- Ancaman di hulu Balantieng kian nyata. Pemuda Bulukumba didorong bergerak sebelum sungai rusak permanen.
- Belajar dari sungai di Jawa, Sungai Balantieng butuh aksi pemantauan pemuda sebelum terlambat dipulihkan.
- Perubahan bentang alam hulu memicu erosi Balantieng. Data pemuda kunci dorong kebijakan perlindungan sungai.
- Jangan tunggu Balantieng hancur. Citizen science dan pemuda Bulukumba jadi benteng penyelamat ekosistem perairan.
- Dari data menjadi gerakan, pemuda Bulukumba diajak bersatu mengawal masa depan Sungai Balantieng terpadu.
EKOSISTEM Sungai Balantieng dan Bialo di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, saat ini berada di persimpangan jalan. Meski kondisi alirannya masih tergolong relatif hidup, bayang-bayang perubahan bentang alam, percepatan sedimentasi, ekstraksi pasir, hingga eskalasi aktivitas manusia kian intensif menekan ruang hidup perairan tersebut. Jika tidak diantisipasi sejak dini, kerusakan sungai dikhawatirkan mencapai titik krusial yang sulit dipulihkan.
Ancaman itu mengemuka dalam Dialog Nasional bertajuk “Aksi Pemuda dalam Menjaga Sungai Nusantara” yang menghadirkan tiga narasumber kunci: Ketua Perkumpulan Telapak Indonesia Prigi Arisandi, Direktur Balang Institute Junaedi Hambali, serta Dr. Abdul Kadir dari BPDAS/Penyuluh Kehutanan Jeneberang.
#Warning dari Jawa: Pulihkan Sebelum Hancur
Dalam pemaparannya, Prigi Arisandi membandingkan kondisi perairan Bulukumba dengan sungai-sungai besar di Pulau Jawa seperti Brantas, Ciliwung, dan Bengawan Solo yang telah menderita tekanan berat akibat kepadatan populasi dan laju ekonomi. Tekanan urbanisasi, alih fungsi lahan, limbah domestik, sampah, hingga eksploitasi berlebihan telah menggerus daya dukung ekosistem sungai-sungai tersebut.
“Pengalaman sungai-sungai di Jawa semestinya menjadi peringatan bagi Bulukumba. Pencegahan harus dilakukan sewaktu ekosistem sungai masih memiliki kemampuan daya lenting (resilience). Jangan menunggu sungai rusak terlebih dahulu baru melakukan restorasi,” tegas Prigi, Ahad, (9/8/2026).

#Akar Masalah Berawal dari Perubahan Bentang Alam Hulu
Direktur Balang Institute, Junaedi Hambali, menekankan pentingnya memandang sungai sebagai bagian dari kesatuan bentang alam (Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menyambungkan hutan, tanah, air tanah, pemukiman, hingga muara laut. Air hujan yang jatuh di kawasan hulu diserap vegetasi dan tanah sebelum mengalir ke anak sungai dan sungai utama.
Kerusakan pada tutup hulu, kata Junaedi, seperti konversi hutan menjadi kawasan perkebunan, pemukiman, hingga praktik hortikultura dan ekstraksi pasir yang tidak terkontrol. Menurut Junaedi, dapat melipatgandakan laju limpasan air dan erosi.
“Kerusakan di kawasan hulu dapat melipatgandakan laju limpasan air dan erosi. Gejala seperti banjir, longsor, kekeringan, hingga erosi sempadan di hilir merupakan indikator hilir dari masalah utama yang terjadi di hulu, ” jelasnya.
Junaedi juga menyoroti perubahan morfologi sungai yang cukup ekstrem. Di beberapa titik, lebar sungai yang semula sekitar 40 meter tercatat membengkak hingga 150–200 meter.
“Perubahan alur dan pelebaran skala besar ini, dipicu oleh ekstraksi pasir tanpa kendali serta rusaknya vegetasi riparian yang memilki fungsi sebagai benteng alami bentang sungai, “ ujarnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Citizen Science: Pemuda Menterjemahkan Data Menjadi Gerakan
Menghadapi potensi ancaman tersebut, pemuda didorong untuk mengambil peran taktis sebagai citizen scientist atau pemantau lingkungan berbasis komunitas. Pemuda tidak hanya dituntut melakukan aksi bersih-bersih, tetapi juga mengumpulkan data secara rutin: mencatat kualitas air, menginventarisasi keanekaragaman hayati (ikan dan vegetasi), memetakan titik pencemaran, hingga mendokumentasikan perubahan morfologi sungai.
Agar data tersebut efektif mendorong perubahan, dialog ini menyarankan pendekatan science into art. Data teknis diproduseri menjadi konten visual dan media kreatif, seperti infografis, videografi, film dokumen, fotografi, mural, hingga storytelling digital.
Melalui prinsip Find, Document, and Verify, pemuda dapat memanfaatkan media sosial sebagai ruang advokasi publik yang akurat untuk mendesak transparansi serta pengambil kebijakan:

#Rekomendasi Solusi: Satgas Terpadu hingga “Satu Data Sungai Balantieng”
Dialog tersebut melahirkan sejumlah rekomendasi konkret yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Bulukumba dan para pemangku kepentingan:
- Pembentukan Satgas Sungai Balantieng: Tim lintas sektor (pemerintah, akademisi, komunitas, pemuda, dan pelaku usaha) guna mengatasi fragmentasi kewenangan dan mempercepat respon atas aduan perusakan lingkungan.
- Satu Data Sungai Balantieng: Konsolidasi basis data terpadu (baseline ekologis) yang memuat status kualitas air, keanekaragaman hayati, titik kerentanan bencana, peta ekstraksi pasir, hingga peluncuran Atlas Biodiversitas Sungai Bulukumba.
- Perlindungan Vegetasi Riparian: Penetapan kawasan sempadan sungai sebagai zona lindung vegetasi lokal guna menahan erosi dan menyaring limpasan air secara alami.
Peta Jalan (Roadmap) Perlindungan 2026–2030
Untuk memastikan keberlanjutan perlindungan Sungai Balantieng, dirumuskan roadmap bertahap yang dapat diintegrasikan ke dalam skema kebijakan daerah maupun aksi komunitas:
- 2026–2027 (KNOW): Pemetaan menyeluruh, penyusunan baseline data, dan pembentukan program River School Bulukumba serta jaringan Young River Guardian.
- 2027–2028 (PROTECT): Penguatan regulasi kawasan hulu, perlindungan zona riparian, penataan izin/penawasan ekstraksi pasir, dan penerapan sistem Indeks Kesehatan Sungai.
- 2028–2029 (ENGAGE): Perluasan partisipasi publik, integrasi jalur pengaduan masyarakat, serta pemanfaatan data warga secara masif.
- 2029–2030 (RESTORE & SUSTAIN): Pemulihan zona kritis ekosistem sungai dan peletakan tata kelola perlindungan sungai jangka panjang lintas generasi.
Menjaga Sungai Balantieng dan Bialo adalah perlombaan melawan waktu. Keberhasilan menjaga ekosistem ini tidak cukup diukur dari seberapa sering kegiatan pembersihan sampah dilakukan, melainkan dari sejauh mana kebijakan, pengetahuan, pengawasan, serta keterlibatan pemuda mampu menghentikan sumber kerusakan sebelum meluas.***