Lewati ke konten

178.232 Hektare Lahan Terbakar di Indonesia, Luasnya Tiga Kali Singapura

| 6 menit baca |Sorotan | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Marga Bagus
  • Sepanjang Januari hingga Juni 2026, luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 178.232 hektare, setara lebih dari tiga kali lipat wilayah Singapura, dengan sebaran terbesar di wilayah Kalimantan.
  • Kebakaran paruh pertama tahun ini turut melanda 22 persen lahan gambut serta merusak 11.442 hektare habitat satwa dilindungi seperti harimau, orangutan, dan badak di berbagai kawasan konservasi.
  • Dampak karhutla menjangkau kawasan proyek pangan seluas 22.703 hektare, memicu paparan asap berbahaya bagi kesehatan anak-anak, hingga lintas batas negara sampai ke Kuala Lumpur, Malaysia.

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 178.232 hektare. Luasan tersebut setara lebih dari tiga kali luas wilayah Singapura. Selain mengancam ekosistem hutan, kebakaran juga meluas ke kawasan gambut, habitat satwa dilindungi, hingga proyek pengembangan pangan.

Data MapBiomas Monthly Fire periode Januari–Juni 2026 menunjukkan kebakaran tersebar di tujuh kawasan besar Indonesia. Kalimantan mencatat luas kebakaran sekitar 37.865 hektare atau 21,09 persen. Berikutnya Bali dan Nusa Tenggara seluas 33.338 hektare (17,70 persen), Papua 25.946 hektare (14,53 persen), dan Sumatra 25.198 hektare (14,14 persen).

Kebakaran juga terjadi di Sulawesi dengan luas 23.360 hektare (13,17 persen), Jawa 20.855 hektare (11,72 persen), serta Maluku 11.629 hektare (6,62 persen).

Di tingkat provinsi, Nusa Tenggara Timur mencatat luas kebakaran terbesar, mencapai 26.591 hektare. Posisi berikutnya ditempati Kalimantan Barat dengan 25.629 hektare, Papua Selatan 15.626 hektare, dan Jawa Timur 12.835 hektare. Selanjutnya Maluku mencatat 10.559 hektare, Sulawesi Tengah 9.254 hektare, dan Riau 8.552 hektare.

Sepuluh provinsi dengan luas kebakaran terbesar menyumbang 71,48 persen dari total kebakaran nasional. Konsentrasi tersebut menunjukkan perlunya strategi pencegahan dan penanganan karhutla yang lebih terfokus pada wilayah-wilayah rawan.

BACA JUGA:  Tumpang Tindih Kewenangan Hambat Efektivitas Pengendalian Pencemaran DAS Brantas

Pembina Yayasan Auriga Nusantara, Andreas Subiyono, dalam acara peluncuran data MapBiomas Fire Monthly 2026 di Jakarta, Senin (24/8/2026), mengatakan persoalan kebakaran hutan dan lahan telah lama menjadi perhatian berbagai pemangku kepentingan, khususnya pemerintah.

Menurut Andreas, pemerintah sebenarnya telah memiliki peta jalan pengendalian kebakaran hutan sejak 2013. Namun, kebakaran dan bencana asap terus berulang setiap tahun.

”Tetapi, pertanyaan yang masih sering muncul adalah mengapa persoalan kebakaran hutan dan juga penanganan bencana asap ini tidak pernah tuntas dan selalu berulang? Apakah sudah jadi budaya kita sehingga saat kebakaran terjadi, baru heboh dan saling mempersoalkan siapa yang harus dipersalahkan?” ujarnya.

Infografis MapBiomas Monthly Fire menunjukkan Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi dengan luas kebakaran hutan dan lahan terbesar sepanjang Januari–Juni 2026, mencapai 26.591 hektare. Kalimantan Barat menyusul dengan 25.629 hektare, disusul Papua Selatan, Jawa Timur, Maluku, Sulawesi Tengah, dan Riau. | Sumber: Auriga Nusantara

22 Persen Kebakaran Terjadi di Lahan Gambut

Technical Coordinator MapBiomas Fire Indonesia, Sesilia Maharani Putri, saat memaparkan data MapBiomas Fire Monthly 2026, menyampaikan bahwa lebih dari 178.000 hektare lahan terbakar di Indonesia pada paruh pertama 2026.

Dari keseluruhan area terbakar, sekitar 22 persen berada di lahan gambut. Bahkan, hampir 90 persen area terbakar di Kalimantan dan Sumatra berada di kawasan gambut. Sementara itu, di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku, sekitar 37 persen area terbakar berada di tanah mineral.

Temuan lainnya menunjukkan sekitar 46 persen atau 82.662 hektare area terbakar berada di kawasan hutan. Dari luasan tersebut, 13 persen berada di hutan produksi, 10 persen di hutan produksi konversi, 10 persen di kawasan konservasi, dan 6 persen di hutan produksi terbatas.

Kebakaran juga menjangkau habitat sejumlah satwa ikonik Indonesia, seperti harimau, badak, gajah, dan orangutan. Sedikitnya 11.442 hektare habitat satwa tersebut mengalami kebakaran.

Habitat harimau mencatat area terbakar seluas 3.964 hektare, disusul habitat orangutan 3.376 hektare dan habitat badak 2.542 hektare.

BACA JUGA:  Kerusakan Ekologis Hulu hingga Hilir Memperberat Beban Pencemaran DAS Brantas

”Dari data ini kami juga melihat korelasi kebakaran di lahan yang sudah terdeforestasi. Kita lihat ada 25.000 hektar kebakaran terjadi di area-area terdeforestasi. Artinya, dulunya wilayah ini hutan, kemudian terdeforestasi,” ucap Sesilia.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran tidak hanya terjadi di kawasan hutan yang masih memiliki tutupan vegetasi, tetapi juga menjangkau wilayah yang sebelumnya telah mengalami deforestasi.

Kebakaran di Kawasan Proyek Pangan

MapBiomas juga menemukan kebakaran di kawasan proyek pengembangan pangan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, area terbakar di kawasan proyek pangan mencapai 22.703 hektare.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Papua menjadi wilayah dengan area terbakar terbesar di kawasan proyek pangan, yakni 8.442 hektare. Berikutnya Kalimantan dengan 4.009 hektare dan Maluku 3.975 hektare.

Kabupaten Merauke, Papua Selatan, tercatat sebagai daerah dengan area terbakar terluas di kawasan proyek pangan, mencapai 8.084 hektare atau 36 persen dari total area terbakar pada proyek tersebut.

”Kabupaten Merauke menjadi daerah dengan area terbakar terluas, yaitu 8.084 hektar atau 36 persen dari total area terbakar di proyek pangan,” kata Sesilia.

Temuan ini menjadi perhatian karena kebakaran di kawasan proyek pangan berpotensi mengganggu ekosistem, kualitas lingkungan, serta keberlanjutan pengembangan wilayah.

Infografis Auriga Nusantara berdasarkan data MapBiomas Monthly Fire mencatat kebakaran hutan dan lahan seluas 178.232 hektare di Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026. Tujuh kawasan terdampak, dengan Kalimantan mencatat luasan terbesar mencapai 37.665 hektare. Asap kebakaran bahkan dilaporkan melintasi batas negara hingga terasa di Kuala Lumpur. | Sumber: Auriga Nusantara

Anak-anak dan Masyarakat Terpapar Asap

Dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan hutan dan habitat satwa. Asap kebakaran juga mengancam kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak.

Dalam infografis MapBiomas, sejumlah daerah terdampak dilaporkan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Kualitas udara di beberapa titik bahkan sempat masuk kategori berbahaya.

BACA JUGA:  Mikroplastik, Panas, dan El Niño: Ancaman Baru bagi Ekosistem Bulukumba

Anak-anak, terutama balita, menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan asap. Partikel pencemar yang dihasilkan dari kebakaran dapat mengganggu sistem pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Dampak asap juga dilaporkan melintasi batas negara hingga terasa di Kuala Lumpur, Malaysia. Hal ini memperlihatkan bahwa karhutla bukan semata persoalan lokal, tetapi dapat menimbulkan dampak lintas wilayah dan negara.

Ancaman El Niño dan Pencegahan Karhutla

Ancaman kebakaran hutan dan lahan membutuhkan perhatian lebih serius di tengah kondisi iklim yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan. Infografis MapBiomas turut menyoroti fenomena El Niño yang disebut berada dalam kategori kuat.

Fenomena El Niño dapat memengaruhi pola curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah. Kondisi lahan yang semakin kering berpotensi memperbesar kerawanan kebakaran, terutama di kawasan gambut dan wilayah yang memiliki riwayat karhutla.

Pola sebaran kebakaran sepanjang Januari hingga Juni 2026 menjadi peringatan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat langkah pencegahan. Pengawasan kawasan rawan, pemantauan titik panas, perlindungan ekosistem gambut, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran perlu menjadi bagian dari strategi pengendalian.

Pemerintah juga perlu memperkuat sistem peringatan dini, menyediakan sarana pemadaman, memantau kualitas udara, dan memastikan perlindungan masyarakat di sekitar kawasan rawan kebakaran.

Dengan luas area terbakar mencapai 178.232 hektare hanya dalam enam bulan, karhutla menunjukkan bahwa persoalan pengendalian kebakaran hutan dan lahan masih menjadi tantangan serius. Perlindungan ekosistem, habitat satwa, dan keselamatan masyarakat membutuhkan kebijakan pencegahan yang konsisten, bukan sekadar respons ketika api sudah meluas.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *