714 mg/L, atau sekitar 6,9 kali lebih tinggi dibanding baku mutu 250 mg/L. Sementara PT Mekabox International mencapai 1.312 mg/L, setara 5,2 kali di atas batas yang diperbolehkan.

Nilai BOD juga menunjukkan pola serupa, sebut Rulli. PT Mega Surya Eratama tercatat memiliki BOD 615 mg/L, sedangkan PT Mekabox International 485 mg/L. Keduanya melampaui baku mutu 100 mg/L, masing-masing sekitar 6,15 kali dan 4,85 kali.

“Sementara parameter TSS, memperlihatkan konsentrasi padatan tersuspensi juga tinggi. Sampel PT Mega Surya Eratama mencapai 482 mg/L, sedangkan PT Mekabox International 531,7 mg/L di hasil laboratorium, Angka ini sudah berada sekitar 2,4 hingga 2,7 kali di atas baku mutu, yaitu 200 mg/L, “ jelas Rulli.

Menurut Rulli, ketiga parameter ini bisa dijadikan indikator penting dalam menilai kualitas limbah cair sebelum dibuang ke badan air. Ketika seluruhnya sama-sama melampaui baku mutu.

“Kondisi itu pula menunjukkan beban pencemar yang tinggi pada sampel limbah, “ tegas Rulli.

#Tiga Parameter Gambaran Beban Pencemar

Sebelumnya, Ronda Sungai yang dikoordinasikan Posko Ijo di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, telah melakukan pemantauan dan pengambilan sampel air di sejumlah outlet pada, Selasa, 9 Juni 2026.

Di outlet PT Mega Surya Eratama yang mengarah ke Kali Porong, air limbah tampak keruh dan berbusa. Di sepanjang bantaran sungai, tim menemukan endapan kecokelatan berupa sludge yang bercampur serat-serat halus pulp.

Pengukuran di lokasi, saat itu menunjukkan kadar oksigen terlarut atau DO sekitar 2,8 mg/L. Menunurut tim, nilai ini tergolong rendah bagi sungai tropis dan menunjukkan berkurangnya ketersediaan oksigen bagi organisme akuatik.

Dalam pengamatannya, tim juga mencatat adanya bau menyengat menyerupai bahan kimia di sekitar outlet limbah. Aliran limbah yang keluar dari pipa terlihat cukup besar dan diperkirakan mengisi sekitar 50 – 60 persen diameter saluran pembuangan.

Sekilas, air limbah yang mengalir di outlet PT Mekabox International, tampak lebih bersih dibandingkan outlet PT Mega Surya Eratama. Limbah yang keluar melalui pipa berdiameter sekitar 35–50 sentimeter itu warnanya relatif jernih.

Namun, pengukuran di lokasi menunjukkan gambaran berbeda. Kadar oksigen terlarut (DO) di kedua outlet sama-sama hanya 2,8 mg/L, sedangkan nilai Total Dissolved Solid (TDS) di outlet PT Mekabox International mencapai 571 ppm, hampir delapan kali lebih tinggi dibandingkan outlet PT Mega Surya Eratama yang tercatat 74,3 ppm.

“Temuan saat itu memang menunjukkan air tampak bening. Itu belum tentu memiliki kualitas yang lebih baik. Kalau kita amati kandungan padatan terlarut, tetap dapat memberi tekanan terhadap kualitas air sungai, meskipun tidak terlihat secara langsung oleh mata kita, “ kata Penelti Ecoton, Sofi Azilan Aini, Kamis, 2 Juli 2026.

Observasi di lokasi, juga mencatat posisi outlet PT Mekabox International berada di balik tanaman tebu. Sehingga tidak mudah terlihat dari area sekitar.

Parameter lain, seperti pH menunjukkan kondisi relatif netral. Nilai pH PT Mega Surya Eratama tercatat 7,58, sedangkan PT Mekabox International 7,50.

Suhu air di kedua outlet juga tidak berbeda jauh, yakni sekitar 31,5 derajat Celsius pada PT Mega Surya Eratama dan 31,3 derajat Celsius pada PT Mekabox International.

Dalam penjelasan Sofi, COD digunakan untuk mengukur jumlah oksigen. Dibutuhkan untuk mengurai seluruh bahan pencemar organik maupun kimia.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Biasanya ini terkandung di dalam air. Semakin tinggi nilainya, semakin besar pula beban pencemar yang harus diuraikan, “ jelas Magister Toksikologi Lingkungan, Chulabhorn Graduate Institute ini.

Dalam praktik pengelolaan limbah, masih kata Sofi, nilai COD di atas 1.000 mg/L tergolong sangat tinggi untuk limbah yang akan dilepas ke badan air. Kondisi ini mengindikasikan masih banyak senyawa yang belum terurai secara optimal, ketika dalam instalasi pengolahan air limbah.

Infografis ini menunjukkan seluruh parameter utama limbah dua industri melampaui baku mutu berdasarkan hasil uji laboratorium dan observasi yang dilakukan tim Ronda Sungai, pada Selasa, 9 Juni 2026. | Desain AI

“Apabila limbah dengan COD tinggi memasuki sungai, oksigen terlarut berpotensi turun dengan cepat. Karena digunakan untuk menguraikan berbagai senyawa pencemar. Penurunan oksigen menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu kehidupan organisme air, “ urai Sofi.

BOD, sebagaimana kerap dilakukan temuan penelitian, menggambarkan jumlah oksigen yang dibutuhkan bakteri untuk menguraikan bahan organik. Menurut Sofi, semakin tinggi BOD, semakin besar aktivitas bakteri mengonsumsi oksigen yang tersedia di perairan.

“Kondisi ini dapat menyebabkan ikan dan biota lain kesulitan memperoleh oksigen. Dalam situasi ekstrem, sungai dapat berubah menjadi lingkungan anaerob yang ditandai munculnya bau busuk akibat pembentukan gas metana, hidrogen sulfida, maupun ammonia, “ ungkap perempuan yang pernah melakukan penolakan penebangan pohon asem di Wringinanom Gresik pada 2015 silam ini.

Parameter ketiga, yakni TSS, menunjukkan banyaknya partikel padat yang melayang di dalam air. Pada industri pulp dan kertas, partikel  ini umumnya berasal dari serat kayu, lumpur proses produksi, maupun sisa bahan organik yang belum mengendap.

TSS tinggi membuat air menjadi lebih keruh, sehingga cahaya matahari sulit menembus permukaan air. Dampaknya, fotosintesis tumbuhan air berkurang, endapan meningkat di dasar sungai, dan habitat organisme dasar menjadi terganggu.

Menurut Sofi, ketiga parameter saling berkaitan. COD menunjukkan tingginya kandungan senyawa pencemar, BOD menggambarkan besarnya konsumsi oksigen oleh bakteri, sedangkan TSS menunjukkan banyaknya material padat yang ikut terbawa limbah.

“Yang diketahui sebagai pengetahuan, limbah tidak hanya membawa bahan organik, tetapi juga partikel tersuspensi yang secara bersama-sama, bisa memperburuk kualitas perairan apabila masuk ke sungai secara terus-menerus, “ terangnya.

#Bukti Laboratorium Perkuat Pengawasan

Selain hasil laboratorium, observasi di kedua lokasi saat itu, memperlihatkan karakter pencemar tidak selalu dapat dinilai hanya dari warna air saja. Namun, hasil uji laboratorium tetapi menjadi instrument utama untuk mengetahui kandungan pencemar.

“Pengukuran laboratorium, tetap menjadi instrumen utama untuk mengetahui kandungan pencemar yang sebenarnya. Sebagai dasar awal pengawasan lebih lanjut. Secara ilmiah, kombinasi tingginya COD, BOD, dan TSS, sangat berpotensi memicu serangkaian perubahan pada ekosistem sungai, “ sebut Rulli

Outlet fall PT Mekabox International di Dusun Sebani, Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto tampak mengeluarkan air bening menuju Kali Sadar, Selasa, 9 Juni 2026. Meski secara visual terlihat jernih, tim ronda sungai tetap menemukan suhu air relatif tinggi saat pengukuran kualitas air dilakukan di lokasi. | Foto: Fully Syafi

Apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus, kata Rulli, dampaknya dapat berkembang menjadi tekanan kronis terhadap ekosistem sungai. “Sungai menjadi semakin sulit mempertahankan fungsi ekologisnya, sebagai habitat berbagai jenis organisme, “ ucapnya.

Penetapan adanya pelanggaran lingkungan, kata Rulli, masih memerlukan serangkaian proses pembuktian. Dalam waktu dekat  ia mengaku akan mendatangi Balai Gakkum KLHK Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra).

“Sesuai mekanisme yang berlaku. Di antaranya meliputi verifikasi lokasi pengambilan sampel, kepastian sampel benar berasal. Kami perlu mendatangi Gakkum KLHK, bisa jadi mungkin ada sampel pembanding, “ ujar Rulli. .

Selain itu, kata Rulli juga diperlukan evaluasi terhadap izin lingkungan perusahaan, kinerja instalasi pengolahan air limbah (IPAL), sampai hasil pengawasan yang dilakukan instansi pemerintah.

“Dengan kata lain, hasil laboratorium merupakan indikator teknis mengenai tingginya beban pencemar. Temuan kami menjadi dasar penting bagi penyelidikan lebih lanjut, memastikan apakah limbah yang dilepas ke lingkungan telah memenuhi ketentuan yang berlaku, “ ucapnya.

Dalam konteks perlindungan daerah aliran sungai, pengawasan terhadap kualitas limbah menjadi bagian penting. Hal ini untuk menjaga fungsi ekologis sungai sebagai sumber air, habitat biota, serta penopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Ketika hasil uji laboratorium menunjukkan seluruh parameter utama melampaui baku mutu, maka perhatian tidak lagi hanya tertuju pada temuan-temuan saja. “Tetapi pada bagaimana temuan kami ditindaklanjuti melalui pengawasan yang transparan, pengujian yang akuntabel, dan penegakan aturan yang berbasis bukti, “ pungkas Rulli. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *