Kembali digelar setelah 14 tahun vakum, ajang ini mempertemukan jurnalis, peneliti, dan publik dalam diskusi kritis serta sorotan ancaman mikroplastik bagi kesehatan manusia.
Pesta Media 2026 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen Jakarta resmi dibuka di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Sabtu, 11 April 2026. Kegiatan bertema “Facing for Future, Collaboration for Our Nature” berlangsung hingga 12 April 2026.
Ketua AJI Jakarta, Irsyan Hasyim, menegaskan penyelenggaraan tahun ini menjadi ruang temu berbagai pihak untuk merespons krisis iklim. Agenda tersebut menandai kembalinya Pesta Media setelah vakum selama 14 tahun.
“Pesta Media ini diselenggarakan dengan berkolaborasi bersama berbagai pihak untuk menghadapi ancaman krisis iklim. Itu salah satu tujuan utama setelah hiatus 14 tahun,” kata Irsyan dalam sambutannya hari itu.
Menurut dia, isu lingkungan dipilih karena menjadi tantangan nyata, termasuk bagi jurnalis yang berperan menyampaikan informasi berbasis fakta dan kepentingan publik. Kegiatan ini juga diharapkan memberi dampak luas dan terhubung dengan agenda yang lebih besar.
Irsyan mengajak seluruh pihak yang terlibat untuk turut mempromosikan Festival Media AJI Indonesia yang akan digelar di Batam pada September 2026. “Ke depannya, kami berharap ini bisa menjadi agenda tahunan AJI Jakarta,” ujarnya.
Pesta Media menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari diskusi, pameran foto, lokakarya, pemutaran film, produksi zine, hingga pertunjukan seni. Topik diskusi mencakup kerentanan jurnalis perempuan, kondisi industri media, konservasi satwa liar, keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, perubahan iklim dan generasi muda, serta isu ekstraktif seperti batubara dan ekspansi nikel.

#Ragam Kegiatan dan Partisipasi Lintas Sektor
Sebanyak 16 lembaga lingkungan dan media, 26 media partner, serta enam universitas terlibat dalam penyelenggaraan tahun ini. Panitia menyediakan 30 booth di area selasar dan lantai dua gedung untuk kegiatan edukasi, kampanye, dan promosi.
Lokakarya yang diselenggarakan menyasar kebutuhan jurnalis, termasuk penguatan personal branding, jurnalisme solusi, serta jurnalisme untuk konservasi. Selain itu, terdapat lokakarya zine bertema hutan dan pemutaran film yang menyoroti resiliensi masyarakat adat Papua dalam menghadapi ekspansi pembangunan.
Fasilitas layanan kesehatan juga tersedia melalui booth medis yang menyediakan pemeriksaan gratis selama dua hari pelaksanaan. Kehadiran fasilitas ini menambah dimensi layanan publik dalam agenda yang didominasi isu lingkungan dan media.
Salah satu booth yang menarik perhatian pengunjung berasal dari Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI). Pasalnya di booth itu hadir rombaongan Ecoton, sebuah lembaga yang selama fokus pada kajian dan konservasi ekosistem perairan serta pencemaran plastik.
Di booth AZWI tim Ecoton membuka ruang edukasi terkait mikroplastik dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Rombongan yang terdiri dari pendiri Prigi Arisandi, Kepala Laboratorium Rafika Aprilianti, peneliti Sofi Azilan Aini, serta mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya, Sri Astika.
Pendiri Prigi Arisandi menilai kehadiran booth edukasi dalam Pesta Media 2026 ini menjadi ruang penting untuk menjembatani sains dan publik. “Forum seperti ini membuka peluang bagi masyarakat untuk memahami persoalan lingkungan secara lebih dekat dan berbasis data, “ kata Prigi.
Informasi tentang mikroplastik, lanjut Prigi, tidak bisa berhenti di laboratorium semata. “Harus sampai ke publik agar memicu perubahan cara pandang dan perilaku,” ujarnya di depan para juranlis yang hadir di acara tersebut
Prigi juga menekankan persoalan mikroplastik berkaitan langsung dengan pola produksi dan konsumsi. “Selama plastik sekali pakai terus diproduksi dan digunakan tanpa kendali, maka pencemaran akan terus berlangsung, “ ucapnya.
“Dampaknya tidak hanya pada ekosistem perairan, tetapi juga masuk ke tubuh manusia. Karena itu, upaya pengurangan dari sumbernya menjadi langkah mendesak yang perlu didorong bersama,” jelas dia.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

#Mikroplastik dan Ancaman Kesehatan Manusia
Sementara itu, Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, ketika dimintai tanggapannya menjelaskan, paparan mikroplastik telah meluas dan semakin sulit dihindari. “Mikroplastik sudah ditemukan di udara, air, serta dalam tubuh manusia. Paparan terjadi setiap hari melalui aktivitas sederhana seperti makan dan bernapas,” ujarnya.
Rafika menekankan pentingnya peningkatan kesadaran publik terhadap sumber paparan tersebut. Partikel plastik berukuran sangat kecil memungkinkan masuk ke sistem biologis manusia dan berpotensi membawa zat berbahaya.
Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini mengaitkan persoalan mikroplastik dengan pengelolaan sampah yang belum optimal. “Sumber mikroplastik berasal dari produk sehari-hari, terutama plastik sekali pakai. Tanpa pengelolaan yang baik, partikel tersebut akan terus terfragmentasi dan menyebar ke lingkungan,” kata Sofi.
Menurut Sofi, perubahan perilaku konsumsi menjadi langkah penting untuk menekan laju pencemaran. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dinilai sebagai langkah awal yang dapat dilakukan masyarakat.
Di booth yang sama, Sri Astika memaparkan riset yang tengah dijalankan terkait mikroplastik dalam sperma manusia. Penelitian tersebut menjadi salah satu isu yang menarik perhatian pengunjung karena berkaitan langsung dengan kesehatan reproduksi.
“Mikroplastik dapat masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, dan udara. Dalam penelitian yang sedang dilakukan, ditemukan indikasi partikel mikroplastik dalam cairan reproduksi laki-laki,” ujar Astika mahasiswa Angkatan 2023 ini.
Astika menjelaskan ukuran mikroplastik yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut menembus berbagai sistem dalam tubuh. “Partikel ini dapat membawa senyawa kimia berbahaya di permukaannya. Ketika masuk ke tubuh, dampaknya berpotensi memengaruhi kualitas sperma dan fungsi sel,” katanya.
Penjelasan yang disampaikan Astika memicu diskusi di kalangan pengunjung mengenai dampak jangka panjang mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Isu itu memperlihatkan keterkaitan erat antara krisis lingkungan dan risiko kesehatan yang semakin nyata.
Pesta Media AJI Jakarta 2026 menghadirkan ruang pertemuan antara jurnalis, peneliti, aktivis, dan masyarakat luas. Agenda ini tentu saja memperlihatkan upaya bersama untuk memperkuat kesadaran publik terhadap krisis iklim dan berbagai dampak turunannya, termasuk ancaman mikroplastik yang kian meluas.***
Acara Pesta Media Disponsori oleh: ABC Australia, ABC Internasional Development, IESR, KINETIK, Konservasi Indonesia, ICEL, YIARI, GEOPIX, Aliansi Zero Waste Indonesia, Diet Plastik Indonesia, Satya Bumi, Kehati, Greenpeace, PUSAKA, AEER, Burung Indonesia, Plan Indonesia, ASEAN Center For Biodiversity.
Media Partner: Kompas.id, Tempo, Inews, Narasi, BBC News Indonesia, Publika Lab, Pandangan Jogja, Koreksi.org, SinPo Tv, Independent.id, Tirto.id, Katadata.co.id, Bisnis Indonesia, Suara.com, Deduktif.id, Progresip, Betahita, Ekuatorial, Jaring, Prohealth.id, Konde.co, Magdalene, Project Multatuli, Suar.id, Daai TV, dan Greeners.co.
Kolaborator dan Didukung oleh: AJI Indonesia, LBH Pers, Indonesian Institute of Journalism, KojI, DW, Mongabay, Garda Animalia, Politeknik Tempo, Universitas Bakrie, Universitas Kristen Indonesia, Institut Media Digital Emtek, MNC University, dan Uhamka. Acara ini juga didukung oleh Jakpro, Taman Ismail Marzuki, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank BTN, Se’Indonesia, Goto, PAM Jaya, Hokben, dan RS Persahabatan.