Lewati ke konten

Bedah Darurat Pencemaran Kali Tebu, Pelajar SMPN 15 Surabaya Aksi Kritis Pakai “Pohon Masalah”

| 6 menit baca |Kali Tebu | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Sebanyak 45 pelajar SMPN 15 Surabaya membedah pencemaran Kali Tebu melalui Pohon Masalah. Mereka mengurai akar persoalan, dampak kerusakan sungai, hingga solusi yang bisa dilakukan bersama secara sungguhsungguh terhadap lingkungan.
  • Bukan hanya belajar di kelas, 45 pelajar SMPN 15 Surabaya diajak mengkritisi pencemaran Kali Tebu. Lewat Pohon Masalah dan World Cafe, mereka merumuskan solusi kongkret untuk sungai di sekitar sekolah.
  • Minimnya pengelolaan sampah, rendahnya literasi lingkungan, limbah industri, dan sampah rumah tangga menjadi sorotan pelajar SMPN 15 Surabaya saat membedah darurat pencemaran sungai melalui diskusi kritis bersama ECOTON di sekolah.
  • Dari banjir hingga ancaman krisis air bersih, pelajar SMPN 15 Surabaya memetakan dampak pencemaran sungai. Mereka kemudian menawarkan pemilahan sampah, 3R, penyaring sampah, dan edukasi lingkungan sebagai langkah nyata bersama.
  • Di tengah kesibukan dunia digital, 45 pelajar SMPN 15 Surabaya memilih bersuara untuk sungai. Bersama ECOTON, mereka belajar menjadi generasi kritis yang mampu merumuskan aksi nyata bagi lingkungan sekitar bersama.

Penulis: Erica Damayanti, Media Communication ECOTON. Artikel ini ditulis sebagai bagian dari Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang digagas Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Didukung UNDP Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Kementerian Lingkungan Hidup, Clean Rivers, dan Emirates Foundation, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di kawasan Kali Tebu, Surabaya.

DI tengah gempuran tren digital yang cenderung menyita perhatian generasi muda, puluhan pelajar di Surabaya memilih memalingkan pandangan mereka sejenak dari layar gawai. Sebanyak 45 siswa-siswi SMP Negeri 15 Surabaya berkumpul dan bersuara nyaring menyoroti kondisi Kali Tebu, sungai yang berada tak jauh dari lokasi sekolah mereka, yang saat ini kondisinya cukup memprihatinkan.

BACA JUGA:  Tim Pelopor Kampung Mozaik Surabaya Susun Rencana Kerja 120 Hari Pengelolaan Sampah

Bekerja sama dengan lembaga lingkungan ECOTON, para pelajar yang masih berusia belasan tahun itu, menggelar aksi kritis. Bagaimana mereka membedah akar persoalan pencemaran sungai melalui metode interaktif bertajuk “Pohon Masalah” dan “World Cafe”.

Pegiat lingkungan dari ECOTON, yang sekligus menjadi pemateri kegiatan, Thara Bening Sandrina, mengungkapkan bahwa agenda ini diinisiasi tujuannya membangun kembali kepedulian dan daya kritis generasi muda terhadap isu lingkungan hidup.

“Yang terjadi sekarang, anak muda sibuk dengan dunianya, bermain gawai dan cenderung individualis. Kepekaan terhadap persoalan lingkungan masih sangat minim,” ujar Thara, seusai acara di Jalan H.M. Noer, Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran, Surabaya, Selasa (20/10/2026).

Thara menegaskan, pengenalan krisis ekosistem sungai kepada generasi muda adalah hal yang sangat krusial. Menurutnya, masalah sungai tercemar tidak hanya bermula dari kebiasaan warga membuang sampah rumah tangga, tetapi juga melibatkan peran dinas terkait dan sektor industri.

“Permasalahan sungai saat ini memang didominasi sampah rumah tangga. Namun sebenarnya banyak pihak yang terlibat. Apakah pemerintah sudah menyediakan sarana dan prasarana yang memadai? Begitu pula produsen yang membuat produk, mereka memiliki tanggung jawab Extended Producer Responsibility (EPR) atas sampah kemasannya,” tegas Thara.

“Permasalahan sungai saat ini memang didominasi sampah rumah tangga. Namun sebenarnya banyak pihak yang terlibat. Apakah pemerintah sudah menyediakan sarana dan prasarana yang memadai? Begitu pula produsen yang membuat produk, mereka memiliki tanggung jawab Extended Producer Responsibility (EPR) atas sampah kemasannya.”

Berkolaborasi membuat poster “Pohon Masalah”, para pelajar SMPN 15 Surabaya memetakan akar persoalan dan dampak pencemaran sungai melalui gambar dan diskusi kelompok. | Foto: M Iffan

Menganalisis Krisis Lewat Metaphor “Pohon Masalah”

Dalam sesi utama, para siswa dibagi ke dalam empat kelompok diskusi. Mereka diajak memetakan persoalan pencemaran sungai menggunakan analogi visual sebatang pohon:

  • Akar: Menggambarkan akar penyebab dasar terjadinya pencemaran.
  • Batang: Memvisualisasikan masalah utama yang sedang dihadapi.
  • Daun: Menunjukkan rentetan dampak buruk yang timbul.
  • Buah: Merepresentasikan aksi nyata dan solusi konkret yang bisa dilakukan.
BACA JUGA:  Monumen Soedirman Surabaya Menjaga Ingatan Perjuangan Kota

Dari hasil bedah diskusi kelompok, para siswa berhasil mengidentifikasi bahwa pemicu utama pencemaran sungai sangat kompleks. Selain disebabkan oleh pembuangan limbah industri dan sampah rumah tangga, akar masalahnya juga terletak pada minimnya sarana pengelolaan sampah, rendahnya literasi lingkungan, hingga belum optimalnya edukasi publik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dampak yang ditimbulkan pun tak main-main. Para siswa menyoroti bagaimana tumpukan kotoran dan tersumbatnya aliran air dapat memicu banjir, menjadi sarang penyakit, membunuh biota sungai, hingga mengancam ketersediaan air bersih bagi warga.

“Aku dapat banyak pengalaman baru karena melihat analisis sebab-akibat dari kelompok lain yang berbeda dengan kelompokku. Dari situ, aku bisa menggabungkan berbagai gagasan menjadi solusi nyata yang bisa kita mulai dari diri masing-masing.”

Berdiskusi bersama pelajar, Thara Bening Sandrina dari ECOTON menjelaskan hasil pemetaan “Pohon Masalah” untuk mengurai akar dan dampak pencemaran sungai. | Foto: M Iffan

Berbagi Gagasan di Sesi World Cafe

Usai merampungkan poster “Pohon Masalah”, dinamika belajar berlanjut ke sesi World Cafe. Skenarionya mirip pameran gagasan: dua hingga tiga perwakilan kelompok bertugas sebagai “penjaga stan” yang memaparkan temuan mereka, sementara anggota lainnya berkeliling mengunjungi kelompok lain untuk berdiskusi dan bertukar ide.

Ayla, salah satu siswi peserta, mengaku mendapatkan sudut pandang baru yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya.

“Aku dapat banyak pengalaman baru karena melihat analisis sebab-akibat dari kelompok lain yang berbeda dengan kelompokku. Dari situ, aku bisa menggabungkan berbagai gagasan menjadi solusi nyata yang bisa kita mulai dari diri masing-masing,” ungkap Ayla antusias.

Pengalaman berharga juga dirasakan oleh Afika Julia. Sebelum kegiatan berlangsung, ia sempat melakukan wawancara kecil dengan orang tuanya mengenai riwayat sungai di sekitar kawasan Kenjeran.

BACA JUGA:  Ancaman Kimia di Balik Wangi Semu Deodoran

“Dari hasil wawancara ke orang tua minggu lalu, ternyata sungai zaman dulu airnya cukup jernih dan masyarakatnya guyub rukun merawat lingkungan. Bedanya dengan sekarang, kotoran menumpuk dan saluran air banyak yang tersumbat,” cerita Afika membandingkan dua zaman.

Mempresentasikan hasil “Pohon Masalah”, para pelajar SMPN 15 Surabaya berdiskusi mengenai akar persoalan, dampak, dan solusi pencemaran sungai. | Foto: M Iffan

“Aku dapat banyak pengalaman baru karena melihat analisis sebab-akibat dari kelompok lain yang berbeda dengan kelompokku. Dari situ, aku bisa menggabungkan berbagai gagasan menjadi solusi nyata yang bisa kita mulai dari diri masing-masing.”

Mendorong Action Plan Generasi Muda

Tidak sekadar mendiagnosis masalah, para pelajar SMPN 15 Surabaya ini juga berhasil merumuskan serangkaian solusi konkret. Beberapa gagasan yang mereka usulkan antara lain:

  1. Pemasangan alat penyaring sampah di titik-titik strategis aliran sungai.
  2. Pembiasaan pemilahan sampah organik dan anorganik dari skala rumah tangga.
  3. Penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Kampanye edukasi aktif untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.

Melalui perpaduan metode “Pohon Masalah” dan “World Cafe”, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman teori semata. Tetapi berharap segera, menjelma menjadi aksi sungguhsungguh (action plan). Dalam hal ini, tentu saja para pelajar SMPN 15 Surabaya ini, telah membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi agen perubahan (agent of change) yang kritis dan aktif menjaga kelestarian sungai demi masa depan mereka.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *