Lewati ke konten

Menanti Kiamat Ekologi: Saat Kemarau Ekstrem Bertemu Pekatnya Polusi Industri

| 5 menit baca |Ekologis | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Marga Bagus

Percepatan pemanasan global memperparah krisis sungai di Indonesia. Debit air menurun, polusi meningkat, dan lemahnya pengawasan industri memperbesar ancaman krisis air dan ekologi.

Pemanasan global kini bergerak lebih cepat dari perkiraan. Para ilmuwan memperingatkan laju kenaikan suhu Bumi meningkat tajam sejak 2015 dan berpotensi menembus batas kritis 1,5 derajat Celsius sebelum 2030. Di Indonesia, percepatan krisis iklim ini bukan hanya memicu cuaca ekstrem, tetapi juga memperburuk kondisi sungai yang sudah lama tertekan oleh pencemaran.

Kajian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters menunjukkan, pemanasan global hampir berlipat ganda dalam satu dekade terakhir. “Jika pada periode 1970 hingga 2015 suhu rata-rata Bumi meningkat sekitar 0,2 derajat Celsius per dekade, sejak 2015 angkanya melonjak menjadi sekitar 0,35 derajat Celsius, “ tulis  dua penelit G. Foster dan S. Rahmstorf dalam kajian Global Warming Has Accelerated Significantly Volume 53, Issue5 yang dipublikasi, 6 Maret 2026.

Tahun berikutnya, di sepuluh tahun terakhir juga tercatat sebagai periode terpanas dalam sejarah pengamatan iklim modern. Tahun 2023 dan 2024 bahkan mencatat rekor baru suhu global.  Pada 2024, suhu rata-rata dunia telah melampaui 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri, “ tulis mereka.

Meski pelanggaran ambang batas dalam Perjanjian Paris secara resmi dihitung berdasarkan rata-rata selama 20 tahun, para ilmuwan menilai lonjakan suhu dalam satu tahun tetap menjadi peringatan serius.

Peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, Stefan Rahmstorf, menegaskan bahwa masa depan iklim masih sangat bergantung pada keputusan manusia saat ini.

“Kita masih memiliki kendali terhadap seberapa cepat Bumi terus menghangat. Itu bergantung pada seberapa cepat kita mampu mengurangi emisi CO₂ global dari bahan bakar fosil hingga nol,” katanya dalam beberapa media lingkungan.

Infografik yang menggambarkan ancaman krisis ekologis sungai ketika kemarau ekstrem bertemu dengan tingginya pencemaran industri. Penurunan debit air, meningkatnya konsentrasi polutan, serta lemahnya pengawasan lingkungan mempercepat kerusakan ekosistem sungai di tengah krisis iklim. | Grafik: AI

#Sungai Tertekan Kemarau dan Pencemaran

Di Indonesia, dampak perubahan iklim mulai terasa melalui perubahan pola musim, suhu yang semakin panas, serta meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan lebih kering dari kondisi normal.

Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang memiliki tugas pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika (MKG) ini juga memperingatkan peluang 50–60 persen terjadinya El Niño lemah hingga moderat pada pertengahan tahun.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena menyebut, kondisi iklim global saat ini berada pada fase netral setelah fenomena La Niña lemah berakhir pada Februari 2026. Situasi ini meningkatkan risiko kekeringan dan penurunan debit sungai di sejumlah wilayah.

Bagi ekosistem sungai, kondisi ini dapat menjadi ancaman serius. Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menilai, percepatan pemanasan global akan memperparah tekanan yang sudah lama dialami sungai-sungai di Indonesia akibat pencemaran limbah industri dan domestik.

Ketika musim kemarau lebih panjang dan debit air sungai menurun, kemampuan sungai untuk mengencerkan limbah menjadi semakin terbatas. Akibatnya, konsentrasi polutan di dalam air meningkat.

“Ketika debit sungai menurun akibat kemarau panjang, limbah industri menjadi lebih pekat di dalam air. Hal ini memperparah pencemaran yang sudah terjadi di banyak sungai di Indonesia,” ujar Koordinator Divisi Kampanye dan Edukasi Ecoton, Alaika Rahmatullah dalam rilisnya yang dikirim. Ahad, 8 Maret 2026.

Menurut Alaika, pemanasan global juga meningkatkan suhu air sungai. Kondisi itu dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air, yang sangat penting bagi kehidupan organisme sungai.

Penurunan oksigen dapat menyebabkan kematian ikan, gangguan ekosistem air tawar, serta meningkatkan pertumbuhan alga berbahaya yang merusak kualitas air.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan dapat meningkatkan risiko kepunahan sejumlah spesies ikan air tawar di Indonesia.

Kondisi Kali Sadar di Mojokerto tercemar limbah cair industri kertas yang dibuang tanpa pengolahan memadai. Tekanan pencemaran ini kian berat seiring dampak krisis iklim pada sungai. | Foto: Ecoton, 2023

#Lemahnya Pengawasan Industri

Ecoton menilai dampak krisis iklim akan semakin parah jika pencemaran industri tidak dikendalikan secara serius. Lembaga yang fokus penelitiannya ekosistem sungai ini, juga mengkritik lemahnya pengawasan terhadap aktivitas industri yang membuang limbah ke sungai.

Dalam beberapa bulan terakhir, Ecoton bersama tim investigasi Posko Ijo dan Jaringan Generasi Z Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak) yang dikoordinasikan TitikTerang mengungkap dugaan pencemaran Sungai Brantas dari industri kertas PT Indonesia Royal Paper (IRP) di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Industri yang memproduksi kertas daur ulang dengan produk utama berupa core board paper diduga membuang limbah tanpa pengolahan air limbah yang memadai.

Kasus ini, menurut Ecoton, mencerminkan lemahnya sistem pengawasan lingkungan di sejumlah daerah.

“Sungai di Indonesia saat ini menghadapi tekanan yang sangat tinggi terhadap pencemaran, ditambah krisis iklim yang memperburuk kondisi hidrologi, serta lemahnya pengawasan terhadap aktivitas industri,” kata Alaika.

Peneliti muda ini menambahkan, bahwa kombinasi antara krisis iklim dan pencemaran berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap kesehatan masyarakat.

Saat ini, banyak sungai di Indonesia masih dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk kebutuhan domestik maupun industri. Jika kualitas air terus menurun, masyarakat berisiko menghadapi krisis air bersih.

Menurut Ecoton, tanpa pengawasan yang ketat dan penegakan hukum yang konsisten, kondisi sungai akan semakin rentan mengalami krisis ekologis.

Lembaga yang memenangkan Peninjauan Kembali (PK) dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 821 PK/Pdt/2025 pada 21 Agustus 2025 itu menekankan, perlindungan sungai harus menjadi bagian penting dari strategi menghadapi krisis iklim di Indonesia.

Upaya tersebut mencakup pengurangan emisi karbon, pengendalian pencemaran industri, pemulihan ekosistem sungai, serta penguatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas air.

“Jika sungai terus dibiarkan tercemar dan debit airnya menurun akibat perubahan iklim, maka kita sedang menuju krisis air yang serius,” ujar Alaika.

Ia menegaskan bahwa sungai merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat dan ekosistem.

“Melindungi sungai bukan hanya soal lingkungan, tetapi bagian dari upaya menghadapi krisis iklim yang semakin nyata,” kata Alaika.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *