Lewati ke konten

Sungai di Kota Surabaya, Harapan Air Bersih Terancam Limbah

| 3 menit baca |Sorotan | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Di balik aliran tenang sungai di Surabaya, warga menghadapi bau, sampah, dan limbah yang terus datang, memperlihatkan konflik lama antara kebutuhan air bersih dan tekanan urbanisasi.

Aliran sungai di Surabaya tampak berjalan tanpa banyak gejolak. Dari kejauhan, airnya terlihat biasa saja, seolah masih mampu menanggung ritme kota yang terus bergerak. Bagi warga yang tinggal di bantaran, perubahan terasa pelan tetapi nyata.

Siti, 48 tahun, warga kawasan Gayungan, mengatakan kondisi aliran sering berubah setelah hujan deras. Debit air meningkat cepat dan membawa kiriman sampah dari arah hulu. “Kelihatannya normal, tapi baunya langsung beda,” ujarnya. Plastik, popok sekali pakai, hingga sisa makanan kerap tersangkut di tepian.

Warga membersihkan sampah sebisanya. Arus berikutnya kembali membawa kiriman baru. Siklus ini berlangsung berulang dan membuat upaya pembersihan terasa tidak pernah selesai. Ruang yang dahulu menjadi tempat berinteraksi kini menghadirkan rasa waswas.

Sungai Surabaya memegang fungsi penting bagi kota. Aliran ini menjadi bagian dari sistem Sungai Brantas yang memasok air baku bagi jutaan warga melalui instalasi pengolahan air minum. Ketergantungan kota terhadap sumber air tersebut sangat tinggi, sementara tekanan terus meningkat seiring pertumbuhan permukiman dan aktivitas ekonomi.

Di permukaan, aliran tampak tenang. Di baliknya, tersimpan beban persoalan kota yang semakin kompleks.

#Beban Limbah dan Kebiasaan Lama

Bagi warga bantaran, persoalan lingkungan hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ahmad, 35 tahun, mengatakan bau paling kuat muncul ketika air surut dan cuaca panas. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak yang masih bermain di sekitar tepian.

Sebagian warga sebenarnya ingin menjaga lingkungan tetap bersih. Keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah di tingkat permukiman membuat persoalan berulang. Tidak semua kawasan memiliki layanan pengangkutan sampah yang memadai. Dalam situasi tertentu, aliran air masih dianggap sebagai cara paling mudah membuang limbah rumah tangga.

Papan larangan membuang sampah berdiri di sejumlah titik bantaran. Imbauan tersebut sering kalah oleh kebiasaan lama serta minimnya pengawasan. Perlahan, aliran berubah menjadi muara berbagai persoalan perkotaan, mulai dari limbah domestik hingga sedimentasi.

Pengamat lingkungan menilai persoalan ini tidak bisa dilihat semata sebagai kesalahan perilaku warga. Beban pencemaran datang dari berbagai arah, termasuk aktivitas industri serta kawasan padat di hulu yang belum memiliki sistem pengelolaan limbah memadai.

Warga kerap menjadi pihak yang paling mudah disalahkan, sementara tekanan bersifat sistemik. Limpasan dari berbagai wilayah berkumpul di hilir dan dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat bantaran.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Saluran sungai yang membelah kawasan Ketintang menjadi bagian dari denyut keseharian warga, sekaligus merekam tantangan pengelolaan lingkungan di tengah kepadatan kota. | Foto: Shella

#Mencari Jalan Pemulihan Sungai

Di kawasan seperti Gayungan, aliran air adalah harapan warga sekitar. Alirannya menjadi ruang hidup yang dilewati setiap hari. Anak-anak tumbuh di sekitarnya, warga melintas di tepiannya, dan aktivitas sosial berlangsung mengikuti ritme kota.

Ketika kualitas air menurun, dampaknya kembali kepada lingkungan tempat warga tinggal. Bau menyengat, sampah yang menumpuk, serta perubahan warna air menjadi tanda krisis lingkungan yang hadir sangat dekat.

Upaya pemulihan selama ini banyak berfokus pada pengerukan atau pengangkutan sampah secara berkala. Langkah tersebut membantu mengurangi dampak sementara, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Perbaikan pengelolaan limbah, sanitasi permukiman, serta perubahan cara pandang terhadap sungai menjadi kebutuhan mendesak.

Sejumlah pegiat lingkungan menilai aliran ini perlu diposisikan kembali sebagai bagian dari ekosistem kota. Kebijakan tata ruang, aktivitas industri, hingga sistem pengelolaan sampah harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan sebagai batas ekologis.

Selama aliran air diperlakukan sebagai tempat akhir pembuangan, persoalan akan terus berulang. Ketika sungai kembali dipahami sebagai ruang hidup bersama, peluang menghadirkan air yang lebih bersih tetap terbuka, meski jalannya panjang dan memerlukan komitmen bersama.***

 

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *