Lewati ke konten

Pos Bloc Surabaya, Jejak Lama Ruang Baru

| 6 menit baca |Rekreatif | 16 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Bangunan kantor pos kolonial di jantung Surabaya bertransformasi menjadi ruang publik kreatif, tanpa sepenuhnya melepaskan perannya sebagai simpul komunikasi kota sejak abad ke-19.

Di sudut pusat kota, tak jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas dan deretan bangunan tua kawasan utara Surabaya, berdiri sebuah gedung bercat terang dengan halaman yang nyaris tak pernah sepi. Anak-anak muda datang berkelompok; sebagian duduk di tangga, sebagian menenteng minuman sambil berbincang hingga petang.

Tempat itu kini dikenal sebagai Pos Bloc Surabaya, ruang publik yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi simpul baru aktivitas kreatif kota.

Gedung Kantor Pos Kebon Rojo memiliki riwayat panjang sebelum menjadi ruang berkumpul seperti hari ini. Bangunan ini berdiri pada 1926 dan dirancang arsitek G.P.J.M. Bolsius dari Departemen Burgerlijke Openbare Werken (BOW) Batavia.

Sekitar 1800 hingga 1881, bangunan ini digunakan sebagai Kantor Kabupaten Surabaya. Karena fungsinya itu, Jalan Kebon Rojo dahulu dikenal sebagai Regenstraa, jalan tempat kediaman dan aktivitas pejabat kabupaten berlangsung. Pada masa itu, bentuk bangunan berbeda. “Atapnya datar dan belum menjulang seperti sekarang,” tulis situs Surabaya Tourism .

Fungsinya kembali berubah ketika gedung ini menjadi HBS (Hogere Burgerschool) hingga 1923. Sekolah menengah elite berbahasa pengantar Belanda itu diperuntukkan bagi anak-anak Eropa, bangsawan pribumi, dan kalangan elite lokal. Salah satu alumninya adalah Soekarno yang belajar di sana pada 1915–1920. Nama lain yang pernah menempuh pendidikan di tempat ini antara lain Hubertus Jan van Mook dan Christian Eichholtz.

Gedung yang diketahui memiliki luas 6.496 M2 itu, bahkan sempat digunakan sebagai kantor Kepala Komisaris Polisi Surabaya sebelum akhirnya ditetapkan sebagai kantor pos. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan sempat dikuasai militer Jepang, lalu direbut kembali oleh pegawai pos pribumi sekitar Oktober 1945.

Namun bangunan itu tidak pernah benar-benar kehilangan perannya sebagai pusat aktivitas kota. Awal abad 20, ketika Surabaya berkembang sebagai pelabuhan penting Hindia Belanda, kantor pos menjadi penghubung informasi utama. Dari ruang-ruang berdinding tebal inilah surat resmi dikirim, kabar keluarga disampaikan, dan administrasi kolonial dijalankan.

Kantor pos kala itu tidak hanya dikenal sebagai layanan publik, tetapi juga simbol keteraturan administratif. Surat, telegram, dan dokumen resmi menjadi instrumen penting dalam mengelola wilayah yang luas. Di kota pelabuhan seperti Surabaya, arus komunikasi berjalan seiring dengan arus perdagangan dan mobilitas manusia. Gedung di Jalan Kebon Rojo menjadi salah satu simpulnya.

Hari ini wajahnya berubah. Cat bangunan diperbarui, ruang dalam diisi tenant UMKM, pameran seni, dan kegiatan komunitas. Pilar tinggi, jendela besar, serta tata ruang kolonial tetap dipertahankan. Alih fungsi dilakukan tanpa menghapus jejak fisik masa lalu.

Perubahan itu mencerminkan kebutuhan kota yang terus bergerak. Di tengah keterbatasan ruang publik, bangunan tua menemukan relevansi baru, bukan sebagai monumen beku, melainkan ruang hidup yang berdenyut bersama generasi kini.

Tampak depan gedung Kantor Pos Surabaya pada masa kolonial di kawasan Jalan Kebon Rojo. Bangunan ini dahulu menjadi simpul penting layanan komunikasi dan aktivitas kota pada awal abad ke-20, sebelum kini dikenal sebagai Pos Bloc Surabaya. | Foto: posblocsby

#Kantor Pos yang Masih Bernapas

Berbeda dengan banyak bangunan bersejarah lain di Surabaya yang sepenuhnya berganti fungsi, gedung ini tetap menjalankan peran lamanya. Di dalam kawasan Pos Bloc, layanan PT Pos Indonesia masih beroperasi. Loket pengiriman surat dan paket berdiri berdampingan dengan kafe dan ruang pamer.

Dua dunia bertemu tanpa sekat tegas. Di satu sisi, anak muda mengantre kopi; di sisi lain, warga mengirim dokumen atau paket belanja daring. Aktivitas administratif berjalan beriringan dengan percakapan santai. Stempel dan cangkir kopi berbagi ruang yang sama.

Agus (40), salah satu pekerja di kawasan itu, menyebut tempat ini bukan hanya ruang publik, tetapi juga tujuan wisata. “Di sini sudah seperti museum. Banyak yang mampir karena dekat dengan Tugu Pahlawan dan kawasan Kota Lama,” katanya, Jumat (20/2/2026).

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kedekatan dengan Tugu Pahlawan membuat kawasan ini berada dalam lanskap sejarah kota. Pengunjung yang datang untuk bersantai kerap berhenti membaca panel informasi di dinding. Sebagian terkejut mengetahui gedung tempat mereka berfoto pernah menjadi pusat distribusi surat pada masa kolonial.

Sayang, tidak semua yang datang dengan kesadaran sejarah. Cindy (21), misalnya. Seorang mahasiswa yang berkunjung bersama teman-temannya, mengaku tertarik dengan tempat ini karena desain bangunan dan suasananya. “Kalau soal sejarahnya, jujur nggak terlalu tahu. Paling cuma tahu ini bekas kantor pos,” ujarnya. Yang kemudian mengaku, baru memahami cerita tempat itu setelah membaca papan informasi di dalam kawasan.

Di sinilah letak keunikan sekaligus tantangannya. Sejarah hadir, tetapi kerap kalah mencolok dibanding keramaian pengunjung dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Gedung ini tetap mengirim surat, sekaligus menyampaikan pesan lain, bangunan lama dapat terus hidup tanpa kehilangan fungsi dasarnya.

Deretan panel informasi sejarah di dalam kawasan Pos Bloc Surabaya menampilkan linimasa perkembangan Kantor Pos Surabaya sejak abad ke-19. Papan-papan ini menjadi ruang edukasi publik yang menghubungkan layanan pos dengan perjalanan sejarah kota. Foto: Shella

#Sejarah yang Tidak Sekadar Ornamen

Di beberapa sudut ruangan, terlihat deretan panel informasi menampilkan linimasa perkembangan kantor pos sejak abad ke-19. Arsip visual dan foto lama pun terpajang berdampingan dengan penjelasan ringkas. Tidak dikemas sebagai museum konvensional, tetapi cukup memberi konteks bagi pengunjung.

Upaya ini penting. Alih fungsi bangunan bersejarah kerap berisiko mereduksi masa lalu menjadi dekorasi. Ornamen kolonial dipertahankan demi estetika, sementara cerita di baliknya memudar. Di Pos Bloc Surabaya, narasi itu tetap dihadirkan. Meski mengandung kesan ringan, tapi tetap terbuka, dan mudah diakses.

Sebagai kota pelabuhan, Surabaya memiliki sejarah panjang dalam jaringan komunikasi regional dan internasional. Surat-surat dari kantor pos ini dahulu menghubungkan kota dengan Batavia, Singapura, hingga Eropa. Bangunan heritage itu menjadi simpul yang mengaitkan urusan dagang, keluarga, dan pemerintahan.

Kini simpul itu berubah fungsi. Jika dulu orang datang untuk mengirim kabar tertulis, hari ini mereka datang untuk bertukar cerita secara langsung. Dari ruang kerja menjadi ruang berkumpul. Dari telegram menjadi percakapan. Dari tinta stempel menjadi unggahan media sosial.

Perubahan ini menunjukkan bahwa ruang kota selalu dapat dimaknai ulang tanpa harus menghapus masa lalu. Integrasi fungsi lama dan baru membuat bangunan tetap relevan. Layanan pos yang masih aktif menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya sesuatu yang telah lewat, melainkan praktik yang masih berlangsung.

Pos Bloc Surabaya menghadirkan model adaptif, fungsi sosial, ekonomi, dan edukasi berpadu dalam satu ruang. Pengunjung mungkin datang untuk bersantai, tetapi pulang dengan pemahaman baru tentang perjalanan kota.

Di Jalan Kebon Rojo, jejak itu masih terasa. Gedung lama berdiri dengan wajah baru, menampung percakapan hari ini tanpa memutus cerita kemarin, sebagi pengingat sejarah kota tidak selalu berada di museum; kesan creative hub sangatlah menonjol, antara antrean kopi yang biasanya diiringi obrolan keratifitas dan loket pengiriman paket. ***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *