Lewati ke konten

Ikan Kali Surabaya Mati Usai Kebakaran Wings, Foam Pemadam Jadi Sorotan

| 6 menit baca |Sorotan | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
  • Kebakaran Wings pada 4 September beriringan dengan kematian ikan Kali Surabaya selama dua hari.
  • Foam digunakan saat pemadaman kebakaran Wings, sementara kematian ikan terjadi setelah kejadian.
  • Wings mengakui kebakaran, tetapi belum memastikan kaitannya dengan kematian ikan di sungai.
  • Titik kebakaran dan outfall Wings disebut berjarak lebih dari satu kilometer.
  • Dugaan pencemaran belum terjawab, sementara data pengujian kualitas air belum disampaikan terbuka.

KEBAKARAN PT Wings Group pada 4 September 2026 menyisakan tanda tanya terkait kondisi Kali Surabaya. Pasalnya, ikan di sungai dilaporkan mati selama dua hari setelah kejadian. Penggunaan foam saat pemadaman turut menjadi sorotan dalam peristiwa tersebut.

Namun, belum ada bukti yang memastikan foam menyebabkan kematian ikan. Pihak Wings juga belum memastikan hubungan langsung kedua peristiwa tersebut. Samuji, pengawas lingkungan PT Wings Group, mengaku tidak berada di lokasi saat kebakaran terjadi.

“Persisnya kita kurang tahu persisnya,” ujar Samuji ketika ditanya mengenai dampaknya, saat menghadiri penebaran benih ikan endemik di Kali Surabaya, Jumat (11/9/2026).

Samuji mengatakan, di sekitar kawasan Wings terdapat banyak perusahaan yang beraktivitas. Karena itu, menurut dia, penyebab kematian ikan belum dapat dipastikan.

“Di kawasan itu bukan Wings saja, banyak perusahaan yang berdiri di sana. Sampean cek, berapa pabrik yang ada di tempat itu, kawasan industri Driyorejo,” ucap Samuji.

Samuji kemudian mengaku selama ini peduli terhadap Kali Surabaya. Bahkan, Wings disebut telah mengikuti program Adopsi Kali Surabaya. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci bentuk adopsi yang dimaksud.

“Ya kita peduli. Selama ini kita kan ikut Adopsi Kali Surabaya. Kita bekerja sama dengan banyak pihak dan Dinas Lingkungan. Jadi, setiap ada kegiatan, kita gabung,” ujar Samuji.

Menebar Harapan di Kali Surabaya. Perwakilan BBWS Brantas, Perum Jasa Tirta I, dan PT Wings Group mengikuti penebaran benih ikan sebagai upaya menjaga ekosistem sungai. | Foto: Supriyadi

#Kebakaran Wings dan Kematian Ikan Terjadi Berdekatan

Setelah kejadian kebakaran, kematian ikan dilaporkan terjadi di aliran Kali Surabaya. Dampaknya disebut berlangsung selama dua hari, yakni 5-6 September 2026. Warga bahkan berbondong-bondong mencari ikan yang mati maupun terdampak.

BACA JUGA:  Jelajah Sungai Bijawang, Ungkap 21 Tumbuhan Bernilai Obat di Festival Tiga Sungai Bulukumba

Dalam percakapan tersebut, Samuji menjelaskan proses pemadaman menggunakan air terlebih dahulu. Namun, api disebut tidak segera padam dengan metode tersebut.

Petugas kemudian menggunakan foam untuk membantu proses pemadaman kebakaran. Penggunaan bahan tersebut menjadi salah satu hal yang dipertanyakan dalam kaitannya dengan kondisi sungai setelah kebakaran.

“Pemadam kebakaran kan fokus pada pemadaman,” kata Samuji.

Menurut dia, penggunaan foam dilakukan agar api lebih cepat dikendalikan. Ia pun enggan menjelaskan secara rinci jenis foam yang digunakan dalam proses pemadaman tersebut.

Di titik inilah pertanyaan lingkungan muncul setelah kematian ikan dilaporkan. Apakah material pemadam masuk ke saluran air atau badan sungai?

Pertanyaan tersebut belum memperoleh jawaban teknis dalam percakapan tersebut. Belum ada penjelasan mengenai kandungan foam, jalur alirannya, maupun hasil pengujian air setelah kejadian.

Staf Teknis Perum Jasa Tirta I, Bayu Sasmita, juga hadir dalam kegiatan tersebut. Saat ditanya mengenai dugaan pencemaran, Bayu lebih banyak merespons dengan anggukan dan senyuman.

Namun, ketika ditanya mengenai rilis Perum Jasa Tirta I yang menyebut pencemaran terjadi akibat foam pemadaman kebakaran, Bayu tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Dengan senyum, Bayu tetap merespons pertanyaan tersebut dengan anggukan.

Sikap tersebut membuat informasi mengenai dugaan pencemaran akibat foam belum mendapatkan penjelasan teknis secara terbuka. Termasuk mengenai hasil pemeriksaan kualitas air serta kandungan material yang diduga masuk ke aliran sungai.

Busa putih tampak mengapung di permukaan Kali Jagir, Surabaya, setelah penurunan kualitas air | Foto: M Iffan

#Wings Bantah Titik Kebakaran Dekat Saluran Pembuangan

Wings menyebut lokasi kebakaran berbeda dengan titik pembuangan air limbah. Samuji mengatakan area kebakaran berada di bagian utara kawasan perusahaan.

Sementara itu, outfall perusahaan berada di bagian selatan kawasan tersebut. Menurut Samuji, kedua lokasi itu berjarak cukup jauh.

BACA JUGA:  Mahasiswa Unej Kenalkan Biokoagulan Biji Kelor untuk Atasi Air Keruh Warga Gucialit Lumajang

“Jadi jauh dari tempat kebakaran. Sangat jauh,” kata Samuji.

Ia memperkirakan jaraknya lebih dari satu kilometer dari titik kebakaran. Menurut dia, kedua lokasi tersebut memiliki posisi yang terpisah.

Samuji juga menyatakan instalasi pengolahan air limbah perusahaan berjalan baik. “IPAL-nya bagus,” ujarnya saat menjelaskan kondisi pengolahan limbah perusahaan.

Namun, ia mengakui pembuangan air tetap berakhir di badan sungai. Menurut Samuji, outfall perusahaan berada di Kali Tengah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Lokasi tersebut disebut berada di sisi selatan kawasan perusahaan. Sedangkan kebakaran terjadi di area utara, dekat ruas tol.

Jarak tersebut menjadi dasar Wings menjelaskan tidak adanya hubungan langsung antara titik kebakaran dan outfall. Namun, jarak geografis belum otomatis menjawab seluruh kemungkinan jalur pencemaran.

Saluran drainase dan aliran permukaan juga menjadi faktor yang perlu diperiksa. Terlebih, dugaan pencemaran membutuhkan penelusuran berdasarkan data kualitas lingkungan.

Termasuk pemeriksaan air sebelum dan sesudah kejadian kebakaran. Data tersebut belum disampaikan dalam percakapan yang tersedia.

Karena itu, dugaan hubungan antara kebakaran, penggunaan foam, dan kematian ikan masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Pemeriksaan terhadap kondisi air menjadi penting untuk mengetahui perubahan yang terjadi setelah insiden.

Ikan mati ditemukan di Kali Jagir Wonokromo, menambah kekhawatiran kondisi kualitas air sungai. | Foto: M Iffan

#Disebut Musibah, Publik Menunggu Jawaban soal Penyebab Ikan Mati

Perwakilan Bagian Hukum dan Komunikasi Publik BBWS Brantas, Yudhia Abrianto, menyebut kebakaran tersebut sebagai musibah yang tidak diharapkan.

“Ini bentuk musibah. Kita tidak mau datangnya musibah,” ujar Yudhia.

Namun, status kebakaran sebagai musibah tidak otomatis menjawab dampak lingkungannya. Pertanyaan mengenai kematian ikan tetap membutuhkan pemeriksaan tersendiri.

BACA JUGA:  Benua Dunia Mengering, Krisis Air Tawar Jadi Ancaman Global Baru

Begitu pula dugaan keterkaitan foam dengan perubahan kualitas air sungai. Hingga kini, dalam percakapan tersebut belum terdapat penjelasan teknis yang memastikan hubungan tersebut.

Samuji menegaskan Wings memiliki kepedulian terhadap kelestarian Kali Surabaya. Ia menyebut perusahaan telah mengikuti program Adopsi Kali Surabaya.

Menurutnya, Wings bahkan terlibat sejak program tersebut mulai berjalan. Keterlibatan itu disebut sebagai bagian dari upaya perusahaan menjaga lingkungan sungai.

“Kita sangat peduli,” ujar Samuji ketika menjelaskan komitmen perusahaan.

Ia mengatakan Wings terus berupaya membantu pemulihan ekosistem sungai. Namun, komitmen lingkungan tersebut tidak menjawab penyebab kematian ikan.

Sebaliknya, kematian ikan juga belum cukup untuk menyimpulkan kesalahan Wings. Diperlukan bukti mengenai sumber pencemar dan jalur masuknya material.

Pemeriksaan laboratorium menjadi penting untuk memastikan kandungan dalam air sungai. Pemeriksaan tersebut juga diperlukan untuk mengetahui apakah terjadi perubahan kualitas air setelah kebakaran.

Persoalan kini berada pada titik pembuktian, bukan sekadar pernyataan. Kebakaran memang terjadi dan penggunaan foam juga diakui dalam percakapan.

Kematian ikan setelah kejadian juga menjadi informasi yang perlu diverifikasi. Yang belum terjawab adalah apakah ketiga fakta tersebut saling berkaitan.

Jawaban itu hanya dapat diperoleh melalui pemeriksaan lingkungan secara menyeluruh. Tanpa data tersebut, kesimpulan mengenai penyebab kematian ikan masih prematur.

Publik kini membutuhkan hasil pemeriksaan yang transparan dan dapat diverifikasi. Terutama mengenai kualitas air dan kondisi ekosistem setelah kebakaran.

Dengan demikian, dugaan pencemaran dapat diuji berdasarkan bukti, bukan asumsi. Pemeriksaan terbuka juga penting agar pihak yang bertanggung jawab dapat ditentukan berdasarkan fakta.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *