Lewati ke konten

Saling Tuding Limbah di Driyorejo: Industri Lepas Tangan, Kali Surabaya Terancam

| 5 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 26 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Observasi 3 dan 5 Agustus 2026 menemukan indikasi penurunan kualitas air kawasan industri Driyorejo, Gresik secara nyata.
  • Kawasan memuat puluhan pabrik dekat Sungai Surabaya, Kali Asin, dan Kali Tengah berpotensi memberi tekanan lingkungan.
  • Mahasiswa Universitas Brawijaya memetakan dua area industri dengan belasan perusahaan dalam satu bentang kawasan perairan bersama.
  • Warga menyebut perusahaan saling menuding sumber limbah, sementara investigasi pemerintah dinilai belum memberi kepastian publik jelas.
  • Penelusuran menyimpulkan identifikasi pencemar memerlukan uji laboratorium, pemetaan aliran, serta verifikasi instansi berwenang secara menyeluruh.

KAWASAN industri Driyorejo, Kabupaten Gresik, kerap menjadi sorotan. Apalagi setelah hasil observasi mahasiswa yang dilakukan dalam pekan ini. Dari hasil observasi menunjukkan indikasi penurunan kualitas air di sekitar Kali Surabaya, serta dua anak sungai yaitu, Kali Asin, dan Kali Tengah.

Temuan diperoleh dari dua kali observasi yang dilakukan dua kelompok mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya pada Senin dan Rabu, 3 dan 5 Agustus 2026.

Pengamatan yang dilakukan di sejumlah titik kawasan industri, termasuk area yang berdekatan dengan perusahaan kertas PT Surabaya Mekabox dan perusahaan keramik PT Langgeng Makmur Aluminium.

Selain observasi lapang, tim juga melakukan pengambilan sampel, serta wawancara dengan warga untuk melengkapi analisis kondisi lingkungan.

“Penurunan kualitas air di kawasan industri tidak bisa disimpulkan berasal dari satu perusahaan saja. Identifikasi sumber pencemar harus dilakukan melalui penelusuran ilmiah, analisis laboratorium, dan verifikasi oleh instansi berwenang,” ujar Marcellina Santoso, anggota tim observasi pertama pada Kamis, (6/8/2026).

Pemetaan kawasan industri Driyorejo menunjukkan puluhan pabrik terhubung sistem perairan Kali Asin, Kali Tengah, hingga Sungai Surabaya bersama. | Diolah TitikTerang.co.id

Karena, masih kata Celli, sapaan Marcellina Santoso, termasuk kawasan di Driyorejo ini, memiliki karakteristik berbeda. “Puluhan perusahaan berdiri berdekatan dalam satu bentang daerah aliran sungai. Anak sungai saling terhubung menuju Kali Surabaya, “ jelas Celli, yang akan mengakhiri masa magang di Ecoton, Sabtu, (8/8/2026) ini.

#Kata Warga Sekitar Perusahaan

Selain pengamatan lapangan, mahasiswa juga mewawancarai warga yang tinggal di sekitar kawasan industri. Dari keterangan warga, persoalan dugaan pencemaran telah berlangsung bertahun-tahun.

Seorang warga mengaku, sering mendengar perwakilan perusahaan saling menuding, ketika muncul perubahan kondisi air sungai.

“Biasanya kalau orang-orang perusahaan ketemu, ada yang bilang, ‘Ini limbah pabrikmu, ya?’ Lalu yang dituduh menjawab, ‘Bukan, itu pabrik sana.’ Sering ramai seperti itu,” ujar warga yang dikutip tim observasi.


Hasil uji dua kelompok mahasiswa menunjukkan kualitas air Muara Kali Tengah memprihatinkan dengan oksigen rendah, amonia, serta TDS tinggi. | Sumber Tim

Keterangan serupa juga muncul dalam observasi hari kedua yang dikoordinatori Zilva May Yiswa Sianipar. Berdasarkan wawancara lanjutan, warga membenarkan bahwa saling tuding antarperusahaan kerap terjadi setiap kali muncul dugaan pencemaran.

Namun, seperti hasil observasi pertama, warga tidak menyebut secara rinci perusahaan yang dimaksud. Mereka mengatakan, ketika persoalan terjadi, biasanya berlanjut dengan kedatangan instansi pemerintah melakukan pemeriksaan.

“Dari sini saya melihat, kalau dari DLH datang atau instansi apa gitu. Terus sepi,” demikian catatan hasil observasi lapangan yang ditulis tim pada Rabu.

Sayidina Allisyiah Khanza, anggota tim observasi kedua, melihat kondisi ini  memerlukan tindak lanjut yang lebih terbuka. Menurutnya, hasil penyelidikan pemerintah sebaiknya disampaikan kepada publik. Supaya memberikan kepastian mengenai sumber pencemar, apabila telah terbukti berdasarkan proses hukum dan ilmiah.

“Tentunya temuan ini sudah cukup untuk menjadi dasar pembuktian. Sebab, setiap industri memiliki karakteristik limbah berbeda Ketika mencemari sungai,” ujar Khanza.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Khanza menegaskan, penegakan aturan lingkungan memerlukan transparansi dan bukti laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan.“Uji ilmiah atau uji lab, saya rasa tidak bisa bohong, “ ucapnya.

Zilva May Yiswa Sianipar dan Kurniawan Trianggoro menguji sampel air di laboratorium untuk memverifikasi kualitas perairan kawasan Driyorejo. | Dok Tim

#Karakter Limbah Industri Berbeda

Selanjutnya, Alif Camelia Febian, anggota tim observasi pertama menjelaskan, setiap sektor industri memiliki karakter limbah berbeda. Perbedaan ini menjadi alasan tim, mengapa penelusuran sumber pencemar memerlukan pendekatan ilmiah.

“Industri keramik umumnya menghasilkan limbah cair yang sangat keruh, mengandung padatan tersuspensi tinggi, serta membawa unsur mineral seperti besi, aluminium, dan titanium. Ini sudah bisa menjadi bukti untuk diuji, “ ucapnya.

Limbah padat industri keramik, kata Amelia, panggilan Alif Camelia Febian, umumnya berupa pecahan keramik, sisa cetakan gips, serta lumpur glasir. Sementara emisi gas berasal dari proses pembakaran kiln yang menghasilkan karbon dioksida, sulfur oksida, dan nitrogen oksida.

“Setiap jenis industri itu memiliki karakteristik limbah yang berbeda. Pada industri kayu dan kertas, limbah cair umumnya berwarna pekat dengan kandungan BOD dan COD tinggi, disertai senyawa klorin serta lignin hasil proses pemutihan, maka perlu dianalisis spesifik sebelum menentukan sumber pencemar,” jelas Amelia.

Limbah padat industri tersebut berupa bubur serat, potongan kulit kayu, serta ampas kapur. Pada sisi lain, emisi gas dapat mengandung hidrogen sulfida dan gas pembakaran boiler yang memiliki bau menyengat.

Menurut tim mahasiswa, karakteristik limbah tersebut dapat menjadi petunjuk dalam proses identifikasi. “Namun, penetapan sumber pencemar tetap memerlukan pengujian laboratorium dan penelusuran jalur pembuangan limbah, “ tegas Amelia.

Marcellina Santoso melakukan pengujian kualitas air di Muara Kali Tengah, Driyorejo, untuk mendokumentasikan kondisi perairan di kawasan industri. | Foto: TIM

#Kawasan Industri Berbagi Satu Sistem Sungai

Hasil pemetaan menunjukkan PT Surabaya Mekabox berada pada koordinat (-7.35359, 112.657064). Lokasi tersebut diapit Kali Asin, Kali Tengah,  yang alirannya langsung ke Kali Surabaya.

Posisi geografis tersebut membuat seluruh aktivitas di kawasan memiliki keterkaitan langsung dengan sistem perairan yang mengalir menuju hilir.

Pada Area 1 terdapat sejumlah perusahaan, yakni PT Langgeng Makmur Aluminium, PT Langgengkarya Makmur Lestari, PT Woodtech, PT Sumber Hidup Makmur Sejahtera, PT Benteng Api Technic, serta PT Surabaya Mekabox.

Sementara Area 2 dihuni PT Indraco Global Indonesia, PT Keramik Diamond Industri, CV Garuda Multindo Makmur, serta PT Sumber Makmur Sejati Sejahtera.

Seluruh perusahaan tersebut berada dalam satu bentang kawasan yang terhubung melalui Kali Asin menuju Kali Tengah sebelum akhirnya bermuara ke Kali Surabaya.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *