Besarnya kebutuhan air industri kertas berbanding lurus dengan limbah cair yang dihasilkan. Pengelolaan limbah PT Indonesia Royal Paper memicu perhatian publik di DAS Brantas.
Industri pulp dan kertas tercatat sebagai salah satu sektor manufaktur dengan konsumsi air terbesar di dunia. Untuk memproduksi satu ton pulp, industri ini membutuhkan sekitar 35 hingga 220 meter kubik air, bergantung pada teknologi dan tingkat efisiensi proses yang digunakan.

Besarnya kebutuhan air tersebut secara langsung memengaruhi volume limbah cair yang dihasilkan, menjadikan pengelolaan limbah sebagai persoalan krusial dalam perlindungan lingkungan.
Data tersebut tercantum dalam Makalah Pengolahan Air Limbah Industri Pulp and Paper karya Susanti dari Teknik Kimia Universitas Riau. Dalam kajian itu ditegaskan, konsumsi air dalam jumlah masif merupakan karakter bawaan industri pulp dan kertas, yang berpotensi menimbulkan tekanan besar terhadap sumber daya air dan ekosistem perairan di sekitarnya.
Kondisi ini menjadi relevan ketika dikaitkan dengan aktivitas industri kertas yang beroperasi di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, termasuk PT Indonesia Royal Paper (IRP) yang berlokasi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sungai Brantas sendiri merupakan salah satu sungai strategis nasional yang menjadi sumber air baku, irigasi, hingga penghidupan jutaan warga di Jawa Timur.
#Limbah Cair sebagai Konsekuensi Produksi
Dalam proses pembuatan pulp dan kertas, air digunakan hampir di setiap tahapan produksi. Mulai dari proses pemasakan bahan baku kayu menjadi pulp, pencucian serat, hingga pelarutan berbagai bahan kimia penunjang produksi. Konsekuensinya, industri ini menghasilkan limbah cair dalam jumlah besar.
Secara karakteristik, limbah cair industri pulp dan kertas umumnya memiliki pH netral hingga basa, berkisar antara 7 hingga 9. Selain itu, limbah ini mengandung zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid/TSS) dalam kadar tinggi, sisa serat kayu, serta residu bahan kimia proses.
Makalah yang sama mencatat, limbah cair pulp dan kertas juga mengandung senyawa kimia kompleks, termasuk senyawa berbasis klorin. Dalam kondisi tertentu, senyawa klorin ini dapat membentuk dioksin dan organoklorin, yang dikenal bersifat persisten, sulit terurai, mudah terakumulasi dalam rantai makanan, serta berbahaya bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia.
Keberadaan senyawa-senyawa tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri apabila pengolahan limbah tidak dilakukan secara optimal dan konsisten. Terlebih, badan air penerima seperti Sungai Brantas memiliki fungsi vital bagi masyarakat di sepanjang alirannya.
#Tiga Jenis Limbah Industri Kertas
Secara umum, limbah industri pulp dan kertas terbagi ke dalam tiga fase utama, yakni limbah cair, limbah padat, dan limbah gas. Limbah cair berasal dari proses produksi pulp, pencucian, serta reaksi kimia selama pengolahan.
Limbah jenis ini membawa beban pencemar organik tinggi yang tercermin dari nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD). Apabila tidak diolah dengan baik, limbah cair berpotensi menurunkan kualitas air sungai dan mengganggu kehidupan organisme akuatik.
Sementara itu, limbah padat terdiri dari sludge hasil pengendapan primer, biosludge dari proses pengolahan biologi, serta sisa material kayu seperti chips dan pith. Limbah padat ini umumnya harus melalui proses dewatering untuk mengurangi kadar air sebelum dibuang atau dimanfaatkan lebih lanjut.
Adapun limbah gas dihasilkan dari proses pembakaran pada unit boiler, berupa debu halus (fly ash) dan emisi gas buang. Jika sistem pengendalian emisi tidak memadai, limbah gas berpotensi mencemari udara di sekitar kawasan industri.
#Antara Teknologi dan Kepatuhan
Secara teknis, pengolahan air limbah industri pulp dan kertas dilakukan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama proses fisika, seperti penyaringan kasar dan pengendapan, yang bertujuan memisahkan padatan tersuspensi dari air limbah.
Tahapan ini secara luas dijelaskan dalam kajian pengolahan limbah industri pulp dan kertas oleh Pokhrel dan Viraraghavan (2004), yang menegaskan bahwa pra-perlakuan fisik penting untuk menurunkan beban pencemar awal sebelum proses lanjutan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Tahap kedua berupa proses kimia, melalui metode koagulasi dan flokulasi dengan penambahan bahan kimia seperti tawas (alum) atau Poly Aluminium Chloride (PAC), guna menggumpalkan partikel-partikel halus agar lebih mudah diendapkan.
Efektivitas proses koagulasi-flokulasi dalam pengolahan limbah industri pulp dan kertas dibahas secara komprehensif dalam artikel Wastewater treatment in the pulp and paper industry.
Tahap ketiga proses biologi, yang memanfaatkan mikroorganisme dalam sistem lumpur aktif (activated sludge) atau kolam aerasi. Secara teoritis, tahapan ini mampu menurunkan kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) hingga lebih dari 95 persen, asalkan dioperasikan secara konsisten dan sesuai kapasitas rancangannya.
Dalam konteks PT Indonesia Royal Paper (IRP), karakteristik proses produksi menjadi relevan untuk dicermati. Karena produk yang dihasilkan perusahaan ini, Specta-4, jenis kertas karton berkinerja tinggi yang dirancang untuk kebutuhan kemasan dengan tuntutan kekuatan dan stabilitas struktural.
Produk ini memiliki spesifikasi teknis berupa basis weight tinggi, berkisar 360–420 gram per meter persegi, nilai bulk besar, serta internal bonding strength yang dilaporkan mencapai 400 joule per meter persegi.
Spesifikasi tersebut menunjukkan, Specta-4 dihasilkan melalui proses industri kertas yang intensif, baik dari sisi konsumsi bahan baku serat maupun penggunaan bahan kimia penunjang.
Nilai internal bonding strength yang tinggi, ditambah dengan nilai Cobb 60 detik di atas 50 gram per meter persegi, mengindikasikan penggunaan bahan aditif seperti sizing agent, binder, atau bahan penguat ikatan serat untuk meningkatkan ketahanan dan kekuatan kertas.

Dalam praktik industri pulp dan kertas, proses produksi dengan karakter semacam ini berimplikasi langsung pada volume dan beban limbah cair yang signifikan. Limbah itu umumnya membawa muatan pencemar berupa Chemical Oxygen Demand (COD), BOD, Total Suspended Solids (TSS), serta senyawa organik terlarut yang harus diolah secara optimal melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Karena itu, keberadaan produk kertas dengan spesifikasi teknis tinggi seperti Specta-4 secara logis menuntut sistem pengelolaan limbah cair yang ketat, transparan, dan terdokumentasi. Hal ini menjadi semakin penting mengingat lokasi industri yang berada di sekitar DAS Brantas, sungai strategis yang menjadi sumber air baku, irigasi, dan penghidupan jutaan warga Jawa Timur.
Apabila limbah cair dari proses produksi kertas berkinerja tinggi tersebut tidak diolah secara optimal atau dibuang ke badan sungai tanpa memenuhi baku mutu lingkungan, risiko pencemaran Sungai Brantas menjadi nyata.
Dampaknya tidak hanya menyangkut penurunan kualitas air, tetapi juga berpotensi memengaruhi ekosistem perairan, aktivitas pertanian, serta kesehatan masyarakat di wilayah hilir.
Oleh sebab itu, kompleksitas dan intensitas proses produksi yang tercermin dalam spesifikasi teknis Specta-4 semestinya diimbangi dengan pembuktian pengelolaan limbah cair yang sepadan.
Transparansi pengoperasian IPAL, keterbukaan hasil uji kualitas efluen, serta kepatuhan terhadap izin dan regulasi lingkungan menjadi aspek krusial untuk memastikan bahwa aktivitas produksi PT IRP tidak menambah beban pencemaran bagi Sungai Brantas.***
Artikel Terkait
- Pembuangan Limbah Cair PT Indonesia Royal Paper di Sungai Brantas Jombang Mengkhawatirkan: Sikap DLH Ambigu?
- Temuan Mikroplastik di Outlet Industri Sungai Brantas: Indonesia Royal Paper Jombang Catat Angka Tertinggi
- Bupati Warsubi Harus Tegur Kepala DLH Jombang
- Sungai Brantas Terancam Limbah PT Indonesia Royal Paper: Bupati Jombang Jangan Pura-pura Tidak Tahu
- Pola PSDA Brantas Diuji Limbah Cair PT Indonesia Royal Paper
- Negara Hadir untuk Siapa di Sungai Brantas?
- Penegakan Hukum Limbah Brantas Timpang, Posko Ijo Kirim Surat Pengaduan
- Warga Resah, Limbah Cair PT Indonesia Royal Paper Diduga Cemari Sungai Brantas
- Menakar Pengawasan Sungai Brantas di Era Industri
- Brantas di Persimpangan: Arah Pembangunan Jawa Timur dan Dugaan Pencemaran PT Indonesia Royal Paper
- Amblesan Delta Sungai Brantas, Ada Dugaan Limbah PT Indonesia Royal Paper?
- Di Balik UKL-UPL Indonesia Royal Paper, Ancaman Limbah Cair Sungai Brantas
- Pengelolaan Limbah Cair PT Indonesia Royal Paper Jombang, Dipertanyakan?