- Berawal dari Sorong hingga menuntut ilmu HI di Jawa, Lid Debora Widodo menemukan panggilannya. Lewat magang di ECOTON, ia kini mendedikasikan suaranya membela hak ekologis sungai.
- Bagaimana mahasiswi HI asal Papua memaknai krisis lingkungan? Debora memadukan hukum internasional dan ekosentrisme dalam memperjuangkan hak sungai agar bebas dari pencemaran industri serta sampah plastik.
- Dari narasumber Festival Kali Surabaya sampai menjadi moderator film lingkungan, Debora mengajak generasi muda yang saat ini populer mengklaim diri Gen Z, memutus apatisme ekologis. Sungai bukan semata-mata aliran air, melainkan ruang hidup yang wajib dijaga.
- Berakar dari relasi sakral masyarakat adat Papua dengan alam, Debora melihat pencemaran sungai di Jawa sebagai krisis kultural. Bagi perempuan muda ini, alam adalah entitas hidup yang wajib dilindungi.
- “Suara kita paling berharga saat membela yang tak bisa bersuara.” Simak kisah Lid Debora Widodo, mahasiswi asal Sorong yang menjelma menjadi pejuang hak-hak sungai bersama ECOTON di Jawa.

Penulis: Supriyadi, jurnalis Titikterang.co.id
PERJALANAN hidup sering kali membawa seseorang ke arah yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Bagi Lid Debora Widodo, mahasiswi FISIP Hubungan Internasional (HI) Universitas Brawijaya (UB) asal Sorong, Papua Barat Daya, garis takdir memanggilnya menyusuri alur yang tak biasa: melintasi batas geografis dari timur Indonesia menuju Pulau Jawa, hingga akhirnya mendedikasikan suaranya untuk membela hak-hak ekologis sungai.
Masa kecil Debora, begitu biasa terdengar disapa, di kawasan Sorong Timur dihabiskan dalam kehangatan keluarga yang cermat mendidiknya. Bersama sang adik, hari-harinya diisi dengan les akademik, les bahasa, sampai bermusik di rumah.
“Orang tua saya sempat berpindah-pindah kota sampai akhirnya menetap di Sorong puluhan tahun lalu. Nama saya mungkin tidak langsung mencitrakan Sorong, tapi di situlah letak keberagaman latar belakang keluarga kami.”
Di balik tempat lahirnya di Papua, Debora menyimpan akar keluarga yang kaya akan keragaman budaya. Nama lengkapnya menyelipkan kata “Hanung”, sebuah warisan nama dari nenek pihak ayah yang berasalkan Yogyakarta. Sementara itu, sang ibu memiliki garis keturunan yang kuat dari Sangihe, Sulawesi Utara.
“Orang tua saya sempat berpindah-pindah kota sampai akhirnya menetap di Sorong puluhan tahun lalu. Nama saya mungkin tidak langsung mencitrakan Sorong, tapi di situlah letak keberagaman latar belakang keluarga kami,” ujar Debora, saat saya wawancarai, Senin, 19 Oktober 2026.

Melangkah ke Jawa: Adaptasi, Kultur, dan Kuliah Hubungan Internasional
Keputusan menyeberang pulau dan melanjutkan pendidikan di Malang, Jawa Timur, awalnya bukan rencana pribadi Debora. Atas dorongan sang ayah, ia memberanikan diri keluar dari batas kenyamanan di Kota Sorong.
Proses adaptasi di Malang membawa tantangan tersendiri. Mulai dari lidah yang harus terbiasa dengan cita rasa kuliner Jawa yang cenderung manis (sangat bertolak belakang dengan kuliner Sorong yang berani dan pedas), sampai memahami kosa kata bahasa Jawa sehari-hari.
Namun, di balik proses penyesuaian itu, Debora menemukan ruang gerak yang leluasa. “Di Sorong, interaksi sosial sangat dekat sampai kadang merasa diperhatikan secara berlebih. Di Jawa, masyarakatnya memberi ruang lebih leluasa bagi kita untuk mengeksplorasi diri tanpa takut dihakimi,” kenangnya.
Pilihan Debora menempuh jurusan HI di Universitas Brawijaya, berawal dari ketarikannya pada dinamika antarnegara sewaktu SMA. Pengalamannya mengikuti kompetisi paduan suara hingga ke Singapura. Dari sini membuka matanya tentang, bagaimana kebijakan sebuah negara dibentuk dan berdampak pada kemajuan sebuah bangsa.

“Modernisasi dan pencemaran mikroplastik telah memutus hubungan emosional warga dengan sungai. Penting bagi kita untuk mendekatkan kembali sungai kepada generasi muda melalui edukasi langsung agar memutus rantai apatisme ekologis.”
Titik Balik di ECOTON: Menyingkap Hak-Hak Alam dan Realitas Sungai
Tumbuh di kawasan perkotaan membuat Debora dulunya tidak terlalu menaruh perhatian pada isu lingkungan. Namun, berkat saran dari sang ibu, yang memiliki jejaring di ranah konservasi laut. Debora melangkahkan kaki menjadi pemagang di Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), yang berbasis di Wringinanom, Gresik.
Pengalaman terjun langsung ke lokasi -lokasi sungai, menjadi momen penyingkapan (eye-opening). Debora lalu menyadari bahwa sungai bukan dipahami sebagai saluran air semata. Tetapi lebih luas, meski ada yang bilang “versi kecil dari laut”. Karena dari situ, dipenuhi interaksi biota ekologis yang penting bagi kehidupan manusia.
Sebagai mahasiswi HI, Debora menemukan benang merah yang kuat antara studinya dengan isu lingkungan melalui konsep Hak Atas Sungai (Rights of River), sebuah cabang dari paradigma Rights of Nature.
“Manusia sering merasa sebagai pusat alam semesta (antroposentrisme) karena berakal budi. Konsep hak sungai berlandaskan ekosentrisme, yaitu menekankan bahwa setiap entitas alam adalah subjek hukum yang berhak dipulihkan, berhak mengalir tanpa hambatan, dan berhak dibela secara hukum jika dicemari industri,” tegas Debora.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

Menggerakkan Generasi Muda: Festival Kali Surabaya hingga Moderator Film
Keterlibatan Debora di ECOTON kian teruji, lewat aksinya di rangkaian acara Festival Kali Surabaya yang berlangsung di Taman Suaka Ikan di Wringinanom, Gresik, pada 21–25 September 2026. Tak hanya masuk dalam jajaran kepanitiaan, Debora juga dipercaya berdiri sebagai salah satu narasumber.
Debora menyoroti keprihatinannya atas dinamika warga dengan Kali Surabaya. Di satu sisi, sungai ini menjadi penopang air baku bagi warga sendiri; namun di sisi lain, sungai kerap diperlakukan sebagai tempat pembuangan limbah maupun sampah.
“Modernisasi dan pencemaran mikroplastik telah memutus hubungan emosional warga dengan sungai. Penting bagi kita untuk mendekatkan kembali sungai kepada generasi muda melalui edukasi langsung agar memutus rantai apatisme ekologis,” terangnya.
Kemampuannya menjembatani isu lingkungan yang kompleks kembali terbukti, saat ia dipercaya menjadi moderator pemutaran film Good Morning, Tomorrow! Dengan persiapan matang dan menyederhanakan istilah ilmiah menjadi narasi yang relevan, Debora berhasil memandu diskusi yang menggugah antusiasme para pelajar SMA, juga khalayak umum lainnya.
“Anak-anak SMA yang hadir kaget saat melihat kenyataan mikroplastik di sekitar mereka. Bewgitul juga masyarakat. Mereka sadar polusi sungai itu masalah personal, bukan cuma urusan pabrik atau pemerintah. Itu membuktikan, generasi muda atau Gen Z punya kepedulian riil,” kata Debora.

“Perjalanan ini adalah proses penemuan jati diri dan kesadaran, bahwa sejauh apa pun kita melangkah, suara kita paling berharga ketika digunakan untuk membela mereka yang tidak bisa bersuara, termasuk sungai dan alam tempat kita hidup.”
Perspektif Perempuan Papua dan Harapan Masa Depan
Tumbuh dengan mengamati relasi sakral masyarakat adat di Papua terhadap alam. Memberikan Debora, memiliki cara pandang yang dalam sebagai seorang perempuan muda. Menurutnya, perempuan memegang peran sentral sebagai penjaga ekosistem. Karena perempuan dan anak-anak lah, paling berdampak pada krisis lingkungan di ruang domestik.
“Di Papua, alam adalah entitas hidup yang wajib diwariskan secara utuh. Ketika melihat pencemaran di DAS Brantas atau maraknya sampah plastik di Jawa ini. Saya melihat, ini tidak boleh dilihat sebagai krisis teknis sampah. Tetapi yang harus dipahami, telah terjadi krisis hubungan kultural dan spiritual antara manusia dengan ruang hidupnya,” jelasnya.
Pengalaman magang di ECOTON telah mentransformasi cara pandang hidup Debora. Pengetahuan tentang tata kelola lingkungan dan legal guardianship (perlindungan hukum bagi alam), menjadi bekal berharga yang ingin ia bawa ke mana pun langkahnya berlanjut, termasuk jika suatu saat kembali ke kampung halamannya di Sorong.
Ketika diminta merangkum perjalanan hidupnya dari Sorong ke Jawa, menuntut ilmu HI, hingga memperjuangkan ekosistem sungai bersama ECOTON, Debora menjawab penuh makna:
“Perjalanan ini adalah proses penemuan jati diri dan kesadaran, bahwa sejauh apa pun kita melangkah, suara kita paling berharga ketika digunakan untuk membela mereka yang tidak bisa bersuara, termasuk sungai dan alam tempat kita hidup.”
Entah darimana kalimat itu ia kutip. Namun saat ditanya, ia kembali menjawab, “Saya lebih banyak belajar dari orang-orang ECOTON. Terutama Pak Prigi (Prigi Arisandi, pendiri Ecoton), yang banyak memengaruhi pikiran saya, “ ucapnya dengan nada serius. ***

Profil Singkat Lid Debora Widodo:
- Tempat Lahir: Sorong (Papua Barat Daya)
- Status / Aktivitas Saat Ini: Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya & Pemagang di ECOTON 10 Agustus – 4 Desember 2026.
- Riwayat Pendidikan:
- SD – SMP di Kota Sorong, Papua Barat Daya
- SMA Katolik (Jurusan Bahasa)
- S1 Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya (Malang)