Lewati ke konten

“Mata Luka” di Pelataran Ecoton: Cara Mahasiswa Biologi UINSA Surabaya Memaknai Perpisahan

| 4 menit baca |Rekreatif | 42 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Mahasiswa biologi membacakan puisi tragedi Sengkon Karta tanpa panggung, menghadirkan ingatan tentang ketidakadilan yang lama terpendam dalam ruang sunyi sejarah bangsa.

Tak ada panggung. Tak ada lampu sorot. Bahkan tak ada batas tegas antara penampil dan penonton. Yang ada hanya kerumunan kecil di sebuah pelataran, Kamis pagi, 2 April 2026.

Sebagian berdiri, sebagian duduk di bangku seadanya. Orang-orang datang tanpa ekspektasi akan sebuah pertunjukan. Namun justru di ruang yang nyaris tanpa tata itulah, sesuatu yang tak biasa berlangsung.

Lima mahasiswa biologi dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya – Kalista Maharani, Intan Fatima Az-Zahra, Eka Febriana Puji Lestari, M. Zacky Amardyas Hilmi, dan Syafaat Alifudin Atmajaya- memulai sebuah pembacaan.

Mereka tidak berdiri sebagai aktor. Tidak pula sebagai orator. Mereka hadir sebagai bagian dari komunitas belajar yang mereka bangun selama studi independen di Ecoton melalui inisiatif Zero.Micro, yang selama ini dikenal lewat kampanye penolakan plastik.

Namun pagi itu, mereka tidak membawa data laboratorium. Tidak ada grafik pencemaran. Tidak ada istilah ilmiah.

Yang mereka bawa adalah luka lama. “…menjadi simbol luka dan ketidakadilan yang mendalam. Maka untuk mengenang peristiwa dan menyuarakan penderitaan yang terabaikan, lahirlah puisi Petani Bojongsari,” ucap Kalista, yang bertindak sebagai narator.

Tak ada pengantar panjang. Hanya suara yang mengalir.

#Kata-Kata yang Mengorek Ingatan

Puisi Mata Luka Sengkon Karta karya Peri Sandi Huizche dibacakan tanpa dramatika berlebih. Tanpa gestur teatrikal. Tanpa nada yang dipaksakan meninggi. Justru dalam kesederhanaan itu, daya hantamnya terasa.

Lalu bait itu pecah di udara:

Bung Karno diganti pak Harto
Dengan dalih keamanan Negara
Pembantaian enam jendral satu perwira
Enam jam dalam satu malam
Mati di lubang tak berguna
Tak ada dalam perang mahabharata
Bahkan di sejarah dunia
Hanya di sejarah Indonesia
Pemusnahan golongan kiri
PKI wajib mati
Pemimpin otoriter
REPELITA
Rencana pembanguna lima tahun
Bisa jadi rencana pembantaian lima tahu…

Suara Intan Fatima Az-Zahra meninggi pada bagian tengah perform, bukan karena efek dramatis, melainkan karena adegan yang menyertainya. Ia ditarik, didorong, oleh dua “tentara” yang diperankan Zacky dan Syafaat.

Gerak mereka tetap minimal dan cukup untuk membuat ruang itu mengeras.

Puisi bergerak perlahan. Kata demi kata seperti meraba ingatan yang tak seluruhnya dikenali oleh mereka yang hadir.

Sengkon dan Karta – dua nama yang pernah terseret dalam kesalahan hukum – tidak hadir sebagai tokoh sejarah semata. Mereka menjelma gema. Sesuatu yang samar, tapi mengganggu.

Tak ada tepuk tangan. Bahkan beberapa detik setelah bait pertama selesai, yang terdengar hanya napas.

Kami menyaksikan diam.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Seolah semua orang sedang menimbang: apakah ini pertunjukan seni, atau justru sebuah pengingat yang selama ini luput?

Intan Fatima Az-Zahra dan Eka Febriana Puji Lestari larut dalam pembacaan puisi Mata Luka Sengkon Karta, menghadirkan sunyi yang menggema dari luka sejarah di pelataran Ecoton. | Foto: M Faizul Adhim

“Puisi ini seperti membuka sesuatu yang lama terkunci,” ujar Eka pelan. “Kami sendiri baru benar-benar memahami setelah membacanya berulang-ulang, ” katanya selasai sesi acara.

Tak ada penjelasan sejarah. Tak ada ceramah. Namun justru di situlah kekuatannya. Cerita itu menjadi dekat. Personal. Seperti milik bersama.

#Dari Sunyi Menjadi Suara

Bagi mereka, pembacaan ini  tak hanya dilihat sebagai performa. Ini bagian dari proses belajar yang berlangsung sejak 5 Januari hingga 2 April 2026, selama mengikuti studi independen di Ecoton.

Di sana, mereka tak hanya belajar tentang pencemaran atau mikroplastik. Mereka belajar mendengar. Belajar mendekat pada masyarakat. Dan perlahan, belajar berbicara.

Intan mengaku pengalaman itu mengubah cara pandangnya. Dunia tak lagi sekadar data dan laporan, melainkan juga cerita-cerita yang selama ini tak terdengar.

Kalista menambahkan, membaca puisi seperti ini membuat mereka memahami bahwa sains dan kemanusiaan tak selalu berjalan terpisah.

“Kadang, yang dibutuhkan bukan hanya bukti, tapi juga keberanian untuk menyuarakan,” katanya.

Eka, yang sebelumnya mengaku tak terbiasa berbicara di depan publik, kini berdiri di tengah kerumunan, menyuarakan sesuatu yang bahkan tak ia kenal sebelumnya.

“Dulu saya tidak berani,” ujarnya. “Sekarang, setidaknya bisa mencoba.”

Di pelataran itu, tak ada yang benar-benar berubah secara kasat mata. Bangku tetap sederhana. Orang-orang tetap berdiri seadanya.

Namun sesuatu telah bergeser.

Puisi yang dibacakan tanpa panggung itu telah mengubah ruang menjadi semacam ruang pengakuan. Sunyi, tapi penuh.

Dan mungkin, di antara kata-kata yang menggantung di udara, ada ingatan yang akhirnya menemukan jalannya pulang.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *