Lewati ke konten

Pohon Jalanan Surabaya, Pendingin Gratis yang Terlupa

| 5 menit baca |Rekreatif | 8 dibaca

Di tengah suhu kota yang terus meningkat, pepohonan jalanan di Surabaya menjadi peneduh alami, menurunkan panas, memperbaiki kualitas udara, sekaligus menjaga kenyamanan mobilitas warga hari.

Deretan pepohonan di Jalan Ahmad Yani, Surabaya Selatan, menghadirkan keteduhan di tengah padatnya arus kendaraan dan teriknya suhu siang hari. Foto: Shella.

Surabaya kerap terasa menyengat ketika siang hari. Aspal memantulkan panas, kendaraan bergerak tanpa jeda, dan udara terasa berat ketika dihirup terlalu lama. Namun di beberapa ruas jalan, suasana berbeda masih bisa ditemukan. Di bawah barisan pepohonan besar, suhu terasa sedikit lebih ramah, seolah kota memberi jeda singkat bagi warganya.

Salah satu koridor hijau yang masih bertahan berada di Jalan Ahmad Yani. Di sepanjang jalur utama Surabaya Selatan itu, pepohonan tinggi berdiri di sisi kiri dan kanan jalan, membentuk lorong teduh di tengah lalu lintas yang padat. Daun-daun lebat menahan sebagian panas matahari yang biasanya memantul dari permukaan jalan.

“Kalau lewat sini rasanya lebih enak, nggak sepanas jalan lain,” ujar Rudi, 42 tahun, pengendara motor yang hampir setiap hari melintas dari arah Waru menuju pusat kota, pada Senin siang, (23/2/2026).

Ia mengatakan perbedaan suhu terasa jelas, terutama saat berhenti di lampu merah. Di bawah naungan pohon, panas tidak langsung menyengat wajah dan tubuh.

#Teduh yang Terasa di Tengah Lalu Lintas

Bagi banyak pengendara motor, pepohonan di tepi jalan selain menjadi elemen lanskap kota. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung nyata dari paparan matahari tropis yang keras. Pada ruas jalan yang minim vegetasi, panas sering terasa memantul dari berbagai arah, dari aspal, kendaraan, hingga bangunan di sekitarnya.

Dewi, 29 tahun, karyawan swasta yang setiap pagi menuju kantornya di Surabaya Selatan, mengaku sengaja memilih jalur yang lebih rindang meski harus menghadapi kemacetan.

“Macet memang, tapi lebih nyaman. Kalau lewat jalan yang minim pohon, cepat capek,” katanya.

Menurutnya, rasa lelah saat berkendara bukan hanya karena jarak atau kepadatan lalu lintas, tetapi juga suhu udara. Panas berlebih membuat perjalanan terasa lebih panjang dari waktu sebenarnya. “Kalau panas, mood juga cepat turun,” ujarnya.

Pengalaman itu dirasakan banyak warga kota. Di jalan yang teduh, perjalanan terasa lebih manusiawi. Pengendara tidak harus menahan panas langsung selama perjalanan, sementara pejalan kaki masih memiliki ruang untuk berjalan tanpa merasa terbakar matahari.

#Pohon sebagai Ruang Bernapas Kota

Di kota besar, jalan raya merupakan ruang publik yang paling sering digunakan. Setiap hari, ribuan orang melewati jalur yang sama, menghirup udara yang sama, dan berbagi suhu lingkungan yang sama pula. Dalam konteks itu, pepohonan menjadi ruang bernapas kecil yang bekerja diam-diam.

Sumarno, 55 tahun, warga yang tinggal di sekitar kawasan Jalan Ahmad Yani, mengatakan pepohonan di kawasan tersebut sudah ada sejak lama. Ia menyaksikan bagaimana perubahan vegetasi memengaruhi kenyamanan lingkungan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Dari dulu memang rindang. Kalau pohon-pohon ini nggak ada, saya nggak kebayang panasnya seperti apa,” katanya.

Ia mengingat beberapa ruas jalan lain yang berubah drastis setelah pepohonannya ditebang karena proyek pelebaran jalan atau pembangunan. Setelah pohon hilang, suhu terasa meningkat dan orang enggan berhenti terlalu lama di sekitar area tersebut.

Selain memberi teduh, pepohonan membantu menyaring debu dan polusi kendaraan. Daun dan batang pohon berfungsi sebagai penyerap partikel udara, sekaligus menjaga kelembapan mikro di sekitar jalan. Meski manfaatnya tidak selalu terlihat, dampaknya dirasakan langsung oleh warga yang melintas setiap hari.

Bagi sebagian warga, keberadaan pohon bahkan membentuk identitas visual kota. Jalan yang rindang lebih mudah diingat dan memberi kesan ramah dibanding koridor jalan yang sepenuhnya didominasi beton.

Lalu lintas padat di Jalan Ahmad Yani, Surabaya Selatan, tetap terasa lebih teduh berkat deretan pepohonan yang menjadi peneduh alami bagi pengendara. Foto: Shella.

#Menjaga Kerindangan di Tengah Pembangunan

Mempertahankan pepohonan di jalan raya bukan perkara sederhana. Pemerintah Kota Surabaya, setidaknya harus mempertimbangkan keselamatan, perawatan rutin, hingga kebutuhan ruang bagi infrastruktur baru. Akar pohon dapat merusak trotoar, cabang berisiko patah saat musim hujan, dan perawatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Namun bagi warga, pengurangan vegetasi sering kali terasa sebagai kehilangan kualitas hidup. “Yang bikin khawatir itu kalau ditebang tapi nggak diganti,” kata Sumarno. Ia berharap setiap penebangan diikuti penanaman kembali agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Di tengah dorongan pembangunan kota modern, pepohonan kerap dianggap sekadar elemen estetika. Padahal fungsinya jauh lebih mendasar, menurunkan suhu permukaan, mengurangi efek pulau panas perkotaan, serta menciptakan ruang publik yang lebih sehat.

Bagi pengendara seperti Rudi, manfaat itu terasa nyata setiap hari. “Pohon itu bantu kami bertahan di jalan,” katanya.

Pepohonan tidak membutuhkan listrik, tidak menghasilkan suara, dan jarang mendapat perhatian khusus. Namun kehadirannya menjadi pendingin alami yang bekerja sepanjang waktu. Ketika suhu kota terus meningkat akibat perubahan iklim dan kepadatan pembangunan, fungsi sederhana itu justru menjadi semakin penting.

Jalan Ahmad Yani menunjukkan, ruang hijau di tengah jalan raya bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar kota tropis. Di bawah bayang daun yang bergerak pelan tertiup angin, Surabaya terasa sedikit lebih sejuk dan sedikit lebih ramah bagi warganya yang terus bergerak setiap hari.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *