- Dua mahasiswa Ilmu Kelautan ULM magang di ECOTON Gresik untuk meneliti pencemaran mikroplastik di pesisir Surabaya Utara, memperdalam teknik pengambilan sampel, dan melakukan analisis laboratorium.
- Ilham meneliti sedimen mangrove Tambak Wedi, sementara Disma mengkaji kerang bambu yang mengandung partikel mikroplastik berbahaya bagi rantai makanan perairan.
- Magang ini menumbuhkan disiplin baru bagi mahasiswa Kalimantan untuk membiasakan diri mengurangi sampah plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Supriyadi, jurnalis Titikterang.co.id
HAMPIR dua bulan Muhammad Ilham Agus Priyanto dan Disma Peranita meninggalkan Kalimantan. Bukan untuk pelesiran, tentunya. Dua mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini, menjejakkan kaki di Jawa Timur guna menimba ilmu di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) yang berbasis di Wringinanom, Gresik.
Sejak 25 September hingga 5 November 2026, keduanya aktif mengikuti program magang. Fokus mereka bukan pada teori kelas. Yang mereka lakukan adalah mendatangi langsung lokasi pencemaran mikroplastik di pesisir Surabaya Utara, mulai dari teknik pengambilan sampel, pengolahan bahan di laboratorium, hingga identifikasi partikel mikroskopis.
Bagi Ilham, kesempatan membedah mikroplastik secara langsung merupakan pengalaman paling berharga. Di kampusnya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, materi tentang remahan plastik ini, sebatas teori dalam mata kuliah pencemaran. Belum pernah ia menyentuh mikroskop, melihat bagaimana wujud mikroplastik di laboratorium.

“Untuk mikroplastik sendiri, kami sudah pernah mendengarnya, yaitu ketika mengambil mata kuliah pencemaran. Tetapi itu hanya sebatas teori. Praktik langsungnya baru kami dapatkan ketika magang di ECOTON ini,” ujar Ilham dalam perbincangan, Kamis (5/11/2026).
Senada dengan rekannya, Disma mengaku mendapat ruang cukup luas. Ia pun memahami karakteristik mikroplastik, melalui tahapan riset yang mendalam. Sehingga, apa yang diperolehnya di ECOTON bisa jadi akan ia jalani kelak di tanah kelahirannya.
“Mungkin kesan pertama saya ketika magang di Ecoton, kan anggapannya di sini mempunyai peraturan di mana kita diwajibkan, mengurangi sampah plastik,” ucap Disma.
“Yang mana kan ketika kami di Kalimantan itu kan belum, anggapannya itu belumlah. Tidak jadi perhatian gitu sih. Beli-beli aja, tidak ada untuk kepikiran mengurangi, maksudnya itu tuh teori aja gitu. Jarang kita praktikkan langsung,” jelas Disma.
Selama magang, keduanya membagi fokus penelitian yang berbeda. Ilham meneliti perbandingan kelimpahan dan karakteristik mikroplastik pada sedimen mangrove dan zona intertidal tanpa vegetasi mangrove di kawasan Tambak Wedi, Surabaya. Sementara itu, Disma memilih mengkaji kerang lorjuk atau kerang bambu yang hidup di wilayah pesisir yang sama.
“Yang mana kan ketika kami di Kalimantan itu kan belum, anggapannya itu belumlah. Tidak jadi perhatian gitu sih. Beli-beli aja, tidak ada untuk kepikiran mengurangi, maksudnya itu tuh teori aja gitu. Jarang kita praktikkan langsung.”

Belajar Menjerat Kerang Bambu
Tapi ada pengalaman unik yang dirasakan keduanya, saat mengambil sampel kerang bambu di bawah Jembatan Suramadu. Sebagai mahasiswa asal Kalimantan, berburu kerang jenis ini merupakan hal baru. Karena tidak umum ditemukan di daerah asalnya.
Disma menuturkan, proses pengambilan kerang bambu menuntut ketelitian tinggi. Peneliti harus jeli membaca tanda alam di permukaan sedimen.
“Awalnya kami harus mencari lubangnya terlebih dahulu. Setelah ditemukan, baru dimasukkan kapur sirih. Nanti kerangnya keluar sendiri,” jelas Disma menerangkan teknik yang baru ia pelajari di pesisir Surabaya Utara tersebut.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelProses itu memperkenalkannya secara langsung pada habitat kerang bambu yang menyukai substrat berlumpur dan berpasir, serta sangat bergantung pada ritme pasang surut air laut. Di kampung halamannya, warga lebih akrab dengan kerang darah dan kerang hijau yang mendominasi pasar tradisional.

Menemukan Partikel dalam Tubuh Kerang
Usai bergelut di lapangan, tahapan berat berikutnya menanti di laboratorium. Disma menjelaskan, sampel kerang harus melalui proses destruksi menggunakan larutan KOH, yaitu cairan basa kuat yang terbuat dari kalium hidroksida yang dilarutkan dalam air, atau sering disebut kalium kaustik. Senyawa kimia itu, untuk menghancurkan jaringan organik selama kurang lebih satu hari.
Karena daging kerang belum terurai sempurna, sampel kemudian melalui proses sentrifugasi guna memisahkan partikel berdasarkan densitas, dilanjutkan metode filtrasi vakum sebelum diamati di bawah mikroskop.
Dari ketelatenan tersebut, keduanya mendapati sejumlah partikel mikroplastik dalam tubuh kerang, mulai dari bentuk fragmen, fiber, hingga granula.
Temuan ini membuka mata mereka, bahwa krisis polusi plastik bukan hanya tak bisa dilihat mata, ketika di permukaan laut. Tapai telah menyusup ke dalam rantai makanan organisme perairan. Saat ini, hasil riset tersebut tengah memasuki tahap penyelesaian laporan akhir.
Di mana saat pengalaman magangnya ini ditulis, laporan atau jurnal mereka sedang masuk dalam tahap revisi tim Ecoton. Jadinya, keduanya belum bisa memastikan isi abstrak yang merupakan bagian penting dari penelitian mereka untuk diceritakan secara rinci.

“Di ECOTON, kami belajar mengurangi sampah plastik karena ada peraturan yang diterapkan. Akhirnya menjadi terbiasa. Kami berharap kebiasaan ini bisa dibawa ketika kembali ke daerah asal.”
Membawa Pulang Kebiasaan Baru
Magang di ECOTON tidak hanya memperkaya nalar akademis melalui bilik laboratorium dan riuhnya lapangan. Lebih dari itu, lingkungan kerja yang disiplin turut membentuk kebiasaan baru dalam membatasi penggunaan plastik sekali pakai.
Ilham mengakui, aturan ketat di lembaga konservasi tersebut, memaksanya beradaptasi secara cepat. Jika sebelumnya membeli minuman kemasan atau makanan berbungkus plastik adalah hal lumrah tanpa perlu berpikir dua kali, kini kebiasaan membawa wadah minum sendiri dan menolak kantong plastik telah melekat dalam kesehariannya. Kultur hidup minim sampah yang ia jalani di Gresik ini diakuinya masih menjadi hal asing dan jarang mendapat perhatian serius di daerah asalnya.
“Di ECOTON, kami belajar mengurangi sampah plastik karena ada peraturan yang diterapkan. Akhirnya menjadi terbiasa. Kami berharap kebiasaan ini bisa dibawa ketika kembali ke daerah asal,” pungkasnya.***

Profil Singkat
Muhammad Ilham Agus Priyanto
• Tempat Lahir: Martapura, 05 Agustus 2005
• Status / Aktivitas Saat Ini: Mahasiswa
• Riwayat Pendidikan:
SD : MI Hidayatul Martapura
SMP : MTsN 6 Banjar
SMA : MAN 4 Banjar
S1 : Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan ilmu kelautan, Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru
Profil Singkat
Disma Peranita
• Tempat Lahir: Kotabaru, 26 Februari 2005
• Status / Aktivitas Saat Ini: Mahasiswa
• Riwayat Pendidikan:
SD : SDN 2 Serongga
SMP : MTsN 1 Kotabaru
SMA : MAS Darul Azhar
S1 : Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru