Lewati ke konten

Tonis Afrianto: “Ubah Sistem Refill, Bukan Cuma Papan Imbauan” — Tuntutan ECOTON pada Raksasa Industri

| 9 menit baca |Sosok | 6 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Fio Atmadja
  • Tonis Afrianto menilai persoalan sampah bukan sekadar perilaku warga, tetapi juga tanggung jawab produsen.
  • Dari sungai, Tonis belajar sampah bukan sekadar limbah, melainkan jejak produksi yang menuntut pertanggungjawaban.
  • ECOTON mendorong Zero Waste dimulai dari RT/RW, sebelum berkembang menjadi sistem pengelolaan sampah tingkat kota.
  • Brand audit membuka jejak produsen di balik sampah sachet, sekaligus memperkuat tuntutan penerapan EPR secara nyata.
  • Tonis menilai program CSR belum cukup; produsen harus mengubah sistem distribusi dan mengurangi ketergantungan kemasan sekali pakai.

BAGI Tonis Afrianto, persoalan sampah tidak bermula dari tempat pembuangan akhir. Ia justru mengenalnya dari sungai. Pada 2009, ketika masih duduk di bangku SMA, Tonis mulai terlibat dalam kegiatan lingkungan melalui program Adiwiyata yang digagas bersama ECOTON. Dari OSIS dan kader lingkungan, ia kemudian diajak mengikuti School Climate Challenge yang digelar British Council. Sungai Surabaya menjadi pintu masuknya untuk melihat persoalan lingkungan secara lebih dekat—dari bantaran yang berubah fungsi hingga sampah plastik, popok sekali pakai, dan limbah industri yang mencemari aliran sungai.

Lebih dari satu dekade kemudian, pengalaman itu membawanya menjadi Manajer Program Zero Waste ECOTON. Tonis kini mendampingi kota, kabupaten, hingga kampung dan kawasan RT/RW untuk membangun sistem pengelolaan sampah dari tingkat paling kecil. Baginya, Indonesia tidak kekurangan konsep untuk mengatasi sampah. Prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle sudah lama dikenal. Persoalannya adalah bagaimana prinsip tersebut dijalankan secara benar dan berjenjang, sementara pengelolaan sampah masih kerap ditempatkan sebagai urusan sisa—baik dalam prioritas anggaran pemerintah maupun dalam perilaku masyarakat.

Namun, Tonis melihat persoalan sampah tidak bisa terus dibebankan kepada warga. Melalui analisis karakteristik sampah dan brand audit, ECOTON mencoba menggeser cara pandang: menelusuri bukan hanya siapa yang membuang sampah, tetapi juga siapa yang memproduksi kemasan yang akhirnya menjadi sampah. Dari sana, tuntutan terhadap produsen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR) mengemuka. Audiensi, desakan, hingga gugatan terhadap sejumlah produsen besar pernah ditempuh. Bagi Tonis, papan imbauan di sungai atau program CSR belum cukup. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistem produksi dan distribusi, termasuk mengurangi ketergantungan pada kemasan sachet dan memperluas sistem refill.

Bagaimana perjalanan Tonis Afrianto dari seorang kader lingkungan di bangku SMA hingga menjadi Manajer Program Zero Waste ECOTON? Sejauh mana konsep 3R, analisis karakteristik sampah, brand audit, dan EPR dapat mengubah cara Indonesia menangani sampah? Berikut wawancara Supriyadi, jurnalis TitikTerang dengan Tonis Afrianto, Senin, 10 Agustus 2026. [*]

Tonis Afrianto memberikan penjelasan kepada warga Simokerto tentang pengelolaan sampah dan penerapan konsep Zero Waste. | Foto: Fully Syafi

Tanya: Bisa diperkenalkan diri Anda dan apa tanggung jawab Anda di ECOTON?

Tonis Afrianto: Saya Tonis Afrianto. Saat ini saya menjadi Manajer Program Zero Waste di ECOTON. Tanggung jawab saya adalah mendampingi kota dan kabupaten di Indonesia, salah satunya di Provinsi Jawa Timur, untuk mulai berbenah dalam pengelolaan sampah dan mewujudkan Zero Waste Cities di kota tersebut.

Selain itu, kami juga mendampingi kampung atau kawasan di tingkat RT/RW sebagai tingkat terkecil untuk membangun pengelolaan sampah secara mandiri.

Tanya: Sejak kapan Anda bergabung dengan ECOTON?

Tonis: Saya bergabung dengan ECOTON sejak masih sekolah menengah atas, pada 2009. Saat itu sekolah saya bekerja sama dengan ECOTON untuk memulai program Adiwiyata. Saya bergabung di OSIS dan juga menjadi kader lingkungan.

Dari situ saya diajak ECOTON mengikuti kompetisi yang diadakan British Council Inggris, yaitu School Climate Challenge. Saat itu kami membawa isu alih fungsi bantaran Sungai Surabaya dan juga mengangkat gaya hidup ramah lingkungan untuk merespons persoalan perubahan iklim atau global warming.

Tanya: Apakah ketertarikan terhadap isu lingkungan sudah muncul sejak kuliah atau sebelum bergabung dengan ECOTON?

Tonis: Sebelum bergabung dengan isu lingkungan, saya sebenarnya belum mengenal lingkungan hidup secara penuh. Justru sejak bergabung dan menjalani kegiatan bersama ECOTON, saya mendapatkan banyak wawasan, informasi, dan pengalaman baru.

Pengalaman yang paling memengaruhi saya adalah ketika turun ke sungai. Sungai biasanya menjadi tempat kita menikmati air yang bersih dan mendapatkan ikan. Tetapi kemudian sungai sudah dikotori banyak popok sekali pakai, limbah industri, dan sampah plastik yang dibuang bebas oleh masyarakat.

Tanya: Bagaimana Anda melihat persoalan sampah di Indonesia dari perspektif program Zero Waste?

Tonis: Indonesia memang masih membutuhkan waktu untuk berbenah menuju pengelolaan sampah yang lebih baik. Persoalannya berat karena pengelolaan sampah atau isu sampah masih belum menjadi isu prioritas.

Artinya, pengelolaan sampah belum dianggap sebagai kebutuhan mendasar. Dari sisi anggaran, misalnya, masih belum cukup atau masih kecil di masing-masing kota dan kabupaten. Akibatnya, pemerintah daerah juga sulit memaksimalkan perannya untuk menjamin pengelolaan sampah berjalan secara optimal.

Keterbatasan anggaran juga membuat pemerintah daerah terbatas dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Akibatnya, perilaku masyarakat juga belum sepenuhnya benar, seperti mencampur sampah dan membakar sampah. Hal-hal semacam ini masih membutuhkan edukasi.

Tonis Afrianto memimpin kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) bersama warga Simokerto, memetakan 354,58 kg sampah rumah tangga. | Foto: Supriyadi

Tanya: Dalam pengelolaan sampah, bagaimana Anda melihat penerapan konsep Reduce, Reuse, dan Recycle atau 3R?

Tonis: Konsep 3R sebenarnya sudah cukup untuk membangun pengelolaan sampah yang lebih baik. Kalau dijalankan dengan benar, dampaknya akan cukup signifikan dalam mengurangi sampah.

Secara prinsip global, 3R tidak boleh dibolak-balik. Harus dijalankan secara hierarki, dari atas ke bawah. Pertama adalah reduce, yaitu mengurangi. Kemudian reuse, menggunakan kembali. Setelah itu recycle, yaitu mendaur ulang material yang masih bisa dimanfaatkan.

Kalau dilaksanakan dengan benar, hasilnya akan terlihat. Tetapi di Indonesia kita masih harus bekerja keras mengampanyekan prinsip ini. Masih banyak ditemukan praktik yang membolak-balik urutan 3R, misalnya langsung mengutamakan recycle atau reuse, padahal prinsipnya harus dimulai dari mengurangi sampah.

Tanya: Anda juga menggunakan analisis karakteristik sampah. Apa pentingnya metode tersebut dalam membangun kawasan Zero Waste?

Tonis: Semakin ke sini saya semakin memahami bagaimana mengenali pengelolaan sampah berdasarkan analisis karakteristik sampah. Pengetahuan itu saya dapatkan dari pelatihan Zero Waste Academy Global atau Zero Waste Academy Asia.

Sistem tersebut direplikasi dari Filipina yang sebelumnya sudah berhasil melakukan Zero Waste Cities. Dari analisis karakteristik sampah, banyak informasi yang bisa didapat. Salah satunya adalah mengetahui profil dan komposisi sampah di suatu kawasan.

Dengan mengenali profil sampah, pengelolaan sampah ke depan akan jauh lebih mudah karena kita mengetahui jenis sampah apa yang mendominasi dan bagaimana upaya untuk menyelesaikannya.

Metode ini cukup signifikan untuk menjadi langkah awal pembentukan kawasan Zero Waste. Analisis tersebut bisa dilakukan di tingkat RT/RW, kelurahan, bahkan dalam skala kota.

Praktisi Zero Waste ECOTON Tonis Afrianto memberikan pelatihan pembuatan eco enzyme kepada santri Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi, Jember, untuk mengolah sampah organik secara berkelanjutan. | Foto: Dok. ECOTON

Tanya: Apa temuan penting dari analisis karakteristik sampah yang selama ini Anda lakukan?

Tonis: Analisis karakteristik sampah sebenarnya berkaitan dengan data nasional. Indonesia memiliki banyak budaya, salah satunya memasak. Aktivitas memasak menghasilkan sampah organik. Kita juga masih memiliki banyak kebun.

Karena itu, baik data nasional maupun hasil analisis di tingkat RT/RW dan kelurahan menunjukkan hal yang relatif sama, yaitu sampah organik memiliki porsi tertinggi atau mendominasi jenis sampah yang dihasilkan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tanya: Selain menganalisis karakteristik sampah, ECOTON juga melakukan brand audit. Apa tujuan dari kegiatan tersebut?

Tonis: Selama ini ketika ada sampah yang dibuang sembarangan, masyarakat sering dianggap sebagai pihak yang paling bersalah. Padahal, kita juga harus melihat peran produsen yang menghasilkan kemasan bermerek.

Brand audit mengingatkan bahwa produsen juga harus mengambil bagian dalam tanggung jawab, pengelolaan sampah dari produk yang mereka hasilkan, terutama kemasan sekali pakai seperti sachet dan berbagai jenis plastik.

Tujuan brand audit adalah mengetahui siapa produsen yang produknya paling banyak ditemukan sebagai sampah di suatu kawasan, baik di tingkat RT/RW, kelurahan, maupun masyarakat secara umum.

Tanya: Sejauh ini, bagaimana Anda melihat kontribusi produsen dalam menyelesaikan persoalan sampah tersebut?

Tonis: Kontribusi produsen sebenarnya belum terlalu terlihat sampai saat ini. Padahal, pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan peraturan yang mengatur bagaimana Extended Producer Responsibility atau EPR diterapkan oleh produsen.

Ada target bahwa pada 2030 produsen tidak lagi menghasilkan terlalu banyak kemasan kecil, seperti sachet berukuran kurang dari 10 mililiter, yang secara bertahap akan dikurangi. Produsen juga diminta mengelola sampah dari produknya secara mandiri sebagai bagian dari kontribusi mereka.

Tanya: Apa yang dilakukan ECOTON untuk mengawal penerapan EPR tersebut?

Tonis: Peran ECOTON adalah mengawal penerapan EPR. Salah satunya melalui audiensi dengan beberapa produsen besar seperti Unilever, Wings Group, dan Garudafood. Produk-produk mereka sering kami temukan sebagai sampah di berbagai tempat, bahkan sampai di sungai.

Kami juga pernah menggugat mereka. Rilis mengenai gugatan tersebut sudah pernah kami keluarkan. Gugatan itu merupakan bagian dari upaya mendorong produsen agar mempertanggungjawabkan sampah produk mereka sebagai implementasi EPR.

Kami menggugat dan mengadukan mereka melalui jalur hukum karena kami melihat banyak sampah produk mereka ditemukan di laut, pesisir, sungai, maupun lingkungan rumah tangga. Kami ingin produsen lebih menghidupkan kembali tanggung jawab mereka terhadap sampah yang berasal dari produk yang mereka hasilkan.

Tonis Afrianto memaparkan sepuluh tahapan menuju Zero Waste dalam Zero Waste Academy 2026, menekankan pemilahan sampah sejak sumber untuk mengurangi beban TPA dan petugas kebersihan. | Foto: Kurnia Rahmawati

Tanya: Setelah adanya audiensi dan gugatan tersebut, apakah ada perubahan dari pihak produsen?

Tonis: Dari gugatan tersebut memang ada sedikit perubahan. Salah satunya, semakin banyak program lingkungan hidup yang mereka tawarkan kepada ECOTON.

Mereka juga mulai menunjukkan upaya seperti memasang papan imbauan di sungai agar masyarakat tidak membuang sampah plastik ke Kali Surabaya. Misalnya, hal itu pernah dilakukan oleh Garudafood.

Tetapi menurut kami, itu belum cukup. Kami masih belum puas karena yang kami inginkan adalah perubahan sistem.

Tanya: Sistem seperti apa yang Anda harapkan dari produsen?

Tonis: Kami ingin produsen membentuk sistem distribusi baru yang dapat mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai. Misalnya, perusahaan seperti Wings atau Unilever lebih masif menggunakan sistem refill.

Produk tidak selalu harus disalurkan dalam kemasan sachet kecil. Bisa menggunakan jeriken atau wadah besar, kemudian masyarakat mengambil atau membeli produk sesuai kebutuhannya.

Model seperti itu yang sampai sekarang belum kami lihat secara detail keseriusannya dalam menyelesaikan persoalan polusi sachet.

Tanya: Melihat timbulan sampah yang terus meningkat, apa yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat?

Tonis: Kondisi sampah di Indonesia masih terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Karena itu, mumpung belum terlambat, harus ada langkah yang lebih serius.

Pemerintah perlu memberikan kewenangan yang lebih kuat kepada desa atau kelurahan untuk mengatur pengelolaan sampah di wilayahnya. Kebijakan itu juga harus dibarengi dengan anggaran yang cukup agar kawasan dapat membangun kemandirian dalam pengelolaan sampah.

Semangatnya harus gotong royong. Pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah lalu dianggap selesai.

Tanya: Mengapa pengelolaan sampah dari tingkat paling kecil seperti RT/RW atau kelurahan menjadi penting dalam konsep Zero Waste?

Tonis: Selama masyarakat masih menggantungkan persoalan sampah sepenuhnya kepada pemerintah daerah, pengelolaan sampah tidak akan berhasil secara maksimal.

Keberhasilan program Zero Waste justru harus diawali dari sistem di skala kecil, yaitu RT/RW atau kelurahan. Kalau mereka sudah berhasil melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, maka pada tingkat kota akan jauh lebih mudah.

Jadi, Zero Waste Cities bukan hanya tentang bagaimana pemerintah kota mengelola sampah, tetapi bagaimana sistem pengelolaan itu dibangun dari tingkat paling kecil dan kemudian berkembang menjadi sistem kota.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *