- Busa putih, bau menyengat, dan DO 2,2 mg/L memicu investigasi mahasiswa di Muara Kali Tengah Gresik.
- Mahasiswa lintas kampus menemukan kualitas air mengkhawatirkan, mendesak pemerintah mengusut dugaan pencemaran secara menyeluruh segera.
- Warga mengaku busa putih berulang muncul, sementara penyebab pencemaran masih menunggu penyelidikan instansi berwenang resmi bersama.
- Pengukuran menunjukkan pH mencapai 9,12 dan TDS 673 mg/L sebelum aliran memasuki Kali Surabaya sebagai air baku.
- Ketua Telapak Indonesia meminta penegakan hukum tegas bila penyelidikan membuktikan pelanggaran terhadap ketentuan lingkungan hidup berlaku
Tim Investigasi: Marysca Andra Prima Aji (Koordinator) – Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya; Sherly Cleodora Elshada – Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya; Maya Anindya Maheswari Ladina – Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya; Marcellina Santoso – Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya; Sharon Rosearly Dwijaya – Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya; Cinta Meysha Salsabila – Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya; Kirana Nur’ Aini Prasasti – Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya; Fathimah Maitsaa’ Maulida – Agroekoteknologi, Universitas Brawijaya; Maulidatul Ula Bahari – Teknik Lingkungan, Universitas Muhammadiyah Jember; Moritz Constantin Lauten – Biologi, Leipzig University, Jerman.
GUMPALAN busa putih menutupi permukaan Muara Kali Tengah, Desa Bambe, Driyorejo, Kabupaten Gresik, Senin (3/8/2026). Bau menyengat langsung tercium dari aliran sungai yang bermuara ke Kali Surabaya. Kondisi itu ditemukan saat tim mahasiswa magang di ECOTON melakukan pengamatan di lokasi.
Mahasiswa berasal dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya, Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember, serta Leipzig University, Jerman. Kedatangan mereka dipicu laporan warga mengenai kemunculan busa putih yang disebut terjadi berulang. Tim melakukan dokumentasi lokasi, sekaligus pengukuran kualitas air.
“Kami ingin melihat langsung kondisinya, sekaligus melakukan pengukuran agar memperoleh gambaran berdasarkan data lapangan,” kata Koordinator Mahasiswa, Marysca Andra Prima Aji.
Tim memotret kondisi fisik sungai, mengukur parameter kualitas air, lalu membandingkannya dengan keterangan warga. Pengamatan mereka lakukan pada kawasan muara yang berada di lingkungan sejumlah kawasan industri. Namun, penyebab pasti munculnya busa putih belum dapat dipastikan dan masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Marysca, Kirana Nur’ Aini Prasasti dan Maulidatul Ula Bahari melakukan pengukuran pada tiga titik, yakni hulu, hilir, dan muara. Parameter yang diamati meliputi pH, Total Dissolved Solids (TDS), serta Dissolved Oxygen (DO).
Hasil pengukuran menunjukkan pH tertinggi berada di hilir dengan nilai 9,12. Nilai TDS di muara mencapai 673 mg/L. Sementara itu, DO di muara tercatat hanya 2,2 mg/L.
Angka DO yang rendah menunjukkan sedikitnya oksigen terlarut dalam air. Apabila berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kehidupan ikan dan organisme perairan sebelum aliran memasuki Kali Surabaya sebagai sumber air baku.
#Kesaksian Warga dan Temuan Mahasiswa
Selain mengukur kualitas air, mahasiswa mewawancarai warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar sungai. Marcellina Santoso dan Sharon Rosearly Dwijaya mendokumentasikan berbagai kesaksian mengenai perubahan kondisi sungai selama beberapa tahun terakhir.
Seorang warga mengaku sudah terbiasa melihat busa putih mengapung di permukaan sungai. Karena sering muncul, fenomena itu akhirnya dianggap sebagai pemandangan biasa.
Penjaga tambang perahu mengatakan bau menyengat kerap muncul bersamaan dengan banyaknya busa putih. Menurutnya, kondisi itu tidak terjadi setiap hari, tetapi berulang dalam waktu tertentu.

Ia juga menyampaikan pernah mendengar cerita bahwa sebagian warga diminta tidak banyak membicarakan persoalan limbah. Pernyataan tersebut merupakan keterangan narasumber dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Keluhan serupa datang dari pengguna jalan yang melintasi jembatan di sekitar lokasi. Beberapa pengendara spontan menutup hidung sambil berteriak, “Bau!.”
Seorang anak yang baru pulang sekolah bahkan bertanya kepada ibunya, “Itu apa putih-putih, kok baunya enggak enak ya, Bu?”
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Penjaga tambang perahu juga menyoroti fungsi Kali Surabaya sebagai sumber air baku masyarakat. “Berarti selama ini kita minum limbah, Mbak,” ujarnya, yang mencerminkan kekhawatiran pribadi atas kondisi sungai.
Mahasiswa magang, Sherly Cleodora Elshada, menilai temuan di lokasi perlu ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah. Menurutnya, dugaan pencemaran sungai tidak boleh diabaikan karena menyangkut keselamatan lingkungan dan masyarakat.
“Siapapun, apapun di belakang perusahaan harus ditindak tegas,” katanya. Pernyataan tersebut merupakan pandangan mahasiswa yang mendorong penegakan hukum apabila nantinya ditemukan pelanggaran berdasarkan proses penyelidikan resmi.

Mahasiswa Leipzig University, Moritz Constantin Lauten, menilai pengelolaan limbah industri di Indonesia masih membutuhkan banyak perbaikan. Ia mengaku terkejut melihat reaksi limbah di sungai yang menurut pengalamannya berbeda dibandingkan di Jerman.
Menurut Moritz, pada sejumlah sungai di Jerman, pembuangan limbah industri yang telah memenuhi ketentuan tidak memperlihatkan reaksi fisik seperti busa pekat. “Kemungkinan ada perbedaan komposisi limbah, teknologi pengolahan, atau pengaruh iklim yang membuat reaksi limbah di Indonesia terlihat berbeda. Namun, itu masih sebatas dugaan yang perlu dikaji secara ilmiah,” kata Moritz. Dugaan itu, katanya melanjutkan, masih memerlukan penelitian ilmiah lebih lanjut.

#Desakan Penyelidikan dan Penegakan Hukum
Menanggapi temuan mahasiswa, Ketua Perkumpulan Telapak Indonesia, Prigi Arisandi, meminta pemerintah segera melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan pencemaran di Kali Tengah dan Kali Surabaya.
Menurut mentor mahasiswa magang, laporan mahasiswa menunjukkan adanya indikasi pencemaran yang tidak boleh diabaikan. Karena itu, kata pendiri Ecoton ini, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat perlu turun langsung melakukan pemeriksaan lokasi, pengambilan sampel, dan penelusuran sumber pencemar.

Ia meminta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, serta aparat penegakan hukum lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup segera melakukan investigasi berdasarkan bukti ilmiah.
“Temuan mahasiswa ini harus menjadi peringatan bagi masyarakat dan industri agar tidak membuang limbah sembarangan ke Kali Surabaya. Sungai ini merupakan sumber kehidupan sekaligus sumber air baku,” ujar Prigi.
Ia menambahkan, apabila penyelidikan membuktikan adanya pelanggaran terhadap ketentuan lingkungan hidup, pemerintah harus menjatuhkan sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
“Penegakan hukum harus menjadi prioritas. Jika terbukti terjadi pelanggaran, pelakunya wajib ditindak sesuai peraturan agar kualitas sungai tetap terlindungi dan masyarakat tidak terus menanggung dampaknya,” ujar Prigi.***