Lewati ke konten

Penjaga Sunyi Gedung Singa Jembatan Merah Surabaya

| 5 menit baca |Rekreatif | 6 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Marga Bagus

Gedung Singa di Jembatan Merah menyimpan jejak kolonial, simbol kekuasaan ekonomi, dan perubahan zaman, tetap berdiri sebagai penanda sejarah di tengah arus modernisasi kota.

Di utara Kota Surabaya, kawasan Jembatan Merah tak pernah benar-benar sunyi. Deru kendaraan, klakson bersahutan, dan langkah kaki para pekerja menjadi lanskap sehari-hari. Di tengah riuh itu, sebuah bangunan tua berdiri dengan tenang, seolah tak terpengaruh oleh waktu.

Orang-orang mengenalnya sebagai Gedung Singa.

Bangunan ini didirikan pada 1901, ketika Surabaya masih berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Saat itu, kawasan di sekitar gedung dikenal sebagai Willemskade – sebuah wilayah strategis yang dekat dengan pelabuhan dan jalur distribusi barang. Aktivitas ekonomi berlangsung nyaris tanpa jeda. Kapal-kapal dagang bersandar, memuat dan membongkar hasil bumi dari berbagai daerah.

Di tengah denyut perdagangan itulah Gedung Singa hadir. Tempat bukan hanya dilihat sebagai bangunan pelengkap, tapi merupakan simbol kehadiran kekuatan ekonomi kolonial.

Gedung ini awalnya digunakan sebagai kantor Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente, perusahaan asuransi jiwa asal Belanda yang memiliki pengaruh besar pada masanya.

Sebuah catatan surat kabar pada awal abad ke-20 menyebut rencana pembangunan gedung ini sebagai “bangunan besar dan indah” yang akan berdiri di lahan terbuka Willemskade. Deskripsi itu bukan berlebihan. Dari awal, gedung ini memang dirancang untuk mencolok—baik secara fungsi maupun tampilan.

Gaya arsitektur kolonial yang diusungnya menegaskan posisi ekonomi sekaligus estetika kekuasaan. Di masa ketika kehadiran perusahaan Eropa identik dengan dominasi, bangunan seperti Gedung Singa menjadi penanda visual yang sulit diabaikan.

Ornamen patung singa bersayap di bagian depan Gedung Singa di kawasan Jembatan Merah. Menjadi ciri khas sekaligus simbol kekuatan dan kewibawaan yang melekat sejak masa kolonial. | Foto: Shella

#Simbol Dua Singa Bersayap

Daya tarik utama gedung ini terletak pada dua patung singa bersayap di bagian depannya. Ornamen itu bukan sekadar hiasan. Ia mengandung makna yang jauh melampaui fungsi estetika.

Dalam tradisi arsitektur Eropa, singa kerap menjadi simbol kekuatan, kewibawaan, dan perlindungan. Ketika sayap ditambahkan, maknanya berkembang: kekuatan yang melampaui batas fisik, menjangkau ruang yang lebih luas, bahkan tak kasatmata.

Bagi perusahaan asuransi yang pernah berkantor di sana, simbol tersebut terasa tepat. Asuransi pada masa itu bukan hanya urusan finansial, melainkan juga kepercayaan. Ia menjanjikan perlindungan terhadap ketidakpastian, sesuatu yang tidak selalu terlihat namun sangat dirasakan.

Patung singa itu, dengan demikian, menjadi bahasa visual. Ia menyampaikan pesan kepada siapa pun yang melintas: di tempat ini, ada kekuatan yang menjaga, ada institusi yang bisa dipercaya.

Menariknya, makna simbolik itu tetap bertahan meski fungsi gedung telah lama berubah. Orang mungkin tak lagi mengenal nama perusahaan yang pernah menempatinya. Namun mereka tetap mengingat satu hal: gedung dengan patung singa.

Seorang pekerja di kawasan tersebut, Rudi, mengaku telah lama mengenali bangunan ini tanpa mengetahui sejarahnya secara rinci. Baginya, Gedung Singa adalah penanda ruang.

“Kalau lewat sini, pasti langsung tahu. Itu gedung yang ada singanya,” katanya.

Pengakuan itu menunjukkan bagaimana arsitektur bekerja melampaui waktu. Ia tidak hanya berbicara kepada generasi yang membangunnya, tetapi juga kepada mereka yang datang jauh setelahnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Panel ubin rancangan Jan Toorop tahun 1901 untuk Gedung Singa—kantor perusahaan asuransi Belanda Algemeene hasil desain H.P. Berlage. Karya ini menjadi satu-satunya jejak Toorop di Indonesia. Dalam kajiannya, Petra Timmer mengurai lapisan makna dari visual yang tampak tenang, namun menyimpan simbol dan narasi yang kompleks. | Foto: Shella

#Saksi Bisu Perubahan Zaman

Seperti banyak bangunan kolonial lain di Surabaya, Gedung Singa telah melewati berbagai fase sejarah. Ia berdiri di masa Hindia Belanda, bertahan dalam pendudukan Jepang, dan tetap ada setelah Indonesia merdeka.

Kawasan Kota Lama Surabaya, termasuk Jembatan Merah, menjadi salah satu titik penting dalam peristiwa sejarah nasional, terutama pada 1945. Meski Gedung Singa bukan lokasi utama pertempuran, ia berada di ruang yang sama—ruang yang menyimpan ketegangan, perubahan, dan peralihan kekuasaan.

Di tengah semua itu, bangunan ini nyaris tak berubah secara fisik. Dindingnya tetap kokoh, ornamen singa masih menatap ke arah jalan, dan fasadnya tetap mempertahankan karakter awalnya. Ia seakan menjadi jangkar yang menahan ingatan agar tidak sepenuhnya hanyut oleh waktu.

Hari ini, fungsi gedung mungkin tak lagi sama. Ia bukan lagi pusat aktivitas ekonomi seperti satu abad lalu. Namun keberadaannya tetap penting—bukan karena apa yang terjadi di dalamnya, melainkan karena apa yang diwakilinya.

Seorang mahasiswa, Laras, yang mengunjungi kawasan tersebut, melihat Gedung Singa sebagai lebih dari sekadar bangunan tua.

“Bangunannya beda. Kelihatan punya cerita,” ujarnya.

Pernyataan itu sederhana, tetapi mengandung makna mendalam. Di tengah kota yang terus berubah, bangunan seperti Gedung Singa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Ia memberi konteks, menghadirkan lapisan sejarah yang tidak selalu terlihat dalam hiruk-pikuk modernitas.

Kawasan Jembatan Merah sendiri kini telah bertransformasi. Lalu lintas kendaraan menggantikan keramaian pedagang masa kolonial. Bangunan-bangunan baru muncul, berdampingan dengan yang lama. Sebagian bertahan, sebagian lain hilang tanpa jejak.

Detail ornamen patung singa bersayap di depan Gedung Singa, kawasan Jembatan Merah. Ukiran khas ini menjadi simbol kekuatan dan kewibawaan yang melekat sejak era kolonial, sekaligus penanda visual yang mudah dikenali hingga kini. | Foto: Shella

Namun Gedung Singa masih ada.

Ia berdiri tanpa banyak suara, tanpa klaim besar, tanpa penjelasan panjang. Patung singa bersayap di bagian depannya tetap menghadap jalan, mengamati perubahan yang tak pernah berhenti.

Di bawah tatapan itu, orang-orang datang dan pergi. Kendaraan melintas. Kota bergerak.

Dan Gedung Singa tetap menjadi pengingat: bahwa Surabaya bukan hanya kota yang terus maju, tetapi juga kota yang menyimpan jejak panjang- yang, jika diperhatikan, masih bisa dibaca hingga hari ini.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *