Diskusi pembuka Pesta Media AJI Jakarta 2026 menyoroti tekanan berlapis jurnalis perempuan serta peran penting perspektif gender dalam peliputan krisis iklim dan kelompok rentan.
Talkshow bertemakan “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan” membuka rangkaian Pesta Media AJI Jakarta 2026 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.
Diskusi menghadirkan Evi Mariani, Nany Afrida, serta Sapariah Saturi. Ketiganya membahas tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan dalam meliput isu lingkungan dan sosial.
Krisis iklim, menurut mereka, berkaitan erat dengan persoalan kemanusiaan yang memperlebar ketimpangan, terutama bagi perempuan, masyarakat adat, dan kelompok miskin.
Nany Afrida membuka diskusi dengan menggambarkan tekanan berlapis yang dialami jurnalis perempuan di Indonesia. Tekanan itu mencakup kekerasan berbasis gender, diskriminasi di ruang redaksi, hingga serangan di ruang digital.
“Diskriminasi ini bersifat sistemik, bukan kasus individual, jadi harus kita selesaikan bersama-sama. Kekerasan terhadap jurnalis perempuan, baik fisik maupun digital, masih tinggi dan sering dinormalisasikan, serta mekanisme perlindungan di ruang redaksi juga lemah,” kata Nany, yang juga Ketua Umum AJI Indonesia 2024-2027.
Data yang disampaikan menunjukkan jumlah jurnalis perempuan di Indonesia baru mencapai sekitar 21,5 persen dari total jurnalis. Angka ini mencerminkan ketimpangan struktural dalam industri media. Ketidakadilan juga terlihat dalam aspek remunerasi serta pembagian tugas liputan.
Kondisi tersebut berdampak pada kualitas liputan, terutama dalam isu-isu yang membutuhkan sensitivitas gender. Perspektif yang terbatas berpotensi mengabaikan pengalaman kelompok rentan yang terdampak krisis iklim.
#Perspektif Gender Perkaya Liputan
Pandangan serupa disampaikan Sapariah Saturi, jurnalis senior Mongabay. Dalam praktik di Mongabay Indonesia, tantangan terbesar terletak pada upaya merekrut jurnalis perempuan untuk memperkuat perspektif dalam liputan lingkungan.
Menurut Sapariah, kehadiran jurnalis perempuan penting untuk menggali pengalaman kelompok terdampak yang sering kali sulit diakses oleh jurnalis laki-laki. Di wilayah pesisir, misalnya, perempuan menjadi kelompok yang paling merasakan dampak perubahan iklim.
“Jadi, kita bisa mengetahui betapa jahatnya krisis itu ketika perempuan percaya dan mau menceritakan secara terbuka kepada jurnalis perempuan. Itu yang kami lakukan. Kami ingin memperbanyak porsi jurnalis perempuan,” ujar Sapariah.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendekatan berbasis gender membuka akses pada cerita-cerita yang selama ini terpinggirkan. Liputan menjadi lebih beragam dan mendalam, sekaligus memperkaya pemahaman publik terhadap krisis iklim.
Evi Mariani menambahkan, kehadiran jurnalis perempuan membawa sudut pandang baru dalam dunia jurnalistik. Perspektif tersebut penting untuk mengangkat isu-isu yang selama ini kurang mendapat perhatian.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Salah satu contoh yang disampaikan adalah peliputan mengenai baby blues pada ibu pasca melahirkan. Topik semacam ini jarang muncul dalam liputan arus utama karena tidak dekat dengan pengalaman jurnalis laki-laki.
“Pada akhirnya perspektif itu harus diperkaya, dan wawasan harus diperluas. Ketika mendorong jurnalis perempuan dan fotografer perempuan, itu bukan sebagai checklist, tetapi karena ada kesadaran gender yang menghadirkan perspektif berbeda yang selama ini tidak terdengar atau terlihat,” kata pendiri ProjectMultatuli ini.
Diskusi ini menegaskan pentingnya memperkuat peran jurnalis perempuan dalam menghadapi krisis iklim. Perspektif yang lebih inklusif dinilai mampu menghasilkan liputan yang tidak hanya informatif, tetapi juga berkeadilan.
Dalam konteks krisis global yang semakin kompleks, keberagaman di ruang redaksi menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa kehadiran suara perempuan, banyak cerita dari kelompok rentan berisiko tetap tersembunyi.
Pesta Media AJI Jakarta 2026 membuka ruang refleksi bahwa jurnalisme tidak hanya soal menyampaikan fakta, melainkan juga memastikan siapa yang diberi ruang untuk bercerita dan didengar.***
Acara Pesta Media Disponsori oleh: ABC Australia, ABC Internasional Development, IESR, KINETIK, Konservasi Indonesia, ICEL, YIARI, GEOPIX, Aliansi Zero Waste Indonesia, Diet Plastik Indonesia, Satya Bumi, Kehati, Greenpeace, PUSAKA, AEER, Burung Indonesia, Plan Indonesia, ASEAN Center For Biodiversity.
Media Partner: Kompas.id, Tempo, Inews, Narasi, BBC News Indonesia, Publika Lab, Pandangan Jogja, Koreksi.org, SinPo Tv, Independent.id, Tirto.id, Katadata.co.id, Bisnis Indonesia, Suara.com, Deduktif.id, Progresip, Betahita, Ekuatorial, Jaring, Prohealth.id, Konde.co, Magdalene, Project Multatuli, Suar.id, Daai TV, dan Greeners.co.
Kolaborator dan Didukung oleh: AJI Indonesia, LBH Pers, Indonesian Institute of Journalism, KojI, DW, Mongabay, Garda Animalia, Politeknik Tempo, Universitas Bakrie, Universitas Kristen Indonesia, Institut Media Digital Emtek, MNC University, dan Uhamka. Acara ini juga didukung oleh Jakpro, Taman Ismail Marzuki, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank BTN, Se’Indonesia, Goto, PAM Jaya, Hokben, dan RS Persahabatan.