Lewati ke konten

Nobar Good Morning Tomorrow di Lebaniwaras, Pemuda Diajak Peduli Nasib Sungai

| 6 menit baca |Pelajar Mbois | 2 dibaca
  • Nobar Good Morning Tomorrow di Balai Desa Lebaniwaras mengajak warga dan pemuda memahami pencemaran sungai sebagai persoalan yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia, bukan sekadar masalah lingkungan.
  • Film menampilkan kondisi sejumlah sungai, termasuk Kali Surabaya, Kali Tebu dan Kali Jagir, sekaligus menggambarkan ancaman pencemaran terhadap ekosistem, ikan, dan masyarakat yang bergantung pada sungai.
  • ECOTON menilai pemulihan sungai tidak cukup dengan mengangkut sampah. Perbaikan bantaran, penanaman vegetasi riparian, perlindungan habitat ikan, pengawasan industri dan tata kelola sungai juga diperlukan.
  • Pemuda perlu mendapatkan edukasi sebelum diajak bergerak. Ozza mendorong pendekatan melalui hobi dan ruang berkumpul agar kepedulian terhadap sungai tumbuh dari pemahaman, bukan sekadar ajakan aksi.
  • Nobar berlanjut menjadi ruang refleksi dan diskusi warga. Pemerintah, industri, komunitas, dan masyarakat memiliki peran masing-masing untuk mengawasi, menjaga, dan memulihkan sungai secara berkelanjutan.

Penulis: Karina Sandra Pramudita, siswa kelas 11 SMK Negeri 1 Cerme Gresik yang sedang menjalani magang di ECOTON pada 29 Juni–31 Oktober 2026.

Tulisan ini merupakan hadiah kecil dari Karina untuk khalayak, sekaligus ungkapan terima kasih kepada ECOTON yang telah memberikan ruang belajar, pengalaman, dan bimbingan selama menjalani masa magang. Dari yang awalnya belajar tentang sungai melalui buku teks, Karina kini berkesempatan terjun langsung mengenal sungai, lingkungan, dan kehidupan di dalamnya.

SUASANA Balai Desa Lebaniwaras, Kecamatan Wringinanom, Gresik, berubah menjadi ruang diskusi tentang sungai pada Jumat malam, 30 Oktober 2026. Sekitar pukul 19.30 WIB, warga dan pemuda berkumpul menonton film dokumenter Good Morning Tomorrow.

Film ini tidak hanya mengajak penonton melihat sungai yang tercemar. Lebih jauh, film membawa penonton pada pertanyaan sangat jelas: dari mana air yang digunakan manusia setiap hari berasal, dan apa yang terjadi jika sungai sebagai sumber kehidupan terus rusak?

Nobar yang mengangkat tema “Ketika Sungai Menjadi Masalah Personal” itu kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Persoalan sungai dibicarakan bukan sebagai isu yang jauh dari kehidupan warga. Tapi sudah pada sesuatu yang pada akhirnya berkaitan langsung dengan kehidupan manusia.

BACA JUGA:  "Kami Bukan Pengkhianat!": Koalisi Sipil Surabaya Kecam Label "Londo Ireng" Ucapan Presiden Prabowo

Dalam film, Ellana Go, seorang siswi kelas 3 SMA di Surabaya, menjadi salah satu tokoh yang menggambarkan kegelisahan terhadap kondisi sungai. Ia mulai mempertanyakan bagaimana air bisa terus tersedia dan bagaimana manusia memperlakukan sungai yang menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Film juga memperlihatkan respons Jofanny, ketika melihat kondisi sungai yang tercemar. Salah satu yang menjadi perhatiannya, ketika keberadaan pipa yang diduga menjadi saluran pembuangan limbah ke sungai.

Dari situ, Good Morning Tomorrow mencoba memperlihatkan bahwa sungai itu memiliki batas. Ketika beban pencemaran terus bertambah, dampaknya tidak berhenti pada air yang berubah warna atau menimbulkan bau. Kehidupan di dalamnya ikut terganggu, begitu pula masyarakat yang bergantung pada sungai.

Sejumlah aliran sungai ditampilkan dalam film, mulai dari Kali Porong, Kali Mlirip, Kali Sadar, Kali Surabaya di kawasan Karang Pilang, Kali Tambakwedi, Kali Tebu, Pintu Air Gunungsari hingga kawasan Hutan Kali Surabaya.

Diskusi usai pemutaran film dokumenter Good Morning Tomorrow bersama warga dan pemuda Desa Lebaniwaras, Kecamatan Wringinanom, Gresik, Jumat (30/10/2026). | Foto: Karina Sandra

Sungai Tidak Cukup Dibersihkan

Diskusi kemudian berlanjut ke persoalan pemulihan Kali Surabaya. Yang kebetulan sungai itu, memang bersebelahan dengan Desa Lebaniwars.

Tentang sungi itu, ECOTON menilai penyelamatan sungai, tidak cukup dilakukan dengan mengangkut sampah. Di kawasan Kenjeran, misalnya, persoalan sungai tidak hanya berupa sampah yang menumpuk. Ada mikroplastik, kerusakan bantaran, hingga persoalan habitat ikan lokal.

ECOTON mencatat sampah yang diangkut dari kawasan tersebut bisa mencapai sekitar 1,3 ton setiap hari. Ketika musim hujan, jumlahnya dapat meningkat hingga 3–4 ton per hari.

Masalah lain yang ditemukan adalah berkurangnya ikan lokal. Begitu juga terganggunya habitat pemijahan. Ikan seperti bader dan rengkek. Ikut terdampak ketika kondisi habitat sungai terus berubah.

Karena itu, pemulihan sungai menurut ECOTON, tidak bisa berhenti pada kegiatan bersih-bersih. Bantaran sungai juga harus dikembalikan fungsinya.

BACA JUGA:  Pemilahan Sampah Rumah Tangga Jadi Agenda Serius Warga Wringinanom

Vegetasi riparian, misalnya, memiliki peran dalam menahan tanah, membantu menyaring polutan dan menjadi bagian dari ekosistem sungai.

“Yang perlu kita lakukan sebenarnya di bantaran sungai. Bukan hanya menama tanaman. Tapi kita harus menanam tanaman riparian khas bantaran sungai. Kita contoh, seperti beringin, cemara dan tanaman yang sesuai fungsi ekologisnya,” ujar Lid Debora Widodo, mahasiswi Hubungan Internasional UB yang sedang magang di ECOTON.

Menurutnya, persoalan sungai juga berkaitan dengan tata kelola. Banyak pihak memiliki kewenangan di sepanjang sungai, mulai dari pemerintah daerah, DLH, BBWS, PJT hingga PDAM.

Dalam kondisi seperti itu, koordinasi menjadi penting. Begitu pula keterbukaan informasi mengenai program, anggaran, pengawasan industri, hingga proyek pemulihan sungai.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

ECOTON selama ini melakukan advokasi melalui berbagai cara, termasuk audiensi dan upaya hukum terhadap pemerintah.

Namun, pemulihan sungai juga membutuhkan keterlibatan warga. Di kawasan Kenjeran, misalnya, mulai muncul keterlibatan masyarakat melalui Satgas, Kampung Mozaik dan Karang Taruna.

Pemuda Desa Lebaniwaras mengikuti pemutaran film dokumenter Good Morning Tomorrow di Balai Desa Lebaniwaras, Kecamatan Wringinanom, Gresik, Jumat (30/10/2026). | Foto: Karina Sandra

Pemuda Jangan Hanya Diajak Saat Aksi

Bagi Ozza, anggota Karang Taruna yang pernah menjalani masa magang di ECOTON, persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengajak anak muda turun ke lapangan. Katanya, anak muda perlu memahami persoalannya terlebih dahulu.

“Tidak bisa langsung menuntut aksi tanpa adanya pemahaman,” kata Ozza dalam diskusi.

Menurutnya, pendekatan kepada pemuda desa harus disesuaikan dengan kehidupan mereka. Banyak pemuda sudah sibuk bekerja, sehingga isu lingkungan bukan sesuatu yang otomatis menjadi perhatian mereka.

Karena itu, ruang berkumpul dan hobi bisa menjadi pintu masuk. Dari ruang itu, kata Ozza, isu lingkungan bisa diperkenalkan secara perlahan.

BACA JUGA:  MIMO dan Pelajar SMKN 10 Surabaya: Melihat Bahaya Plastik yang Mengintai Manusia

“Cara terbaik merangkul pemuda adalah, masuk melalui hobi mereka atau menyediakan ruang kumpul yang menyenangkan. Dari sana, kita bisa menyisipkan edukasi secara perlahan, misalnya dengan mengampanyekan isu kepedulian sungai,” ujarnya.

Setelah menonton Good Morning Tomorrow, Ozza mengaku mendapat gambaran yang berbeda tentang pencemaran sungai. Menurut dia, persoalan yang terlihat di satu wilayah belum tentu menggambarkan kondisi sungai secara keseluruhan.

“Banyak orang berpikir pencemaran hanya sebatas apa yang terlihat di Surabaya. Padahal kondisi di titik lain seperti Kali Jagir atau kawasan utara bisa jauh lebih memprihatinkan,” katanya.

Namun, ia melihat film tersebut juga membawa pesan lain: perubahan masih mungkin dilakukan ketika masyarakat mau belajar dan bergerak bersama.

“Cara terbaik merangkul pemuda adalah, masuk melalui hobi mereka atau menyediakan ruang kumpul yang menyenangkan. Dari sana, kita bisa menyisipkan edukasi secara perlahan, misalnya dengan mengampanyekan isu kepedulian sungai.”

Dari Layar ke Gerakan Warga

Nobar di Balai Desa Lebaniwaras akhirnya tidak berhenti pada pemutaran film. Diskusi justru membuka pembicaraan lebih luas tentang bagaimana warga dan pemuda bisa mengambil peran di lingkungan masing-masing.

Pemerintah memiliki kewenangan membuat kebijakan dan melakukan pengawasan. Industri memiliki tanggung jawab atas dampak kegiatan usahanya. Sementara warga mempunyai ruang untuk ikut mengawasi, menjaga lingkungan dan menyampaikan persoalan yang mereka temukan.

Di tengah persoalan pencemaran yang semakin kompleks, sungai tidak bisa hanya dilihat sebagai saluran air. Di dalamnya ada ikan, tumbuhan, masyarakat dan kehidupan yang saling terhubung.

Pesan itu yang kemudian dibawa pulang dari pemutaran Good Morning Tomorrow di Lebaniwaras.

Sebab, ketika kondisi sungai mulai memengaruhi air yang diminum, ikan yang ditangkap, lingkungan tempat tinggal dan kehidupan sehari-hari, persoalan sungai bukan lagi persoalan orang lain. Tapi sudah menjadi persoalan kita sendiri.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *